Daerah

BMKG : Gempa Di Solok Akibat Aktivitas Dari Sesar Aktif

Oleh : Ronald Tanoso - Jum'at, 01/03/2019 11:08 WIB

Daryono mengatakan, episenter gempa terletak pada koordinat 1,4 LS dan 101,53 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 36 kilometer arah timur laut Kota Padang Aro, Kabupaten Solok Selatan, Propinsi Sumatera Barat, pada kedalaman 10 kilometer.

Jakarta, INDONEWS.ID - Berdasarkan analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan gempa bumi yang terjadi di Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat pada Kamis (28/2) pukul 06.27.05 WIB kemarin, dipicu karena aktivitas sesar aktif yang belum dipetakan.

"Gempa Solok Selatan ini, merupakan jenis gempa tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif yang belum terpetakan dan belum diketahui namanya," kata Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Jumat (1/3/2018).

Daryono mengatakan, episenter gempa terletak pada koordinat 1,4 LS dan 101,53 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 36 kilometer arah timur laut Kota Padang Aro, Kabupaten Solok Selatan, Propinsi Sumatera Barat, pada kedalaman 10 kilometer.

Menurut Daryono, pemicu gempa tersebut diduga berasal dari percabangan (splay) dari Sesar Besar Sumatra (The Great Sumatra Fault Zone), mengingat lokasi episenter gempa ini terletak sejauh 49 kilometer di sebelah timur jalur Sesar Besar Sumatra tepatnya dari Segmen Suliti.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan laporan BPBD Kabupaten Solok Selatan, lebih dari 343 bangunan rumah rusak dan sedikitnya 48 orang terluka akibat gempa tersebut.

Catatan sejarah mengatakan salah satu peristiwa gempa dahsyat di Perbatasan Sumatara Barat, Bengkulu, dan Jambi adalah gempa merusak yang terjadi pada 4 Juni 1909, sekitar tujuh tahun setelah wilayah tersebut diduduki oleh Hindia-Belanda.

Gempa tektonik yang dipicu akibat aktivitas Sesar Besar Sumatra tepatnya di segmen Siulak berkekuatan magnitudo 7,6 SR.

Gempa itu menjadi gempa darat paling kuat yang mengawali abad ke-20 di Hindia-Belanda. Peristiwa gempa dahsyat tersebut banyak ditulis dan diberitakan dalam berbagai surat kabar Pemerintah Hindia Belanda saat itu.

"Ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari peristiwa gempa di Solok Selatan termasuk catatan gempa Kerinci 1909 dan 1995. Bahwa, keberadaan zona Sesar Besar Sumatra harus selalu kita waspadai," tandas Daryono. (rnl)






 

Artikel Terkait