Daerah

Lagi, Korban Meninggal Akibat Demam Berdarah

Oleh : Ronald T - Kamis, 31/01/2019 12:35 WIB

Kepala Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu Rahmat mengatakan bahwa serangan DBD itu menyebar di 11 titik di tiga kecamatan. Dari sebaran itu, ada 4 titik yang merupakan daerah suspect DBD.

Dompu, INDONEWS.ID - Wabah Deman Berdarah Dengeu (DBD) kembali memakan korban jiwa. Kali ini, dua warga di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat meninggal dan
sebanyak 16 lainnya terpapar akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti ini.

Disampaikan langsung oleh Rahmat, selaku Kepala Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, yang mengatakan bahwa serangan DBD itu menyebar di 11 titik di tiga kecamatan. Dari sebaran itu, ada 4 titik yang merupakan daerah suspect DBD.

“Sesuai Standar Operasional Prosedure (SOP), kami sudah melakukan pengasapan di 11 titik tersebut, termasuk titik-titik suspect DBD,” katanya, Kamis (31/1/2019).

Rahmat juga meminta kepada warga untuk terus waspada, terutama yang mendiami wilayah-wilayah supect. Dikatakannya, ada 4 titik yang masuk dalam supect DBD itu berada di Kelurahan Karijawa, O’O dan Karijawa di Kecamatan Dompu, dan Simpasai Kecamatan Woja.

Menurutnya, peningkatan korban DBD itu menjadi ancaman serius. Oleh karena itu seluruh wilayah Dompu harus waspada karena fase waspada DBD tersebut dipengaruhi oleh peningkatan curah hujan dan perubahan iklim.

Meski telah menggut nyawa dua warga, namun Pemkab Dompu belum berani menetapkan kasus ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebab, sebuah kejadian luar biasa pada satu kejadian itu, harus mempertimbangkan banyak aspek, termasuk mempertimbangkan jangan sampai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

“Kita akan berupaya semampu mungkin untuk meminimalisirnya, jangan sampai timbul keresahan di tengah masyarakat,” jelasnya.

Untuk itu, pihaknya terus menghimbau masyarakat untuk tetepa tenang dan turut menjaga agar serangan DBD tidak menyerang warga. Beberapa cara yang bisa dilakukan oleh warga yakni dengan melakukan gerakan 3 M.

Gerakan 3M merupakan inisiatif pemerintah sebagai salah satu solusi pencegahan demam berdarah. 3M terdiri dari kegiatan menutup, menguras, dan mengubur objek-objek yang mendukung siklus hidup nyamuk.

“Tutuplah tempat yang bisa menampung air, baik di dalam maupun di luar rumah. Jika tidak diperlukan, tengkurapkan wadah-wadah yang bisa menampung air di luar rumah agar tidak tergenangi air hujan. Nyamuk betina memanfaatkan air yang tergenang sebagai tempat bertelur,” imbuhnya.

Selain itu, dirinya menyarankan warganya untum menguras tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi satu hingga dua kali seminggu. Karena siklus metamorfosis nyamuk, mulai dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa, berlangsung selama 8-10 hari.

"Dengan mengosongkan tempat-tempat penampungan air secara berkala, maka kita telah memutus siklus hidup nyamuk. Kemudian mengubur semua objek yang bisa menampung air, seperti kaleng bekas atau wadah plastik," tandasnya. (ronald)

 

Artikel Terkait