Budaya

Sukacita Natal Bagi Penghuni Panti Werdha Melania, Tangerang

Oleh : very - Senin, 17/12/2018 11:55 WIB

Pengurus ISKA mengunjungi penghuni di Panti Werdha Melania, di Jl. Pahlawan No.4, RT.1/RW.13, Rempoa, Kota Tangerang Selatan, Minggu (16/12/2018). (Foto: Ist)

Tagerang, INDONEWS.ID -- Suasana di Panti Werdha Melania, di Jl. Pahlawan No.4, RT.1/RW.13, Rempoa, Kota Tangerang Selatan, hari ini, Minggu (16/12/2018) tampak lebih ceriah. Kasih dan sukacita terpancar dari wajah para penghuni panti yang berusia sekitar 70 tahun itu.

Ya, pasalnya, mereka hari ini mendapat kunjungan dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) dan Dewan Pengurus Daerah se-Jabadetabek (DPD) Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), yang hendak berbagi damai dan sukacita Natal.

“Kami ingin berbagi kasih dan senang dengan oma dan opa di sini. Kami hendak berbagi kasih dan sukacita Natal. Natal memang harus bersukacita, bukan kesedihan,” ujar Ketua Presidium Pusat ISKA Hargo Mandiraharjo, di lokasi acara, Minggu (15/12).

Menurut Hargo, DPP dan DPD ISKA tidak membawa apa-apa dalam kunjungan tersebut. “Hanya cinta dan sukacita yang kami bawa,” ujarnya.

Memang, sejatinya Natal membawa kedamaian dan sukacita bagi umat manusia di muka bumi. Yesus Kristus datang ke dunia untuk menebus dosa manusia. Karena itu, peringatan Kristus yang lahir itu harus disambut dengan sukacita dan penuh kedamaian.

Ria Yusgiantoro, mewakili sang suami Lucky Yusgiantoro, selaku Ketua Panitia mengatakan berterima kasih atas penerimaan yang hangat dari para penghuni panti jompo tersebut. “Semoga oma dan opa di sini senang dengan ISKA,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam kata sambutan penerimaan, Ambar Ginting menyampaikan selamat datang kepada rekan-rekan ISKA. Dengan mata berkaca-kaca, dia mengucapkan terima kasihnya karena masih diingat melalui kunjungan tersebut.

Menurut Ambar, staf dan karyawan di panti itu berjumlah 20 orang, yang bekerja dengan penuh semangat pengabdian. “Sukanya yaitu kami merasa oma dan opa di sini seperti keluarga kami sendiri. Sedangkan dukanya, kalau ada barang yang hilang, opa dan oma menuduh kami yang mengambilnya. Padahal barang tersebut tidak hilang tapi salah disimpan di lemari,” ujar salah satu karyawan di situ.

Penghuni panti tersebut, kata  Ambar, berjumlah 36 orang, yang terdiri dari 35 perempuan (oma) dan seorang laki-laki (opa). “Penghuni yang paling muda berusia 67 tahun, sedangkan yang tertua berusia 100 tahun 10 bulan,” ujarnya.

Usia tidak menutup kesempatan para oma dan opa tersebut untuk berbagi cinta dan kegembiraan kepada sesama. Mereka masih bisa memberi keceriaan terhadap para tamu dari ISKA.

Oma Tuti misalnya, membacakan pantun, dan menunjukkan kelihaiannya menyanyikan lagu mandarin. “Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi. Kalau ada umurku panjang boleh kita berjumpa lagi,” ujarnya.

Setiap tahun menjelang Natal, ISKA memang selalu menyisihkan waktu untuk berkunjung ke panti-panti jompo. Kalau ada umur yang panjang, kita boleh berjumpa lagi di tahun depan. (Very)

 

Artikel Terkait