Muhammad Yamin: PDI Perjuangan Tetap Kuat, Jokowi Menang Telak di Pilpres 2019

Oleh : very - Senin, 02/07/2018 12:32 WIB

Muhammad Yamin, SH Ketua Umum DPN Seknas Jokowi. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Tak lama setelah hasil quick count (hitung cepat) Pilkada serentak 2018 tayang di beberapa stasiun televisi, muncullah berbagai analisis tentang pergeseran peta kekuatan politik di Indonesia. Yang paling sering muncul di media sosial, juga media massa, adalah analisis yang disertai tabulasi pencapaian partai-partai politik dalam pilkada.

Misalnya, disebutkan bahwa Partai Nasdem merupakan partai yang paling banyak memenangkan pasangan calon gubernur/wakil gubernur. Sedangkan PDI Perjuangan digambarkan sebagai partai yang kadernya mengalami banyak kekalahan - yang disorot terutama di Jawa Timur dan Sumatra Utara.

“Tapi, ada yang keliru dalam analisis itu. Pertama-tama harus dikatakan bahwa analisis berdasarkan tabulasi seperti itu tidak menggambarkan secara tepat realitas politik sebenarnya. Soal ‘kemenangan’ Partai Nasdem itu sejatinya tidaklah sedahsyat itu. Itu hanya ‘kemenangan administratif’, bukan kemenangan politis,” ujar Ketua Umum DPN Seknas Jokowi, Muhammad Yamin, di Jakarta, Senin (2/7/2018).

Maksudnya, kata M. Yamin, klaim Partai Nasdem menang di 11 provinsi lebih banyak karena ikut mengusung. Adapun kader Nasdem yang menang dalam pertarungan pilgub 2018 ini hanya 3 orang. Golkar malah cuma 1 orang. 

“Bandingkan dengan PDI Perjuangan yang justru sukses mengantarkan 4 kadernya sebagai Gubernur, 3 Wakil Gubernur, serta 33 bupati/walikota dan 38 wakil Bupati/wakil walikota,” katanya. 

Jadi, menurut Yamin, ukuran kemenangan politis dalam pertarungan pilkada mestinya adalah kader partai yang terpilih, bukan sekadar ikut mengusung. 

Tapi, yang lebih penting daripada tabulasi kemenangan diatas, justru adalah realitas politik bahwa partai banteng masih berjaya dalam berbagai survei-survei politik mutakhir.

“Perolehan suara PDI Perjuangan dalam pemilihan legislatif 2019 mendatang diperkirakan berkisar 25% sampai 30 % dari keseluruhan pemilih. Ini artinya kekuatan partai banteng masih sangat diperhitungkan dalam pentas politik nasional. Tidak seperti yang dikatakan para pollster bahwa pengaruh PDI Perjuangan sudah menurun,” ujarnya. 

Dalam pilkada serentak kali ini, partai banteng mengalami kekalahan di beberapa wilayah strategis tentu memang harus diakui. Banyak faktor yang terkait dengan kekalahan tersebut. Menurut Yamin, itulah yang harus menjadi pembelajaran bagi para pemimpin PDI Perjuangan untuk berbenah sesegera mungkin.

Satu hal lagi, hasil pilkada serentak 2018 ini juga mengkomfirmasi bahwa pengaruh Presiden Joko Widodo makin menguat menjelang Pemilihan Presiden tahun depan. Hal itu terlihat dari para calon yang memenangkan pilkada di wilayah strategis dengan segera menyatakan dukungannya kepada Jokowi, seperti Ridwan Kamil di Jawa Barat dan Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur. 

“Kesimpulannya, berbeda dengan analisis tabulasi para pollster dan pengamat politik, saya berani menyatakan bahwa hasil pilkada serentak 2018 menggambarkan bahwa: posisi politik PDI Perjuangan tetap kuat, dan Presiden Jokowi akan menang telak dalam Pilpres 2019,” pungkasnya. (Very)

 

Artikel Terkait