Nasional

Kecewa Kandidatnya Kalah Dalam Pilkada Tolikara, Segerombolan Massa Rusak Kantor Kemendagri

Oleh : luska - Rabu, 11/10/2017 17:36 WIB

Ilustrasi pilkada

Jakarta, INDONEWS.ID - Karena tidak puas atau kecewa terkait Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati, John Tabo dan Barnabas Weya, sekelompok massa pendukung cabub dan cawabub tersebut melakukan perusakan di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri).

Informasi yang diperoleh wartawan dari Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Otda) Kemdagri, Sumarsono di Ruang Pers, Kantor Kemdagri, Jakarta, Rabu (11/10/2017, kericuhan terjadi sekitar sekitar pukul 15.00 WIB, segerombolan massa masuk ke dalam kantor gedng belakang Kemdagri.

Melihat gelagat yang aneh dan curiga, sejumlah pegawai kemudian meminta puluhan massa memnuaikan ibadah sholat sempat dilempari batu.

Karena tersinggung dan tidak terima terjadilah keributan dalam konteks pegawai menggiring ke luar.

Akibat kericuhan tersebut kaca masjid pecah, mobil rusak ada 4, termasuk mobil Stafsus kemendagri dan Dirjen Polpum. Bus ada 1 rusak, kaca jendela 4 buah, pot bunga ada 9, dan satu orang petugas pamdal dibawa ke rumah sakit, karena luka cukup serius terkena batu dan satu kamera milik salah satu tv swasta rusak.

Diperkirakan segerombolan massa tersebut adalah pendukung dari Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati, John Tabo dan Barnabas Weya.

Sebelumnya telah diberitakan,gugatan Calon Bupati dan Wakil Bupati Tolikara, John Tabo dan Barnabas Weya dalam sengketa pilkada di kabupaten tersebut ditolak Mahkamah Konstitusi.

Dengan keputusan ini berarti bupati dan wakil bupati terpilih masih dipegang Usman G Wanimbo-Dinus Wanimbo. Pasangan nomor urut 1 ini, dalam pilkada meraih 73.205 suara setelah dilakukan pemungutan suara ulang (PSU) di 18 distrik. Sementara John Tabo-Barnabas Weya hanya memperoleh 25.260 suara, lalu pasangan nomor urut 2 Amos Yikwa-Robeka Enembe meraih 1.439 suara.

Usman bersyukur dengan putusan tersebut. Sebab sengketa Pilkada Kabupaten Tolikara berlangsung cukup lama, setidaknya hingga 1 tahun lebih. Padahal, biaya yang dihabiskan tak sedikit.

"Ini merupakan perjuangan yang cukup lama, dan menghabiskan biaya yang cukup besar. Untuk mengikuti pilkada di sana itu diperlukan biaya sekitar Rp 160 miliar. Apalagi pilkada tahun ini dilakukan pemilihan suara ulang (PSU), belum lagi sosialisasi ke pedalaman-pedalaman yang memerlukan biaya cukup mahal," ujarnya dalam keterangan tertulis  Selasa (1/8/2017).

Kepemimpinan di periode kedua ini, Usman berjanji melanjutkan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Sumber daya manusia akan ditingkatkan, sehingga tercipta masyarakat yang maju dalam berbagai bidang.

Pendidikan yang lebih berkualitas, juga akan diberikan mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi.

"Mereka ingin kami maju dalam bidang pendidikan, kesehatan, peningkatan kualitas pemerintahan, keamanan, ketertiban umum, dan perwakilan rakyat yang lebih berkualitas. Itulah yang menjadi harapan masyarakat kepada kami, yang akan diwujudkan," paparnya.

Atas keputusan tersebut kubu pasangan nomor urut tiga, John Tabo dan Barnabas Weya tidak terima dan meminta MK agar suara yang direkomendasikan Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Tolikara pada 18 distrik, didiskualifikasi. (Lka)

Artikel Terkait