Budaya

Pak Gubernur Baru

Oleh : indonews - Rabu, 25/10/2017 10:26 WIB

Remy Sylando, budayawan dan penulis buku. (Foto: contohpantunpuisicerpen.blogspot.co.id)

Oleh: Remy Sylado*)

Saya ingat guru SD – waktu itu masih SR – di Semarang, berkata kepada kami sekelas, “Nek ngawur ojo kegeden, medeni.” Artinya, “Kalau ngawur jangan terlalu besar, mengerikan.”

Sekonyong saya menyaksikan ngawur dilakukan oleh Pak Gubernur Baru, Profesor Anies Baswedan. Ini bukan soal pidatonya di hari pelantikkannya yang menyebut kata “pribumi”, dan sertamerta menghebohkan karena dianggap mengandung siratan rasisme; melainkan apologianya atas kata itu. Begini katanya, “Jakarta adalah kota yang paling merasakan penjajahan Belanda di Indonesia. Sebab penjajahan itu terjadi di ibukota. Yang lihat Belanda dari jarak dekat siapa? Jakarta! Coba kita di pelosok-pelosok, itu tahu ada Belanda, tapi lihat depan mata, enggak. Yang lihat depan mata itu kita yang di kota Jakarta.”

Wah? Itu artinya Anies Baswedan melecehkan rakyat Aceh yang berperang melawan Belanda di mana salah seorang pemimpin perangnya adalah perempuan. Di Aceh-lah jendral Belanda Van der Heijden ditembak oleh tentara perempuan bernama Pocut Meuligoe sehingga rakyat Aceh menjuluki Jendral Belanda kaphe itu sebagai “Jendral Mata Sebelah”.

Selain itu mesti juga dibilang Anies melecehkan Antawirya - kemudian bernama Dipanegara - yang dengan jantan menghempaskan anggur ke wajah Residen Smissaert, berlanjut dengan Perang Jawa yang dahsyat, membikin kas negara Hindia Belanda kebobolan.

Rupanya Anies pun tak tahu betapa Westerling membunuh 40.000 orang di Sulawesi Selatan dan berlanjut dengan perang sengit yang menyebabkan Wolter Mongisidi dieksekusi mati di Makassar. Sementara di Manado, Sulawesi Utara, yang anak negerinya dielu-elus Belanda sebagai rakyat De Twaalfde Provincie van Nederland, malah dilawan oleh Ch. Taulu yang merobek warna biru dari bendera Belanda "rood-wit-blauw" menjadi merah-putih dan dengannya terjadi perang seru.

Belum lagi sejarah Pattimura yang bernama Serani, Thomas Matulessy, dengan wira mengangkat parang mengobarkan perang melawan penjajahan Belanda di Ambon.

Tampaknya Anies harus membaca puisi-puisi tentang pahlawan karya penyair Sides Sudyarto yang justru dibaca oleh anak-anak SD. Di situ ada kewiraan Sisingamangaraja di Toba, Imam Bonjol di Minangkabau, Sultan Hassanudin di Makassar, I Gusti Ngurah Rai di Bali, Pangeran Antasari di Banjar, Slamet Riyadi di Surakarta, Jendral Sudirman di Yogyakarta, dan seterusnya.

Saya masygul melihat Anies yang jeplak zonder data tentang sejarah kebangsaan Indonesia yang plural ini. Ketika ia tampil di markas FPI pada 6 Januari 2017 dalam masa kampanye menjadi gubernur, pagi-pagi dia sudah ngawur. Katanya, “Dulu orangtua kami itu pendiri Partai Arab Indonesia… Orang Arab mengatakan tanahairnya Indonesia, tahunnya 1934… Apakah Indonesia sudah ada? Belum! … Mereka menyatakan sumpah tanahairnya Indonesia sebelum Indonesia ada. Tidak ada yang lain, yang melakukan itu kecuali keturunan Arab…”

Astaga! Tahun 1934 belum ada Indonesia? Padahal 1928, dalam Sumpah Pemuda, Indonesia sudah diikrarkan bagi nama nusa, bangsa, dan bahasa. Sumpah Pemuda itu dicetuskan di rumah Jalan Kramat 106 Jakarta, milik Sie Kok Liong. Artinya, jangan lupa ada orang Cina dalam sejarah kesatuan bangsa Indonesia yang bhinneka. Setelah pidato Presiden 1959, Manipol, Johanna Tumbuan, dosen Psikologi UI dan anggota Dewan Harian Angkatan 45 – yang pada 1928 merupakan gadis 17 tahun dari Jong Minahasa yang ditunjuk membacakan butir-butir Sumpah Pemuda tersebut di depan peserta kongres – meminta kepada Bung Karno untuk memberi tanda jasa bagi Sie Kok Liong atas kerelaannya memberikan rumahnya – yang sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda - sebagai tempat pemuda dan menelurkan keindonesiaan kita hari ini.

Soal nama Indonesia sendiri dipopulerkan pada 1884 oleh orang Jerman bernama Profesor Adolf Bastian lewat bukunya Indonesia oder die Insel des Malayschen Archipel. Tapi yang pertama menyebut nama Indonesia adalah orang Inggris bernama J.R. Logan pada 1848 melalui risalahnya - Customs common to the hill tribes bordering on Assam and those of the Indian Archipelago - dimuat dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Kita di Indonesia alpa mengapresiasi J.R. Logan, sementara di Malaysia patung J.R. Logan dipasang di pusat George Town pas seberang gedung Mahkamah Tinggi Penang.

Ujungnya saya ingin berkata mengomentari ketidaktahuan Anies seraya mengenang guru SD di Semarang itu. “Wan, nek ngawur kuwi mbok ojo kegeden ngono. Medeni, tur yo ngisin-ngisini karo jeneng propesore.”

*) Penulis adalah budayawan dan penulis buku.

Artikel Terkait