Nasional

Puasa dan Keikhlasan Menerima Tanpa Syarat Apapun Keputusan Rakyat

Oleh : very - Rabu, 08/05/2019 09:52 WIB

Rudi S Kamri, pengamat sosial politik, tinggal di Jakarta. (Foto: Ist)

Oleh : Rudi S Kamri *)

Pak Prabowo puasa gak ya ?

Insyaallah kalau seorang muslim yang baik dan dalam kondisi sehat jiwa - raga pasti akan menjalani Ibadah Puasa di bulan Ramadhan. Kalau beliau menjalani ibadah puasa sudah pasti beliau akan mampu mengendalikan diri dan bersikap lebih rendah hati serta tawadhu.

Selama bulan Ramadhan ini, saya berharap tidak ada lagi kalimat yang bersikap selfish dan memaksa seperti : "Pokoknya saya harus menang, pokoknya saya harus dilantik jadi Pleciden". Insyaallah kita semua tidak akan melihat lagi adegan lucu seperti itu. Karena malaikat juga sudah tahu siapa yang jadi juaranya.

Hikmah terbesar yang kita dapatkan saat bulan ramadhan adalah, setan-setan pengganggu manusia telah diikat kuat di beranda neraka. Pun pula kita berharap setan-setan yang selama ini mengelilingi dan menjerumuskan Pak Prabowo juga diikat dan disumpal mulutnya agar tidak lagi menyesatkan akal sehat seorang Prabowo.

Indikasi penyesatan ini juga diungkapkan oleh anggota koalisi Prabowo-Sandi, Andi Arief dari Partai Demokrat. Dia mencium kuat ada upaya penyesatan kemenangan 62% yang dilakukan oleh pembisik terdekat Prabowo. "Ini harus diungkap dan diusut siapa orangnya", kata Andi Arief berapi-api. Entah mengapa, untuk pertama kali dalam hidup saya,  saya melihat Andi Arief begitu mulia hatinya dan sontak wajahnya berubah seperti Aliando.

Puasa ternyata membawa hikmah kesadaran hati menjadi bersih. Andi Arief adalah salah satu orang yang mengikuti langkah sehat Mardani Ali Sera. Dia yang menjadi penggagas gerakan ganti pleciden sekarang malah mengharamkannya. Bisa jadi kalau dilihat dari kacamata politik ini adalah langkah pencitraan yang realistis saat jagoannya sudah di tabir jurang. Namun kalau kita melihat dari dimensi kesucian ramadhan, langkah dari Mardani Ali Sera adalah lahirnya penyadaran dari kesesatan untuk kembali ke fitrah kebenaran.

Ini bulan puasa. Bulan penuh keikhlasan. Kita berharap semua pihak ikhlas dan menerima apapun keputusan rakyat yang dibacakan oleh Komisioner KPU tanggal 22 Mei nanti. Yang menang jangan MABUK dan yang kalah jangan NGAMUK. Ini realitas dan keniscayaan dalam proses demokrasi.

Lupakan omongan ngawur Rizieq Shihab, karena dia bukan penentu arah kemana negara akan berjalan. Dia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Kalau dia merasa meneladani Rasulullah, dia akan memberikan keteduhan dan kedamaian. Namun kalau dia berperilaku dengan berlisan sebaliknya, dia berarti bukan pengikut Nabi Muhammad SAW. Karena Rasulullah tidak pernah memberikan contoh lisan yang kasar atau sikap yang memecah belah umat manusia. Yang bersikap seperti itu adalah followers Abu Jahal atau Abu Lahab.

Mumpung ini bulan puasa, bulan yang penuh prasangka baik. Mari kita juga mengedepankan prasangka baik kepada siapapun termasuk kepada Bawaslu, KPU dan aparat negara lainnya. Kita jangan lagi mendengar ocehan ngawur Yusuf Martak yang mencurigai siapapun yang dirasakan akan mengganggu kepentingan dan niat jahatnya. Mari kita  dengar himbauan ulama yang teduh dan memayungi umat. Bukan orang yang mengaku diri ulama tapi memprovokasi umat

Bukan hanya kepada Pak Prabowo atau Pak Jokowi saja harapan untuk merendahkan hati dan tawadhu dalam menerima apapun keputusan rakyat (yang dibacakan KPU) kita suarakan. Tapi juga kepada para pengikutnya. Kita harus menerima apapun kehendak mayoritas rakyat dalam memilih pemimpinnya.

Ini bulan puasa. Bulan penuh rasa berserah. Bukan bulan jaga baliho.

Salam SATU Indonesia

*) Penulis adalah pengamat sosial dan politik, tinggal di Jakarta.

Loading...

Artikel Terkait