Pojok Istana

Presiden Jokowi Minta Pembangunan Embung Rawa Sari Selesai 2018

Oleh : very - Jum'at, 06/10/2017 12:46 WIB

KPK Resmikan rutan klas 1 di Gedung Merah Putih. (Indonews.id/Luska)

Tarakan, INDONEWS.ID - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap pembangunan Embung Rawa Sari, Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) yang sudah dimulai sejak tahun 2016 lalu bisa diselesaikan pada tahun 2018 mendatang. Dengan demikian, supply air untuk Kota Tarakan bisa terjaga.

“Karena memang di sini kan tidak ada sungai besar, sehingga air-air dari sungai kecil pun harus kita tampung,” kata Presiden Jokowi saat bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo meninjau pembangunan Embung Rawa Sari, Kota Tarakan, Jumat (6/10) pagi.

Sementara itu Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono yang ditemui terpisah mengatakan bahwa pembangunan Embung Rawa Sari ini diharapkan mampu mencukupi kebutuhan air baku dari masyarakat Tarakan yang mencapai 900 liter/detik. Saat ini sudah tersedia 400 liter/detik dan masih kurang 500 liter/detik.

“Di Tarakan ini penduduknya 250.000 orang, itu kebutuhannya minimum 900 liter/ detik yang tersedia sekarang sekitar 400,  sehingga masih kurang 500,” terang Basuki seperti dikutip Setkab.go.id.

Selain membangun Embung Rawa Sari yang menghabiskan anggaran Rp 64 miliar, menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, pemerintah juga membangun Embung Bengawan dan Embung Indulung untuk mencukupi kebutuhan air bersih bagi warga Kota Tarakan, Kalimantan Utara itu.

Ia menjelaskan, dengan potensi pertambahan penduduk, ke depan pembangunan tambahan embung pun masih mungkin dilakukan di tahun 2018.

Jembatan Bulan

Sementara itu menyinggung kelanjutan pembangunan jembatan penghubung kota Bulungan dengan kota Tarakan (Jembatan Bulan), Presiden Jokowi mengemukakan, bahwa rencana pembangunan itu sudah dibicarakan dalam rapat terbatas yang dihadiri oleh Gubernur Kaltara Irianto Lambire.

“Jadi semuanya masih dihitung, dikalkulasi di Kementerian PUPR. Tunggulah sabar,” ujar Presiden.

Presiden mengingatkan bahwa  setiap pembangunan memerlukan business study yang dikalkulasi, dan dihitung. Karena kalkulasinya belum masuk, maka Presiden mengaku belum bisa memutuskan hal tersebut.

“Nanti kalau dari Kementerian PU sudah masuk, Bappenas masuk, kebutuhannya sekian. Oh bisa diambil anggarannya dari sini, eksekusi,” terang Presiden Jokowi.

Sementara Menteri PUPR Basuki Hadimuljono membenarkan, bahwa pembahasan pembangunan jembatan sepanjang 5,6 km dengan total jalan sepanjang 60 km itu masih dilakukan.

Jika direalisasikan, maka jembatan sepanjang 5,66 kilometer ini akan menjadi jembatan terpanjang di Indonesia mengalahkan jembatan Suromadu (Surabaya-Madura) yang memiliki panjang 5,5 kilometer. (Very) 

 

 

Artikel Terkait