Budaya

Setuponan di Pura Mangkunegaran

Oleh : indonews - Rabu, 02/05/2018 18:07 WIB

Penari Solo. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Pura Mangkunegaran Solo memiliki agenda rutin bulanan bernama Setuponan. Sebuah acara pagelaran tari yang diselenggarakan setiap 35 hari sekali, di Pendopo Prangwedanan Puro Mangkunegaran Surakarta.

Acara yang diprakarsai oleh Kraton Pura Mangkunegaran Solo ini sebagai peringatan hari lahirnya KGPAA Mangkunegara IX, yang jatuh pada hari Sabtu Pon. Digelar setiap bulan selama satu tahun penuh, dan hanya pada bulan Ramadhan saja pagelarana tari ini diliburkan.

Pagelaran tari ini merupakan bagian dari upaya melestarikan seni dan budaya Indonesia, khususnya seni tari. Itu sebabnya, tarian yang ditampilkan pun tidak sebatas tari Klasik Jawa saja, tetapi ada pula tari-tarian dari berbagai daerah lain di Indonesia.

Pagelaran Tari Setuponan di Pura Mangkunegaran Solo ini telah diselenggarakan kali ke 45. Biasanya diikuti oleh sanggar-sanggar tari atau sekolah-sekolah tari yang ada  di Kota Solo, juga masyarakat umum. Dan tentu saja para mahasiswa dan mahasiswi dari Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Solo – yang terbagi ke dalam empat program studi, yaitu pedalangan, tari, teater, seni pertunjukan dan kontemporer. Acara yang dimulai pada pukul 19.00 WIB ini disaksikan oleh puluhan kerabat, tamu-tamu lokal hingga wisatawan asing dari mancanegara.

Kali ini, Setuponan yang jatuh pada hari Sabtu (28/4/2018) selain menampilkan tarian klasik Jawa seperti tari Gambyong dan Langendriyan “Damar Wulan Kantaka”, juga menampilkan tari Bidadari Timur, tari Sajojo, juga Tari Indonesia Jaya khas “Swara Mahardhika” milik Guruh Soekarno Putra, yang pernah populer pada era 80-an. Dengan kostumnya yang extravaganza membuat penonton paruh baya seolah dibawa kembali ke masa muda.  Sungguh, Pura Mangkunegaran malam itu sangat rasa Indonesia – tak hanya rasa Jawa. (oleh: Naeema herawati).

 

Artikel Terkait