Budaya

Peran Ibu dan Perempuan adalah Benteng Utama Menangkal Radikalisme

Oleh : very - Selasa, 15/05/2018 09:07 WIB

Ketua Indonesia Child Protection Watch, Erlinda. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Aksi teror bom yang terjadi di Kota Surabaya menjadi keresahan masyarakat Indonesia dan Internasional. Fenomena yang mengejutkan adalah pelibatan keluarga, perempuan dan anak dalam aksi sadis tersebut. 

Oleh karena itu Indonesia Child Protection Watch dan Pemerhati anak, yang didalamnya akan dilibatkan Kemsos, Kementerian PP dan PA, KPAI, P2TP2A dan praktisi Psikolog akan memberikan penguatan pada Polri, melakukan pendekatan pada pelaku anak yang dilibatkan pada aksi terorisme oleh orantua mereka. Anak-anak tersebut merupakan korban dari orangtua dan lingkungan.

Ketua Indonesia Child Protection Watch, Erlinda mengatakan, ICPW dan Pemerhati Anak akan melakukan analisa dan profiling terhadap fenomena pelibatan perempuan, anak dan keluarga yang hasil analisa akan diberikan pada Pemerintah dan lembaga terkait sebagai rekomendasi untuk pencegahan dan deteksi dini pada Aksi Teror yang dilakukan oleh Terorisme yang sangat teroganisir baik di Indonesia dan Internasional.

“Dugaan adanya regenerasi dan pengkaderan oleh kelompok radikalisme menjadi warning dan awarness pada seluruh elemen bangsa karena akan mengancam stabilitas, ideologi dan keutuhan NKRI. Semua pihak segera berupaya untuk meredam aksi teror agar tidak menjadi pemicu konflik seperti sosial, ekonomi, dan dijadikan alat pemecah belah persatuan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Karena itu, ICPW memberikan saran pada pemerintah untuk pendampingan dari pemerintah pusat dan daerah kepada para warga yang di deportasi pada negara negara yang diduga pendukung ISIS, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Mereka dideportasi dan ditempatkan sementara pada shelter Kemsos.

“Sebaikanya warga yang dideportasi dari negara konflik ISIS dilakukan pendampingan untuk di-Reradikalisasi serta diberikan penguatan ekonomi, sosial dan spritual, termasuk wajib lapor pada Polisi. Ini semua dilakukan pada aspek pencegahan,” ujarnya.

Erlinda mengatakan, dari aspek psikologi, anak sangat mudah dilibatkan termasuk aksi terorisme karena beberapa hal, di antaranya, orangtua mempunyai peran penting dalam fase pembentukan karakter anak dan pola pikir anak dipengaruhi oleh orang terdekat terutama orangtua.

Demikian juga, perempuan dilibatkan dalam aksi sadis terorisme karena berdasarkan teori sosial kognitif Albert Bandura (Psikolog), bahwa ada hubungan antara Pribadi, Lingkungan dan Tingkah Laku saling mempengaruhi. Pada saat diikat perkawinan perempuan sangat mudah dipengaruhi disebabkan faktor “taat” pada suami.

Oleh karena itu, kata Erlinda, semua elemen bangsa bersatu melawan teroris dan paham radikalisme untuk menyelamatkan Indonesia. “Keberhasilan pencegahan terorisme tidak hanya pada level kebijakan pemerintah, penegakan hukum pada tindak pidana, tetapi dikuatkan pada aspek pencegahan yakni penguatan ketahanan keluarga serta program rehabilitasi pada keluarga yang terkontaminasi pada paham radikal,” kata Erlinda.

Benteng utama penangkalan paham radikal terorisme adalah peran ibu dan perempuan dalam keluarga. “Karena itulah, peran perempuan sangat strategis dalam edukasi dan literasi terhadap keluarga khususnya anak-anak agar terhindar dari paham kekerasan dan terorisme,” pungkasnya. (Very)

 

Artikel Terkait