Nasional

Bung Karno Bang Ali 1966 VS Jokowi Anies 2019

Oleh : hendro - Jum'at, 11/01/2019 21:55 WIB

Pengamat sosial dan politik Christanto Wibisono

Jakarta, INDONEWS.ID - Kemarin Rabu 9 Januari 2019 Presiden Jokowi becandaan dengan Gubernur Anies Baswedan mencairkan suasana panas pilpres dengan santai ala capres fiktif Dildo yang sekarang menjadi trending topik di sosial media dan diorbitkan harian Kompas ½ halaman sebagai fenomena unik karena berpotensi mengalahkan paslon 02 dan mengimbangi popularitas petahana 01.  

Saya dan Bung Karno sebetulnya sedang sibuk menyelesaikan editing final Anti Memoirs sejarah ekonomi politik bisnis Indonesia. 


CW: Maaf pak, kita sudah tulis di awal tahun 1 Januari bahwa tiap hari  kita akan muncul membahas situasi mutakhir yang tinggal kurang dari 100 hari lagi.  Jadi mesti kerja keras tiap hari agar tidak menyesal kalau nanti 17 April 2019 mendadak mimpi buruk 19 April 2017 terulang lagi.


BK: Ya sejak hari Minggu 6 Januari itu kan sudah hari ke 101 kita absen karena disibukkan oleh bermacam perkembangan yang setiap detik berubah sampai Senin, Selaaa, Rabu dan sekarang ini Kamis 10 Januari baru kita bisa diskusi sudah ketinggalan 5 hari sejak countdown 102 hari ini tinggal 97 hari menuju Pilpres. Saya sampai lupa 46 tahun PDIP karena yang saya ingat ya 4 Juli 1927 hari lahirnya PNI,  karena itu kita jadi lupa bahwa yang mengukuhkan PDI itu kan Soeharto- Ali Murtopo pasca pemilu 1971 yang dimenangkan mutlak oleh Golkar dan PNI hanya kebagian 20 kursi. Situasi Januari 2019 sekarang ini mirip Januari 1966. Saya di demo Angkatan 66 sejak 10 Januari 1966 yang menuntut reshuffle kabinet, penurunan harga dan pembubaran PKI. Saya malah terpancing merombak kabinet 21 Februari dengan memecat Menko Hankam/KASAB Jendral Nasution yang direspon dengan demo people power orang Jakarta melayat jenazah Arief Rahman Hakim yang tertembak pada hari pelantikan kabinet 24 Februari dalam prosesi pemakaman jenazah yang memenuhijalan Thamrin Sudirman Senopati sampai  Blok P.  Tanggal 25 saya membubarkan KAMI  yang kemudian tahun 1967 bubar sendiri karena “oknum ormas mahasiswa” Makassar membakar gereja, yang pertama dalam sejarah Republik Indonesia merdeka.  Sejarah kemudian mencatat saya memberikan Supersemar yang persis keris Empu Gandring, ternyata  ditikamkan sendiri kepada pembuatnya oleh  si penerima keris. Tanggal 12 Maret keris itu dipakai membubarkan PKI terus tanggal 18 Maret dipakai untuk mehanan 15 menteri dan memaksa saya melakukan reshuffle kabinet pada 28 Maret 1966. Kabine tyang yang reshuffle 24 Februari Cuma berumur 31 hari dan saya membentuk Kabinet Dwikora 33 menurunkan jumlah menteri dan separuh menteri turun pangkat jadi deputy menteri . Termasuk yang turun pangkat adalah mantan Menko Maritim Mayjen KKO Ali Sadikin jadi Deputy Menteri. Karena itu sebulan kemudian, saya melantiknya jadi Gubernur DKI 28 April 1966. 

Loading...

CW: Wah itu nostalgia masa lalu apa relevan dengan situasi 53 tahun sekarang ini.

BK: Nah ini misterius di tingkat Nasional komandan Kko Letjen Hartono pidato hitam kata Bung Karno hitam kata Kko Putih kata Bung Karno putih kata Kko. Tapi ditingkat DKI, Harian KAMI berkoalisi dengan Gubernur Ali Sadikin membuka casino karena tidak ada APBN maupun APBD yang bisa dipakai membangun SD utk 600.ribu anak usia sekoleh. Daripada berdosa seperti itu lebih baik Gubenur memajaki casino dan hasilnya anak bisa sekolah, malah surplus bisa untuk perbaikan kampung dan membangun Taman Ismail Marzuki termasuk Yayasan Jaya Raya yang bisa investasi dimajalah Tempo. Ali Sadikin akan jadi Gubernur 2 periode sampai berhenti 1977 karena sudah terlalupopuler dan Soeharto sedang menghadapi demo mahasiswa menuntut pembatasan masa jabatan presiden 2 termin saja. Jadi Soehart o harus turun 1978, maka 1977 itu Ali Sadikin tidak dikasih jabatan apapun bahkan untuk jadi Ketua PSSI juga hanya sementara terus diambil alih oleh Sesdalopbang Bardosono dengan istilah vulgar  Sepakbola Pancasila.

CW: Ya apa hubungannya dengan situasi 2019.

BK: Di tingkat pusat Soeharto bermain perang kembang, lemah lembut melata, merayap dengan kudeta halus dari SU IV MPRS Juli 1966,  Sidang Istimewa MPRS Maret 1967 dan SU V MPRS 1968 sehingga Soeharto full jadi presiden 1968. Terus mengadakan pemilu rutin 5 tahunan dimana hasilnya sudah pasti dia lagi yang menang dan diangkat lagi sampai 7 kali. 

CW: Tetap sulit melihat relevansi membahas lagi disini.

BK: Jokowi melejit jadi presiden itu kebalikan dari Soeharto. Dinasti Soeharto tetap punya potensi fulus dan ex kloning kroni yang berambisi mempertahankan status mereka sbg bagian the ruling elite melalui pelbagai wadah partai formal yang mereka dirikan . Jokowi ini ibarat partai Kaypang dalam cerita silat Chin Yung yang tidak terkooptasi oleh dinasti KKN. Masa lalu dwifungsi dan derivative Golkarnya. Dia bisa melejit dengan modal populisme konkret yang mendeliver keperluan rakyat persis seperti ketika Ali Sadikin membangun Jakarta dengan trobosan casino dan kreativitas model MHT dan TIM. Selama 30 tahun 1977-2007 pasca Ali Sadikin maka baru Jokowi A Hok yang melalukan trobosan membangun MRT yang telat 6 gubernur (Tjokropranolo, Suprapto, Wiyoga, Suryadi Sudirja, Sutiyoso, Foke).  Kalau Soeharto kudeta merayap dari Supersemar 1966-1968, maka Jokowi ibarat Azrael malaikat pencabut nyawa, langsung mengakhiri rezim KKN ex dinasti penerus model Orba juga hanya dalam dua tahun. 2012 masih di Balaikota Solo, terus ke Balai Kota Merdeka Selatan lalu 2014 langsung ke Istana Merdeka Utara.  Nah Anies Baswedan dengan kuda tunggangan “anti penista agama” dan karena itu sekarang menyerobot memberi nama MRT dengan nama Rattangga juga merasa dapat wangsit dalam2 bulan dari menteri yang dipecat, langsung bisa ikut jadi cagub dan mengalahkan A Hok pada 19 April 2017. Jadi semua dinamika algoritma big data ini menjadi obsesi dan persepsi para elite pelaku termasuk Anies Baswedan sadar memanfaatkan posisinya. Nah Jokowi kemarin melakukan manuver ramah tamah becandaan dengan Gubernur Anies Baswedan dengan harapan nanti pilpres 17 April 2019 Anies berpihak kepada petahana. Sebab bagi Anies, kalau Prabowo menang, justru Sandi yang akan favorit untuk menang di pilpres 2024 apalagi kalau sudah jadi Wapres. Karena itu Anies tentu lebih senang Jokowi Maruf menang dan 2024 Gubernur DKI akan jadi kandidat kuat presiden ke-8 RI.

CW: Wah saya agak mumet dengan cara berpikir yang begitu otak atik gatuk, padahal kan tidak semua linear danpersis berulang sejarah pasti ada variasinya tidak persis sama 1966 dan 2019. Anies Baswedan bukan Bang Ali dan Jokowi bukan Bung Karno apalagi Pak Harto. 

BK: Ya jelas tidak akan persis 100%. Tapi yang paling baik memang Petahana Jokowi menang lagi dan nanti presiden ke -8 baru muncul 2024. Free fight untuk semua kandidate bersaing menurut meritokrasi dan bukan pakai KKN atau masa lalu yang berlumuram darah pelanggaran HAM Berat Mei 1998.  OK cukup sekian itu pembaca yang sudah puasa 5 hari tanpa WIBK sudah tidak sabar. (Penulis Pengamat sosial dan politik Christianto Wibisono)
   
 

Artikel Terkait