Bisnis

Rizal Ramli: Bandara Soeta Paling Menguntungkan, Kok Malah Mau Dijual?

Oleh : very - Senin, 13/11/2017 10:53 WIB

Ekonom Senior Rizal Ramli (istimewa)

Jakarta, INDONEWS.ID - Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo Rizal Ramli kembali mengeluarkan pernyataan keras. Hal itu terkait rencana pemerintah menjual Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soeta).

Padahal, bandara tersebut dinilainya paling menguntungkan, dan karena itu tidak pantas dijual. Ekonom senior ini mengatakan tidak mengerti cara berpikir pemerintah yang hendak menjual bandara kebanggaan Indonesia tersebut.

“Soekarno-Hatta adalah bandara paling menguntungkan, paling cash-rich. Kok malah mau dijual. Ini cara berfikir keblinger dan konyol,” ujarnya melalui pesan pribadi di Jakarta, Minggu (12/11/2017).

Rizal mengatakan, rencana penjualan Bandara Internasional Sokearno-Hatta memang sempat tercetus pada tahun 2002, di era Presiden Megawati Soekarno Putri. Namun, karena dirinya menentang rencana tersebut, akhirnya pemerintah memutuskan menunda.

“Setelah bicara dengan keluarga Hatta (Wapres pertama RI), saya umumkan dan jadi  headline-headline koran: ‘Silakan jual bagian Soekarno saja, bagian Hatta jangan!’. Akhirnya pemerintah membatalkan rencana penjualan bandara Siekarno-Hatta tersebut,” kata Rizal Ramli mengenang.

Namun, saat ini, rencana penjualan Bandara Soeta itu kembali mengemuka. Walau kemudian, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi buru-buru mengatakan bahwa pemerintah “tidak berencana menjual Bandara Soeta”.

Rizal Ramli mengatakan, dirinya khawatir lantaran wacana melego Bandara Soetta kembali menyeruak di era pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

Bandara Soetta, katanya, akan dijadikan pilot project yang ideal untuk penerapan skema Limited Concession Scheme (LCS) pertama di Indonesia. Skema ini telah dibahas Kemenko Perekonomian dengan Kementerian Perhubungan.

Sebelumnya, Ketua Tim Pelaksana Koordinasi Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) Kemenko Perekonomian Wahyu Utomo mengatakan pemerintah akan menggunakan skema Limited Concession Scheme (LCS), dengan membuka peluang bagi swasta untuk sama-sama menggarap proyek infrastruktur.

Menurutnya, Bandara Internasional Soekarno-Hatta bisa menjadi pilot project yang ideal untuk penerapan LCS pertama di Indonesia. Untuk itu, pihaknya telah berbicara dengan Kementerian Perhubungan untuk mengkaji skema tersebut.

"Kalau dibanding negara lain, pendapatan per kapita masih rendah. Ini ada ruang untuk diimprove, karena ini yang besar. Kalau dikerjasamakan dengan swasta pasti uangnya besar. Hanya Kemenhub minta kaji dulu yang lain, ini kita kaji dan sampaikan ke Menhub. Ini kan hal baru, kita sangat percaya diri," kata Wahyu di Jakarta, Kamis (17/11).

Menurut Airport Council International (ACI), Bandara Soekarno-Hatta merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia. Sehingga, diperlukan modal investasi yang signifikan untuk mengembangkan runway 3 dan renovasi terminal 1 dan 2.

"Bandara Soekarno-Hatta masih tertinggal di antara pesaing regional dalam hal pendapatan per penumpang terlepas dari jumlah penumpang yang hampir sama. Salah satunya tertinggal dalam margin operasional," imbuhnya.

Dia meyakini, dengan diterapkannya skema ini akan ada banyak operator tingkat dunia yang mampu mengembangkan rute baru dan meningkatkan pelayanan sesuai dengan standar bandara yang berada pada urutan atas. (Very)

 

 

Artikel Terkait