Nasional

Menilik Potensi Agribisnis Menjanjikan di Gowa

Oleh : tirto prima putra - Senin, 20/05/2019 12:31 WIB

Gowa, Sulawesi Selatan- Daerah dataran tinggi Malino di Gowa menyimpan potensi agribisnis yang luar biasa. Setidaknya hal ini sudah dirasakan langsung oleh Andi Narizwan (35 tahun), yang jauh merantau dari Pengalengan-Jawa Barat. Jenis usaha yang dikembangkan adalah penangkaran benih bunga krisan dan kentang. Melalui badan usaha bernama PB. Paguyupan Putra, Andi Narizwan membangun bisnis kentang dan krisan sejak tahun 2013.

“Kehadiran PB Paguyupan Putra ini cukup memberi semangat dan warna baru kepada usaha agribisnis krisan maupun kentang di Malino. Setidaknya melalui inovasi teknologi produksi benih dan budidaya yang dilakukan oleh Pak Asep (panggilan akrab Andi Narizwan) ini. Para petani dan pelaku usaha krisan dan kentang disini penuh dengan tantangan dan hasilnya sangat menjanjikan,” kata Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Gowa, ST Hasnawati.

Atas usahanya ini, Andi diganjar sejumlah penghargaan, diantaranya pin emas Pemuda Agro Inovator Teladan tingkat nasional 2017 dari Badan Litbang Kementerian Pertanian dan UMKM Kreatif 2017 dari Kementerian Perdagangan tahun 2017. Penghargaan lainnya seperti Juara 1 Stan Perbenihan Terbaik dari BPSB Provinsi Sulawesi Selatan pada 2018 dan Penerimaan Penghargaan Penangkar Benih Florikultura Teladan Tingkat Nasional pada 2018 dari Balai Penelitian Tanaman Hias.

“PB Paguyupan Putra merupakan model penangkar benih hortikultura ideal, ditunjang sarana dan prasarana produksi benih yang tergolong modern dan SDM yang kompeten serta memiliki jiwa enterpreneurship yang tinggi,” ujar Langgeng Muhono, Kasi Produksi Benih Hortikultura Ditjen Hortikultura.

Langgeng berpendapat, untuk penangkar kategori UMKM, keberanian PB Paguyuban Putra berinvestasi laboratorium kultur jaringan adalah hal yang cukup berani dan patut diapreasiasi.

Berada di lahan seluas 5 hektare, penangkar ini memiliki fasilitas  screen house sebanyak 14 buah dan laboratorium kultur jaringan sebanyak 1 unit. Adapun karyawan yang dimiliki sejumlah 22 orang. Saat ini tidak kurang ada 40 varietas krisan yang dikembangkan, antara lain varietas pelangi, puspita nusantara, yulimar, solinda, pompon dan lainnya. Sedangkan varietas benih kentang yang diproduksi adalah Granola L.

Kapasitas produksi benih krisan rata-rata mencapai 450 botol plantlet dalam sebulan. Sementara kentang sekitar 400 botol plantlet per bulan dan produksi benih kentang per musim untuk kelas G1 sebanyak 1,5 ton, kelas G2 sekitar 6 ton dan G3 sebanyak 30 ton. Benih-benih hasil kultur jaringan sebagian besar masih digunakan sendiri.

Sejalan dengan besarnya potensi pasar dan gairah petani yang ada saat ini, pemerintah diharapkan dapat lebih memberikan perhatian kepada penguatan industri perbenihan pada kedua komoditas ini.

"Bantuan pemerintah lain berupa gudang pasca panen, peralatan packing dan genset pembangkit listrik di Malino ini tentunya akan sangat berarti bagi kami dalam mewujudkan produk krisan bermutu serta mendukung percepatan realisasi program Malino Kota Bunga sebagaimana yang telah dicanangkan oleh Pemerintah," ujar Andi.

Artikel Terkait