Nasional

Kemenhub Bangun 15 Bandara Baru di wilayah Wisata, Pedalaman dan Terpencil

Oleh : hendro - Jum'at, 20/10/2017 13:49 WIB

peresmian bandara Minangas oleh Presiden Joko Widodo beserta Menhub Budi Karya beberapa waktu lalu (istimewa)

                                                                                                                  

Jakarta, INDONEWS.ID -  Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, dalam rangka memacu potensi dan berkembangannya simpul-simpul ekonomi, meningkatkan aksesbilitas daerah-daerah tujuan wisata, distribusi produk dan jasa, Kementerian Perhubungan berhasil membangun bandar udara baru dan melakukan rehabilitasi bandar udara di daerah pedalaman dan terpencil.   

Menurut Menhub Budi Karya,  sektor transportasi mempunyai peran yang strategis sehingga harus dapat menjalin konektivitas antarpulau dan mampu mewujudkan aksesibilitas ke seluruh wilayah tanah air Indonesia.

“Hal tersebut dilakukan untuk mewujudkan pemerataan ekonomi yang berkeadilan,”kata Menhub Budi Karya dalam keterangan tertulisnya kepada INDONEWS, Jumat (20/10/2017) .

Kelima belas bandar udara baru yang dibangun oleh Kemenhub terdiri dari,  Bandar Udara Tambelan-Tambelan, Bandar Udara Letung-Anambas, Bandar Udara Tebelian-Sintang, Bandar Udara Muara Teweh-Barito Utara, Bandar Udara Samarinda Baru-Samarinda, Bandar Udara Maratua-Berau, Bandar Udara Miangas-Kep. Talaud, Bandar Udara Siau-Kep. Siau. Bandar Udara Kertajati-Majalengka, Bandar Udara Buntu Kunik-Tanah Toraja, Bandar Udara Morowali-Morowali, Bandar Udara Namniwel-Buru, Bandar Udara Kabir/Pantar-Alor, Bandar Udara Werur-Tambrauw, dan Bandar Udara Koroway Batu-Boven Digoel. 

Menhub menjelaskan, Bandar Udara Miangas yang terletak di Kepulauan Talaud merupakan bandar udara yang telah diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo  beberapa waktu lalu. Pembangunan bandar udara itu adalah perwujudan dari program Nawacita untuk membangun Indonesia dari pinggiran.

 “Beberapa teman di Miangas mengatakan dengan adanya bandara di Miangas itu membuat mereka bersemangat berkehidupan, berekonomi, dan produktivitas meningkat. Saya pikir inilah bentuk keberhasilan pembangunan yang dilakukan Pemerintah di wilayah-wilayah pinggiran,” ucap Menhub.

Sementara itu ditempat terpisah, Nelayan Miangas Petrus Mambu mengatakan bandar udara ini menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat Miangas terhadap transportasi. Bandar udara ini memudahkan masyarakat untuk bepergian ke daerah-daerah lain di Indonesia.

Hal  yang sama juga diungkapkan  tokoh masyarakat Miangas Hibor Arunda’a. Menurutnya,  kehadiran bandar udara Miangas memberikan dampak yang baik dan mengubah dinamika kehidupan masyarakat di Miangas.

Lebih lanjut Hibor Arunda`a  berharap jumlah frekuensi penerbangan dari dan ke Miangas ditambah. Saat ini penerbangan maskapai Wings Air yang melayani penerbangan ke Miangas hanya satu kali seminggu.

“Mereka beli kopra lalu dipasarkan di Bitung atau Tahuna. Kopra ini dimuat dengan kapal perintis kemudian mereka terbang menggunakan pesawat ke Manado. Mereka jemput kopra lalu uangnya dibelanjakan sembako untuk kebutuhan di Miangas. Setelah itu mereka kembali ke Miangas menggunakan kapal perintis karena membawa barang,” ungkap Hibor Arunda’a.

Pembangunan infrastruktur transportasi juga terbukti mampu menjaga ketersediaan bahan pokok dan menurunkan disparitas harga. Hal ini pun dirasakan masyarakat Ilaga di Kabupaten Puncak, Papua. Berkat pembangunan Bandar Udara Ilaga, masyarakat merasakan penurunan harga semen sebesar 50%. Tak hanya itu, harga BBM pun mengalami penurunan.

“Papua itu daerah terjauh dan sulit dijangkau. Harga BBM di sana Rp 50.000/liter, namun kalau lagi langka harga BBM bisa Rp 100.000/liter. Oleh karenanya, Pemerintah lakukan kebijakan BBM 1 harga. Sekarang BBM bisa dijangkau dengan harga Rp 6.500/liter. Selanjutnya Pemerintah masih terus berupaya selain harga BBM, harga bahan pokok juga menurun,” jelas Menhub.

sementara itu, Bupati Puncak Jaya, Papua Willem Wandik pun merasakan kehadiran negara melalui Pemerintah Pusat dengan semangat bagaimana negara hadir di daerah-daerah terpencil bahkan seluruh Indonesia sehingga semuanya dapat berjalan dengan baik.

“Mulai sekarang sudah ada pemerintah pusat, dalam hal ini perhubungan, sudah memerhatikan bandar udara di sana. Tadinya ekonomi masih mahal dan akhirnya semakin banyak transportasi, pesawat semakin banyak masuk. Satu hari saja 30 – 40 (pesawat) kali masuk sehingga roda pemerintahan, ekonomi semakin naik, dan Puji Tuhan harga mulai semakin turun,” jelas Willem Wandik.    

 Upaya Kemenhub membangun bandar udara di daerah-daerah terpencil dan menyediakan pelayanan angkutan udara perintis sebagai jawaban atas kondisi geografis Indonesia yang memiliki bentangan yang tersebar dan sangat luas, dan masyarakat yang mendiami wilayah tersebut berhak mendapatkan layanan transportasi yang terjangkau dan memadai, yang disediakan oleh pemerintah. (hdr)

 

 

Artikel Terkait