Pojok Istana

Kongres XXII PGRI, Presiden Apresiasi PGRI Perkokoh Persatuan Bangsa

Oleh : very - Sabtu, 06/07/2019 22:01 WIB

Presiden Joko Widodo secara resmi membuka Kongres XXII Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) - Kongres Guru Indonesia Tahun 2019. Perhelatan akbar profesi pengajar ini dihelat di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat, 5 Juli 2019. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID -- Presiden Joko Widodo secara resmi membuka Kongres XXII Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) - Kongres Guru Indonesia Tahun 2019. Perhelatan akbar profesi pengajar ini dihelat di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat, 5 Juli 2019.

Dalam sambutannya, Presiden menyampaikan bahwa PGRI lahir dalam kancah perjuangan bangsa. PGRI telah berjasa mengisi kemerdekaan melalui pendidikan dan melestarikan serta mengembangkan kebudayaan nasional.

"Saya juga paham bahwa PGRI turut hadir dalam memperkokoh persatuan dan keberagaman. Tolong ini juga selalu diingatkan kepada para murid, para siswa, bahwa negara ini negara besar," kata Presiden seperti dikutip dari siaran pers Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden.

Sebagai sebuah organisasi, PGRI memiliki perwakilan di seluruh wilayah provinsi, kabupaten dan kota, seluruh kecamatan bahkan sampai ke desa-desa. Menurut Presiden, ini berperan sentral dalam membentuk karakter bangsa, merajut persatuan dan kesatuan Indonesia.

"Saya menyaksikan perkembangan PGRI yang luar biasa. Terima kasih kepada Ibu Unifah Rosyidi yang telah melakukan banyak hal positif yang terus memperjuangkan dan membela hak-hak guru. Setiap ketemu pasti yang disampaikan ada aja. Yang tidak membeda-bedakan guru baik negeri, swasta, maupun honorer," ucapnya.

Di hadapan sekitar 3.000 guru, Kepala Negara juga menyampaikan bahwa guru memiliki peran sentral dalam melaksanakan program pembangunan sumber daya manusia (SDM). Hal ini sejalan dengan fokus pemerintah dalam lima tahun ke depan yang menjadikan pembangunan SDM sebagai prioritas pembangunan nasional.

"Kualitas SDM di semua jenis profesi harus ditingkatkan secara signifikan. Kualitas SDM di usia remaja juga harus ditingkatkan secara signifikan sehingga kita mampu menghadapi dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berubah begitu sangat cepatnya," tuturnya.

Agen Transformasi Penguatan SDM

Perubahan zaman dan teknologi yang begitu cepat dewasa ini menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi. Tujuan pendidikan nasional tidak lagi mencetak siswa yang berpengetahuan, tetapi juga siswa yang berketerampilan, memiliki skill, dan berkarakter.

"Pendidikan kita juga harus mampu memberikan bekal keterampilan, bekal skill, kepada siswa yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Ketika pembangunan SDM menjadi prioritas paling utama, sekali lagi peran guru akan semakin sentral, semakin utama, dan semakin strategis. Guru harus menjadi agen transformasi penguatan SDM kita, menjadi agen transformasi dalam membangun talenta-talenta bangsa," ujar Presiden.

Untuk menghadapi perubahan zaman itu, transformasi pendidikan dan transformasi proses belajar-mengajar harus terus dilakukan. Menurut Presiden, proses belajar-mengajar harus menggembirakan, baik guru maupun murid, dan dilakukan secara efisien dan mudah.

"Saya kira ruang kelas bukanlah satu-satunya tempat belajar. Dunia virtual adalah kampus kita, bisa belajar dari sana. Google adalah perpustakaan kita, Wikipedia adalah ensiklopedi kita, bisa cari apa saja, Kindle buku elektronik adalah buku pelajaran kita dan masih banyak media digital lainnya," paparnya.

Oleh sebab itu, Kepala Negara memandang peran guru harus lebih dari mengajar, tetapi juga mengelola belajar siswa, mengarahkan belajar siswa karena mereka bisa belajar di mana-mana. Guru pun dituntut lebih fleksibel, lebih kreatif, lebih menarik, dan lebih menyenangkan siswa.

"Kalau tidak ada yang mengarahkan berbahaya sekali. Sekarang buka apa saja di dalamnya ini ada semuanya. Hati-hati," lanjutnya.

Meski demikian, Presiden memandang peran guru tidak bisa digantikan oleh mesin atau teknologi secanggih apa pun. Sebagai sebuah profesi mulia, Presiden percaya guru memiliki peran tak tergantikan dalam membentuk karakter anak bangsa dengan budi pekerti yang luhur, dengan toleransi, dan nilai-nilai kebaikan.

"Guru lah yang menumbuhkan empati sosial, membangun imajinasi, membangun kreativitas serta mengokohkan semangat persatuan dan semangat kesatuan," ungkapnya.

Turut mendampingi Presiden dalam acara tersebut yaitu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi. (Very)

Loading...

Artikel Terkait