Indonesia Kecam Rencana Guatemala Pindahkan Kedutaan ke Yerusalem

Oleh : very - Rabu, 27/12/2017 00:18 WIB

Menlu Retno Marsudi bertemu dengan Menlu Palestina Riad Malki, di Amman, Yordania, Senin (11/12) malam pukul 21.15 waktu setempat atau sekitar pukul 02.15 WIB. (Foto: Setkab.go.id)

Jakarta, INDONEWS.ID - Pemerintah Indonesia mengecam keputusan Guatemala yang berencana memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem mengikuti langkah Presiden AS Donald Trump, yang mengakui kota suci tersebut sebagai ibu kota Israel.

"Indonesia mengecam keputusan Guatemala yang berencana memindahkan kedutaannya di Israel ke Yerusalem," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri RI pada Selasa Malam (26/12/2017) melalui akun resminya di Twitter.

Keputusan tersebut dianggap tidak sesuai dengan hukum internasional mengenai status Yerusalem. 

Lebih lanjut, Kemlu RI menyatakan bahwa mempertahankan kesepakatan internasional terkait status quo Yerusalem adalah penting bagi tercapainya solusi dua negara dalam konflik Palestina-Israel.

Seperti diberitakan, Presiden Guatemala Jimmy Morales pada Minggu mengatakan telah memberikan instruksi untuk memindahkan kedutaannya di Israel ke Yerusalem, beberapa hari setelah pemerintahnya mendukung Amerika Serikat mengenai status kota tersebut.

Reuters melaporkan bahwa dalam sebuah kiriman singkat di akun Facebook resminya, Morales mengatakan bahwa dia memutuskan memindahkan kedutaannya tersebut dari Tel Aviv setelah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Minggu.

Bulan ini, Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, menentang kebijakan AS selama beberapa dekade. Keputusan tersebut membuat kemarahan dunia Arab serta sekutu Barat.

Status Yerusalem merupakan salah satu halangan paling sulit untuk mencapai kesepakatan damai antara Israel dan Palestina, yang menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota mereka.

Masyarakat internasional tidak mengakui kedaulatan Israel atas seluruh kota tersebut, yang merupakan tempat suci bagi umat Islam, Yahudi dan Kristen.

Pada Kamis lalu, 128 negara menentang Trump dengan mendukung resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tidak mengikat, yang meminta AS untuk menolak pengakuannya terhadap Yerusalem.

Guatemala dan negara tetangganya, Honduras, adalah dua dari segelintir negara yang bergabung dengan AS dan Israel yang memberikan suara untuk menentang resolusi tersebut di Yerusalem.

AS merupakan sumber bantuan penting bagi Guatemala dan Honduras, dan Trump telah mengancam akan memotong bantuan keuangan ke negara-negara yang mendukung resolusi PBB. (Very)

Artikel Terkait