Daerah

Pasokan Aman, Harga Cabai dan Bawang di Sulawesi Barat Terkendali

Oleh : tirto prima putra - Senin, 13/05/2019 15:02 WIB

MAMUJU - Memasuki Ramadhan, harga sejumlah bahan pokok khususnya cabai dan bawang di Sulawesi Barat sempat diberitakan naik. "Kenaikan harga terjadi karena kurangnya pasokan dari Kabupaten Enrekang dan Pinrang. Beberapa waktu lalu wilayah ini terkena banjir sehingga menghambat masuknya pasokan dan kondisi ini hanya sesaat," ujar Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil TPH Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Barat, Ramlia, Senin (13/05) di Mamuju.

Lebih lanjut Ramlia menyampaikan bahwa pada 2 Mei 2019, Wakil Gubernur bersama Polda, Tim TPID, Bulog dan dinas terkait melakukan inspeksi mendadak ke pasar sentral di Kabupaten Mamuju. Kunjungan ini ditindaklanjuti dengan mengadakan operasi pasar pada 3 Mei 2019 dengan menjual berbagai bahan pokok penting termasuk cabai dan bawang yang diprioritaskan untuk masyarakat umum.

Melalui operasi pasar, Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Barat membeli cabai dan bawang langsung dari petani di Kabupaten Majene dan menjualnya dengan harga subsidi sebesar 30 persen dari harga jual. Dari hasil pemantauan Tim Stabilisasi Harga Ditjen Hortikultura bersama petugas Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Barat di beberapa pasar sentral di Kabupaten Mamuju dan Majene, harga cabai dan bawang sudah tidak lagi terlalu tinggi dibandingkan sebelumnya.

Harga bawang putih tercatat di kisaran Rp. 50 ribu per kg, bawang merah Rp. 35 ribu per kg, cabai merah keriting Rp. 30 - 40 ribu per kg, cabai merah besar Rp. 30 per kg dan cabai rawit merah Rp. 18 - 25 ribu per kg. Harga cabai dan bawang yang bervariasi di berbagai pasar tersebut disebabkan adanya perbedaan varietas dan ukuran.

Dalam rangka melanjutkan stabilisasi harga cabai dan bawang, beberapa hari lalu Kementan mengadakan Rakor Petugas Pelayanan Informasi Pasar (PIP) di Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Barat. Rakor ini mengundang petugas PIP dari kabupaten sentra cabai dan bawang yaitu Kabupaten Mamuju, Majene dan Polewali Mandar. Hasil pertemuan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan harga cabai dan bawang di tiga kabupaten tersebut tidak terlalu signifikan.

"Kenaikan harga cabai dan bawang di bulan Ramadhan terbilang masih wajar seiring dengan meningkatnya permintaan. Pedagang memanfaatkan momen tersebut setiap tahun," ujar petugas PIP Polewali Mandar, Rosdiana.

Kepala Seksi Produksi TPH Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Barat, Sufri beberapa waktu sebelum Ramadhan mengungkapkan telah melakukan pemantauan langsung di lapangan dan menemukan bahwa persediaan bahan pokok masih mencukupi. "Pasokan cabai dan bawang aman hingga lebaran dan kemungkinan harga bisa naik lagi, tapi masih terjangkau oleh masyarakat seperti sekarang ini," jelas Sufri.

“Harga dan pasokan cabai rawit merah dipastikan normal sampai lebaran karena masih akan ada panen sampai menjelang lebaran. Dalam satu minggu, rata - rata dapat mengirim tiga kali, dengan satu kali pengiriman sebanyak 1 - 3 ton. Pangsa pasar terbesar cabai rawit merah adalah pasar di luar Sulawesi Barat, sedangkan pangsa pasar terbesar cabai merah keriting adalah pasar di Majene," papar Hakim, petani cabai rawit merah sekaligus pedagang besar di Majene.

Kepala Bidang Hortikultura Kabupaten Majene, Samrud menjelaskan bahwa saat ini harga cabai rawit merah di tingkat petani mencapai Rp. 20 ribu per kg. Harga di tingkat pedagang pengumpul Rp. 22 ribu per kg dan harga di tingkat pedagang pengecer ada di kisaran Rp. 25 - 27 ribu per kg

Artikel Terkait