ISEI dan ETH Zurich Bahas Pendekatan Alternatif Isu Kelapa Sawit

Oleh : hendro - Minggu, 28/04/2019 22:05 WIB

Duta Besar RI Bern Muliaman Hadad forum diskusi membahas isu kelapa sawit.

Zurich, INDONEWS.ID - Untuk lebih memahami permasalahan yang dihadapi industri kelapa sawit bagi masyarakat Swiss dan masa depan produk sawit, KBRI Bern bekerjasama dengan ETH Zurich dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia cabang Jakarta menyelenggarakan forum diskusi membahas isu kelapa sawit.

Kegiatan ini diadakan di kampus ETH Zurich Selasa 23 April 2019 lalu. ETH Zurich adalah salah satu perguruan tinggi terkemuka dan tertua di Swiss. 

Kegiatan diskusi ini dihadiri oleh sekitar 80 undangan dari Swiss baik dari kalangan akademisi, industri yang berkaitan dengan sawit, LSM bidang sawit, badan sawit berkelanjutan atau RSPO, KADIN Swiss, Kedutaan Besar negara penghasil sawit seperti Malaysia, Kamerun dan Kolumbia dan sejumlah wakil lembaga pemerintah Swiss. Dari pihak Indonesia hadir puluhan anggota Ikatan Sarjana Ekonomi cabang Jakarta yang terdiri dari pimpinan sejumlah perusahaan, lembaga keuangan serta akademisi dari IPB dan Universitas Prasetya Mulya.

Dalam sambutannya, Duta Besar RI Bern Muliaman Hadad menyatakan bahwa tujuan penyelenggaraan forum diskusi untuk menyamakan pandangan mengenai isu yang dihadapi dalam industri minyak sawit. “Diharapkan tercipta peluang bekerjasama dalam membangun masa depan industri sawit yang berkelanjutan,”ujar Muliaman.  

Selanjutnya semua peserta terlibat dalam suatu permainan yang diciptakan oleh mahasiswa ETH Zurich dalam proyek OPAL (Oil Palm Adaptive Landscape) mengenai tantangan yang dihadapi para pemangku kepentingan sawit seperti pemerintah, perusahaan sawit, LSM serta petani sawit dalam pengembangan sawit yang berkelanjutan.

Permainan yang mirip dengan permainan monopoli ini dimainkan dengan antusias oleh para peserta. Dua pembicara dari ISEI yaitu Prof.Dr Bustanul Arifin dari ISEI dan Dr. Fadhil Hasan dari Asian Agri memaparkan tantangan dan potensi kelapa sawit Indonesia yang berkelanjutan.

Para pemeran dalam permainan menyampaikan sejumlah saran dan masukan agar pengembangan sawit di Indonesia yang berkelanjutan tidak hanya memenuhi harapan Pemerintah namun juga para pemangku kepentingan lain seperti pengusaha sawit, LSM, petani sawit dan lainnya.

Perhatian yang lebih besar diperlukan untuk membantu petani sawit terutama terkait dengan akses modal, akses pasar yang lebih mudah dan luas dan bantuan teknis agar dapat meningkatkan kualitas produksinya. 

Permainan ini telah memberikan pemahaman mendalam mengenai isu yang dihadapi dan inisiatif yang harus diambil. Para peserta menyimpulkan bahwa menjadi petani kelapa sawit tidaklah mudah. Diskusi ini sangat bermanfaat untuk memahami berbagai masalah yang dihadapi masing-masing pemangku kepentingan dalam industri sawit ditengah kampanye negatif sawit di luar negeri.

Topik kelapa sawit menjadi isu hangat setelah diskriminasi yang dilakukan Uni Eropa terhadap ppenggunaan kelapa sawit, tepatnya setelah kebijakan Renewable Energy Directive (RED) II Delegated Act disahkan oleh parlemen Eropa.

“Swiss menjadi tempat ideal untuk membahas masa depan kelapa sawit mengingat Swiss bukan anggota Uni Eropa, dan memiliki pemikiran yang lebih terbuka terhadap isu ini," ujar Dubes Muliaman.

Para tamu juga disuguhi kopi dari Anomali Coffee dan Pipiltin Chocolate yang ikut dalam rombongan ISEI dalam kunjungan ke Swiss. Anomali Coffee mendapatkan tawaran dari pengusaha Swiss untuk menjadi agen penjualan produk mereka di Swiss.

Artikel Terkait