Nasional

Moeldoko Sebut Taruna Enzo Dikeluarkan Jika Benar Dukung HTI

Oleh : Marsi Edon - Sabtu, 10/08/2019 21:19 WIB

Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko.(Foto:Kompas.com)

Jakarta, INDONEWS.ID - Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan, calon taruna Akmil Enzo Zenz Allie akan diberhentikan jika terbukti mendukung gerakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang telah dibubarkan oleh pemerintah dua tahun lalu. Hal ini disampaikan oleh Moeldoko menjawab pernyaataan Mahfud MD yang menyebutkan TNI kecolongan loloskan Enzo.

Menurut Moeldoko, kecolongan bisa saja terjadi pada tahapan proses penerimaan calon taruna Akmil pada tahap awal. Karena pada tahap awal, seorang calon taruna hanya mengikuti tes fisik dan tes psikologi saja.

"Oiya kalau itu nyata-nyata itu pasti dikeluarkan, itu risikonya, apalagi di pendidikan ya, itu pasti," kata Moeldoko seperti dilansir cnnindonesia, Jakarta, Sabtu,(10/07/2019)

Ia menambahkan, TNI  mempunyai sistem tersendiri dalam memberikan pengawasan terhadap calon taruna Akmil. Dalam masa pendidikan, kata Moeldoko, seorang taruna akan diawasi termasuk memastikan taruna tersebut tidak menolak keberadaan ideologi Pancasila.

"TNI itu mengenal apa itu namanya penelitian personel yang bertahap dan berlanjut, itu nanti akan dilihat dari waktu ke waktu, apalagi dalam pendidikan itu akan diikuti dengan baik," jelasnya.

Moeldoko pun menceritakan kembali pengalamannya saat menjadi taruna. Seorang taruna akan diawasi setiap menit. Karena itu, ia menjamin pengawasan terhadap taruna Akmil sesuai dengan aturan yang ada.

"Di taruna itu saya baru sadar setelah saya lulus, saya cek file saya, (tertulis) Moeldoko jam sekian bangun, kegiatannya satu persatu, berikutnya jam 07.05 senjatanya kotor, ditulis sama pelatih itu, saya baru sadar setelah lulus file-nya saya baca, jadi enggak bakalan lolos itu selama pendidikan sangat-sangat ketat ya," jelasnya.

Lebih lanjutkan ia menjelaskan, TNI tidak pernah mengenal kata kompromi soal ideologi. Jika di tengah jalan saat masa pendidikan berlangsung, ditemukan calon taruna yang terindikasi bermasalah atau melawan Pancasila akan dikeluarkan.

"Jika terlanjur masuk atau kecolongan, bisa itu terjadi, karena (tes) psikologi itu sulit melihat orang yang contohnya biasa mencuri, itu sulit (dideteksi) enggak bisa dilihat dari psikologi biasa, kita di taruna sering ada begitu. Begitu dia melakukan sesuatu di kampus di Akmil maka saat itu juga akan dikeluarkan, jadi penelitian personel itu berjalan terus menerus di lingkungan TNI," ujarnya.

Ia pun mencontohkan, beberapa tahun silam, TNI pernah kecolongan meloloskan taruna Akmil keturunan PKI. Ada hasil penelitian yang membuktikan kebenaran informasi tersebut, karena itu, taruna tersebut langsung dikeluarkan.

"Dulu orang yang masuk taruna terindikasi ada yang ideologi komunis PKI ya dari beberapa keturunan itu akan ketahuan setelah sekian lama, mereka ada catatanya, harus bagaimana, diapakan, itu ada, gitu ya," pungkasnya.*(Marsi)

 

 

 

 

 

 

Artikel Terkait