Nasional

Sejumlah Rintangan Kesepakatan Trump-Jong Un

Oleh : very - Rabu, 13/06/2018 12:06 WIB

Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un di Singapura. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Presiden Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un telah membuat Joint Statement yang terdiri dari empat poin dalam pertemuannya di Singapura.

Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana menjelaskan, sebagaimana telah diduga statement tersebut masih bersifat umum dan kedua pemimpin sepakat untuk menindak-lanjuti secara teknis. Menlu Michael Pompeo dan pejabat tinggi dari Korut akan segera melakukan pembicaraan.

“Masyarakat internasional perlu bersyukur pertemuan Trump-Kim berjalan positif dan memberi suatu harapan bagi perdamian abadi di semenanjung Korea. Hanya saja dunia tidak seharusnya larut dalam kegembiraan,” ujarnya melalui siaran pers, di Jakarta, Rabu (13/6/2018). 

Hikmahanto mengatakan, masih ada sejumlah langkah yang harus dilakukan agar denuklirisasi di Korut terwujud dan bukannya tidak mungkin berbagai rintangan harus dihadapi.

Rintangan pertama adalah berkaitan dengan perilaku Donald Trump. Ini mengingat pasca pertemuan Trump merasa dirinya keluar sebagai pemenang perang. 

“Perilaku seperti ini akan memprovokasi Kim Jong Un, bahkan rakyat Korut, untuk bereaksi negatif dan berdampak pada perundingan teknis,” ujarnya.

Kedua, kata Hikmahanto, dunia perlu memperhatikan situasi politik dalam negeri di Korut. Bila ada loyalis orang tua dan kakek Kim Jong Un yang kecewa dengan hasil pertemuan, menjadi pertanyaan apakah mereka tidak akan melakukan kudeta atas kepemimpinan Kim Jong Un. Bila kudeta terjadi lagi-lagi ini akan berdampak pada pertemuan teknis.

Selanjutnya, yang menjadi tantangan adalah apa rumusan-rumusan teknis sebagai tindak lanjut dari kesepakatanTrump dan Kim. 

Semisal program denuklirisasi Korut apakah akan disertai dengan penarikan mundur tentara AS di Korea Selatan, bahkan Jepang. 

Demikian pula, kata Hikmahanto, apakah kelanjutan dinasti Kim akan dijamin keberlanjutannya di Korut seiring dengan lebih sejahteranya rakyat Korut, terwujudnya demokratisasi dan penghormatan terhadap HAM. 

Dalam kaitan ini apakah AS dapat menahan diri untuk tidak terlibat dalam penjatuhan rejim Kim.

“Kekhawatiran ini menilik dari pengalaman sejumlah negara di Timur Tengah dimana AS berada dibelakang pemberontak yang ingin menjatuhkan pemimpin yang otoriter, mulai dari Saddam Hussein hingga Muamar Gaddafi,” ujar Hikmahanto.

Tentu masih banyak lagi isu-isu yang menjadi tantangan bagi tim teknis untuk dapat dirumuskan. “Intinya tim teknis akan menghadapi situasi dimana ‘Setannya berada pada isu teknis (the Devil is on the Details)’,” pungkasnya. (Very)

 

Artikel Terkait