Budaya

Kunjungi Klenteng, Rizal Ramli Bicara Tentang Kekuatan Perbedaan

Oleh : very - Jum'at, 02/03/2018 22:38 WIB

Rizal Ramli, saat berkunjung ke Klenteng Tjoe Tik Kiong Pasuruan, Gadingrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (17/2/2018). (Foto: Ist)

 

Pasuruan, INDONEWS.ID- Awal 2018 ini menjadi tahun muram bagi kehidupan beragama di Tanah Air. Tahun yang dibaptis sebagai tahun politik ini terjadi justru marak terjadi peristiwa penyerangan terhadap para ulama dan gereja.

Sedikitnya ada empat serangan terhadap ulama dan ustaz. Serangan pertama menimpa Pengasuh Pondok Pesantren al-Hiadayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Emon Umar Basyri, Sabtu (27/1/2018).

Serangan kedua terjadi pada 1 Februari 2018 dengan korban Ustaz Prawoto, Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis). Prawoto meninggal dunia oleh serangan yang dilakukan oknum tetangga yang diduga alami gangguan kejiwaan. Kemudian ada serangan terhadap seorang santri dari Pesantren Al-Futuhat Garut oleh enam orang tak dikenal. Ada juga seorang pria yang bermasalah dengan kejiwaannya bersembunyi di atas Masjid At Tawakkal Kota Bandung mengacung-acungkan pisau.

Sementara pada Minggu (11/2/2018), pendeta dan jemaat Gereja Santa Lidwina, Kabupaten Sleman, DIY, diserang. Empat jemaat luka-luka dan pendeta yang memimpin ibadah pun terluka akibat serangan menggunakan pedang. Di sini ada semacam pola yang sama dengan target yang sama untuk mengganggu kehidupan beragama di Indonesia.

Menyikapi peristiwa tersebut, Mantan Menko Perekonomian, yang juga pengikut Gus Dur, Rizal Ramli, ikut bicara. Dia mengatakan, serangan tersebut jelas tidak mencerminkan budaya bangsa.

“Itu (penyerangan) bukan (karakter) bangsa kita. Kita sudah biasa kok beda agama, beda suku. Jangan sampai kita diadu,”  kata Bang RR, panggilan akrab Rizal Ramli, saat berkunjung ke Klenteng Tjoe Tik Kiong Pasuruan, Gadingrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (17/2/2018).

Seperti dikutip Siagaindonesia.com, kedatangan Rizal Ramli disambut hangat Ketua 3 Klenteng Tjoe Tik Kiong Teguh Hidayat bersama beberapa pengurus lainnya.

Mantan Menko Kemaritiman ini mengatakan, perbedaan beragama seharusnya bukan menjadi hambatan, tapi justru menjadi modal kuat bagi kemajuan bangsa. Indonesia mesti memberi contoh meski bisa berbeda beda tetapi satu Indonesia. Perbedaan sepantasnya menjadi sumber kekuatan, dan perbedaan membuat bangsa Indonesia harus saling melengkapi.

“Kita sudah biasa kok beda agama beda suku, tidak masalah, malah jadi kekuatan. Perbedaaan itu kekuatan,” terang pria yang namanya disebut survei KedaiKopi sebagai figur yang mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019.

Karena itu, RR menghimbau agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu yang dihembuskan pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Apalagi saat ini tensi politik Indonesia sedang meningkat jelang Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019.

Dia mengatakan, peran pemuka pemuka agama sangat penting untuk meredam peristiwa agar tidak berkembang dan menimbulkan konflik horizontal. (Very)

 

Artikel Terkait