Kritik Grace Natalie Membongkar Kesalahan Paling Mendasar Keberadaan Parpol

Oleh : very - Kamis, 14/03/2019 13:01 WIB

Pengamat Politik President University, Muhammad AS Hikam.(Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Pidato Ketua Umum DPP PSI, Grace Natalie (GN), di Medan ( 11/3/19) seharusnya dipahami sebagai sebuah peringatan dan kritik yang sangat mendasar terhadap partai-partai politik in toto, bukan saja terhadap parpol nasionalis. Bahkan pidato tersebut juga berlaku bagi PSI sendiri, sebagai salah satu parpol baru yang akan bertarung dalam Pemilu 2019.

“Hemat saya, kritik paling mendasar dan menohok dari Grace Natalie adalah tentang keberadaan parpol (nasionalis) saat ini yang telah ‘mengingkari’ alasan bagi keberadaan (raison d`etre) mereka dalam kancah perpolitikan nasional pasca-reformasi,” ujar Pengamat Politik dari President University, Muhammad AS Hikam di Jakarta, Rabu (13/3).

Sedemikian jauhnya parpol-parpol dari cita-cita awal saat didirikan, sampai-sampai Grace menyatakan bahwa PSI sebenarnya tak perlu ada seandainya parpol (nasionalis) yang sudah ada itu bekerja sesuai dengan tugasnya. Dan Grace bukan hanya menuding, tetapi sambil menunjukkan beberapa fakta yang menyokong kritiknya itu.

AS Hikam mengatakan, orang atau pihak parpol yang kena kritik Grace bisa saja saja gerah dan marah – dan memang sudah ada respon kesal, misalnya, dari kalangan PDIP. Tetapi kalau mereka mau agak jujur, apa yang dinyatakan Ketum PSI itu secara substantif dapat dipertanggungjawabkan.

Menurut AS Hikam, kehidupan politik demokrasi kita selama lebih dari dua dasawarsa mengalami semacam kemandegan atau minimal “ogah-ogahan”, karena parpol-parpol yang tidak lagi berfungsi secara efektif bagi sebuah sistem demokrasi yang sehat.

Terlepas dari apakah PSI sudah dan/atau nantinya akan mampu bekerja lebih baik ketimbang parpol-parpol mapan, namun faktanya baru parpol ini, melalui Ketumnya, yang punya nyali untuk melakukan kritik mendasar terhadap kondisi parpol di negeri ini. PSI mengakui betapa jauhnya jurang antara apa yang semestinya (das sollen) dikerjakan oleh parpol dengan apa yang mereka lakukan dalam kenyataan (das sein) politik.

Parpol, menurut AS Hikam, dalam sebuah sistem demokrasi adalah ibarat mesin utama dan sekaligus pembawa arah perjalanan sistem. Jika ia rusak maka demokrasi akan hancur, pelan atau cepat.

“Bagi saya sebagai seorang pengamat politik, pidato Grace sangat relevan dengan apa yang menjadi pemikiran saya selama beberapa tahun belakangan yakni pentingnya sebuah gerakan reformasi total terhadap sistem partai politik. Reformasi tersebut adalah kiprah yang sama dengan yang sudah dilakukan oleh TNI dan Polri serta belakangan oleh birokrasi dalam rangka menopang kehidupan berdemokrasi pasca-Orba. Jika parpol hanya seperti sekarang maka jangan harap akan terbangun sebuah sistem demokrasi konstitusional yang efektif, sehat, dan berkesinambungan," katanya.

AS Hikam berharap, PSI tak berhenti pada kritik tersebut tetapi ia juga akan tampil menjadi salah satu kekuatan pelopor bagi reformasi sistem parpol di negeri ini. Ketum DPP PSI sudah dengan jitu membongkar kesalahan paling dasar dari parpol di negeri ini, yakni mereka semua telah dan sedang mengingkari raison d`etre nya sendiri. “Langkah selanjutnya adalah PSI mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama mendorong dilakukannya reformasi sistemik terhadap parpol dalam waktu tak terlalu lama,” ujarnya.

“Jika PSI mempunyai hasrat dan semangat melakukan perubahan mendasar tersebut, saya yakin rakyat Indonesia, yang mencintai negerinya dan demokrasi, juga akan bersamanya. Dimulai dengan berkompetisi dalam ajang Pemilu 2019. Semoga sukses dalam melakukan pembaharuan di masa depan,” pungkas AS Hikam.

Seperti diketahui, pidato Grace Natalie beberapa waktu lalu dianggap merugikan partai koalisi pendukung 01.

Pengamat politik dari Media Survei Nasional (Median), Rico Marbun, misalnya menyebutkan bahwa pidato itu bisa membahayakan soliditas koalisi pendukung petahana.

Rico mengatakan bahwa pidato tersebut bisa jadi semacam `kanibalisme politik`, karena menyerang partai nasionalis yang tergabung ke dalam partai koalisi.

Bahkan jelas terlihat seperti ingin merebut pemilih dalam satu basis pendukung Jokowi.

"Tindakan ini agak kurang bijaksana, sebab bisa juga dimanfaatkan oleh pihak lawan dalam hal ini opisisi untuk menyerang Jokowi dan koalisinya sekaligus,"kata Rico.

Grace Natalie berpidato dalam acara Festival 11 di Medan, Senin 11 Maret 2019. Dalam acara itu, Grace menyinggung banyak partai yang mengaku nasionalis namun justru mendukung peraturan daerah (Perda) syariah yang diskriminatif. Dia menyebutkan istilah partai `nasionalis gadungan`.

Grace juga menyerang partai-partai nasionalis lain dengan menganggap mereka diam terhadap kasus-kasus intoleransi dan diskriminasi belakangan ini. (Very)

 

Artikel Terkait