Hakteknas Ke-22 Dalam Pusaran Revolusi Industri Gen- 4

Agus Puji Prasetyono, M.Eng, adalah Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi bidang Relevansi dan Produktivitas, Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. (Foto:Ist)

Oleh : Dr. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng.

INDONEWS.ID – Seorang pemimpin teknokratik tetap tegar dalam memimpin di negara yang masyarakatnya masih terbelakang dan hidup dari sumberdaya alam, tetapi mampu melakukan lompatan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dipastikan mendapat acungan jempol dan dialah pemimpin visioner yang siap menghadapi Revolusi Industri Gen-4. Dan ini dapat dilihat dari kinerja dan hasil yang telah diciptakan serta kemampuan melakukan scanning for forecash technology. Sementara itu, perkembangan penelitian dan inovasi di bidang teknologi informasi dan elektronika yang diterapkan pada sistem otomatik dan terjadi pada 50 tahun lalu, mendorong lahirnya “Revolusi Industri Gen-4”, yaitu ketika sebuah Negara melahirkan perpaduan teknologi berhasil mengkombinasikan “garis” dan “bentuk” menjadi algoritma digital sebagai pembeda. Bahkan memiliki kecepatan, ruang lingkup, dan sistem operasi digital yang sangat bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan.

Di Indonesia, revolusi industri ditandai dengan pertama kali diciptakannya pesawat bermesin turbo propeller termodern meluncur ke angkasa di atas Kota Bandung pada tanggal 10 Agustus 1995 memakai system kendali modern bernama “fly by wire” dan mengkumandangkan deklarasi bahwa bangsa Indonesia telah masuk ke “Era Tinggal Landas”. Kenapa? Karena pesawat udara canggih yang diterbangkan itu adalah murni buatan para peneliti dan perekayasa asli Indonesia. Gegap gempita tepukan tangan atas prestasi tinggi itu tersiar secara luas di berbagai media nasional bahkan manca negara, menandakan kebanggaan bahwa bangsa ini ternyata mampu melakukan terobosan ilmu pengetahuan dan teknologi menyamai bangsa-bangsa maju lainnya di Dunia.

Tak terbantahkan bila sebagian orang mengatakan “Pesawat canggih saja bisa dibuat, apalagi konstruksi lain yang memiliki tingkat kesulitan lebih sederhana”. Hal itu menunjukkan rasa bangga dan yakin serta memberi motivasi  untuk terus berinovasi tanpa henti. Momentum itu juga telah berdampak pada keberhasilan inovasi di sektor lain seperti hankam, transportasi, industri, kedokteran serta Teknologi informasi dan komunikasi. Karena itulah maka hari pada saat pertama kali pesawat N 250 terbang ke angkasa merupakan hari yang sangat penting sehingga setiap tanggal 10 Agustus tiap tahun diperingati sebagai “HARI KEBANGKITAN TEKNOLOGI NASIONAL (HAKTEKNAS)”.

 

Akankah kita berhenti pada kebanggan itu??

Revolusi Industri Gen-4 didominasi oleh teknologi elektronika yang  berkembang sangat cepat. Teknologi itu telah mengubah strategi dan upaya untuk menemukan pendekatan ideal yang melahirkan teori inovasi baru yang sesuai untuk melakukan berbagai perubahan nyata dalam seluruh sistem produksi, manajemen, dan birokrasi. Momentum Hakteknas ke-22 tahun ini semestinya mampu menjadi katalisator untuk menemukan cara kreatif dan system yang selaras dengan perkembangan industri saat ini, terutama teknologi informasi dan komunikasi yang kini telah menjadi trend yang dinilai mampu melakukan transformasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebenarnya sejak tahun 1997, dampak nyata Revolusi Industri Gen-4 telah diprediksi oleh James Canton di dalam bukunya berjudul “The Extreme Future: the Top Trends that Will Reshape the World in the Next 5, 10, and 20 Years”, menganalisis tentang seputar ramalan transformasi ekonomi dunia dan krisis energi yang akan terjadi pada masa mendatang. Selain itu Canton juga menegaskan bahwa tidak ada cara lain yang bisa digunakan kecuali peran penting ilmu pengetahuan dan teknologi yang dinilai dapat mengubah sebuah bangsa melakukan transformasi industri dalam berbagai bidang fokus. Sejak saat itu berbagai bentuk system dan proses menjadi mendunia, antara lain “innovation economy” yang menegaskan bahwa ‘Paten” harus diimplementasikan dan bermanfaat bagi masyarakat sehingga lahir regenerasi dari Thomas Alva Edison, James Watt dan Albert Eistein.

Di bidang lain, berbagai inovasi berbasis sains dan teknologi semikonduktor dapat dinikmati dengan telah tersedianya komputer yang ukurannya semakin kecil dengan kemampuan dan kecepatan semakin tinggi, juga robot-robot yang bisa menggantikan fungsi manusia dan mendampingi manusia dalam bekerja.

Artikel ilmiah yang sampaikan Klaus Schwab, Executive Chairman World Economic Forum menegakkan hipotesa bahwa saat ini miliaran orang telah terhubung dengan perangkat mobile, penemuan perangkat berkecepatan tinggi untuk pemrosesan data internet, perkembangan kapasitas penyimpanan hard drive telah meningkatkan kapasitas pengetahuan manusia melebihi sistem konvensional yang telah berhasil didapatkan anak-anak di bangku sekolah. Bagaimana akses terhadap ilmu pengetahuan telah begitu terbuka secara nyata tanpa batas dan belum pernah terjadi sebelumnya. Semua ini bukan lagi mimpi, tetapi telah menjadi terobosan teknologi baru di bidang robotika, internet of things, kendaraan otonomous, percetakan berbasis 3-D, nanoteknologi, bioteknologi, material science, penyimpanan energi, dan komputasi kuantum.

 

Tertinggalkah Indonesia?

Negara yang berdaya saing dan memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi di Era Industri Gen-4, tidak akan pernah lepas dari dua faktor utama yaitu : Sumberdaya Manusia Terampil dan Teknologi (terutama teknologi informasi dan komunikasi berbasis digital). Di Indonesia, rendahnya kualitas sumber daya manusia masiih menjadi faktor kendala dalam menyelaraskan arus utama Refolusi Industri Gen-4 ini, dimana saat ini perhatian semestinya diarahkan minimal untuk memperbaiki dua masalah utama.

Pertama adalah bagaimana tingkat pendidikan masyarakat dapat dijadikan “indikator” dan gambaran mengenai kemampuan penduduk dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Solusi kongkritnya seperti yang disampaikan Sudjana, yaitu diperlukan perubahan paradigma baru pembangunan yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja. Pendidikan sebagai subsistem pembangunan harus berorientasi pada pengembangan kemampuan peserta didik untuk siap bekerja dan mampu menciptakan lapangan kerja dengan memanfaatkan potensi-potensi yang terdapat di sekitarnya. Pendidikan perlu mengubah keluaran pendidikan dari worker society ke employee society untuk menjadi entrepreneur society. Karena kemajuan suatu masyarakat dan bangsa tidak ditentukan oleh worker society, melainkan oleh employee society. Oleh karena itu memanfaatkan ilmu pengetahuan menggunakan internet of things diyakini akan jauh lebih efisien dan murah. Dengan itu negara perlu mempertimbangkan besaran nilai investasi pendidikan yang harus dikeluarkan sebanding dengan laju perkembangan digitalisasi.

Kedua, adalah tingkat kesehatan yang dimiliki masyarakat sangat mempengaruhi tingkat produktivitas, artinya jika masyarakatnya sehat maka kemampuan untuk bekerja, berkarya dan berinovasi  sangat tinggi, begitu pula sebaliknya. Perkembangan Revolusi Industri Gen-4 juga menjadi peluang melakukan berbagai penemuan obat untuk penyakit berbahaya seperti kanker atau penyakit lainnya.

Negara kita belum terlambat untuk menata Revolusi Industri Gen-4 ini, sudah saatnya kita berperan sebagai “key player and leader” untuk mentransformasi Indonesia menjadi Negara Industri berbasis digital. Program Negara semestinya diprioritaskan untuk melakukan re-Planning pembangunan Iptek berbasis teknologi digital secara komprehensif dan terintegratif dalam Taman Inovasi Indonesia.

 

Persiapan yang harus dilakukan

Dalam rangka Hakteknas, tidak lengkap jika tidak bicara tentang teknologi digital. Realita yang terjadi saat ini bahwa teknologi digital di Indonesia memerlukan suatu logika baru sesuai dengan prinsip logika dalam teori kuantum yaitu melalui penciptaan Quantum Bit (Qu-Bit). Ketika teknologi informasi dan elektronika terinovasi menggunakan ilmu pengetahuan terkini, maka “Qu-bit” merupakan jawaban yang tepat. Qu-bit menggunakan mekanika kuantum untuk melakukan kodifikasi informasi sebagai 1 dan 0 pada saat yang sama. Injeksi teori “mekanika kuantum” ke dalam “quantum computer” menggunakan fenomena mekanika kuantum dalam bentuk superposition, entanglement, multi-verse dan tunneling. Namun hingga saat ini Quantum Computing masih dalam tahap penelitian dan pengembangan, yang masih memerlukan uji coba berkelanjutan.

Identifikasi McQuail tentang pentingnya sistem digital dalam komputasi, memungkinkan semua jenis informasi diubah ke dalam sebuah format baru yang lebih efisien dan cepat. Jika Negara melakukan optimalisasi teknologi digital dan komputasi maka akan meningkatkan efektivitas pola pikir dan pola tindak, sehingga output bisa dihasilkan dalam waktu yang lebih pendek, berkualitas tinggi dan efisien, sehingga sesuatu yang tidak mungkin dilakukan bahkan masih dalam khayalan dan angan-angan dimasa lalu, memberi dampak terhadap sebuah hasil yang mencengangkan. Kini system digital ini dengan mudah dapat diimplementasikan ke dalam  perangkat elektronika lain seperti televisi, smartphone, bahkan jam tangan digital sudah memanfaatkan teknologi ini.

Seperti yang dikemukakan Erik Brynjolfsson dan Andrew McAfee, revolusi industri dapat menghasilkan peningkatan disparitas tenaga kerja yang dapat mengakibatkan terganggunya pasar tenaga kerja. Ini akibat dampak dari keharusan tenaga kerja memiliki keterampilan dan kapasitas tinggi yang sertifikasi. Namun bila itu dilakukan, diyakini kedepan akan tercipta iklim dan masa depan pekerja yang lebih baik dimana segmen kapasitas pekerja akan terjadi “low-skill/low-pay” dan “high-skill/high-pay”, yang bila sistem itu tidak dilakukan dengan cermat maka akan berdampak pada peningkatan ketegangan sosial. Namun dengan kondisi itu, kedepan tidak menutup kemungkinan semua hal akan dapat ditemukan dan dibuat dalam versi digital. Karena itu pemerintah beserta seluruh jajarannya sudah semestinya mendukung pendanaan dan program penelitian system digital kuantum untuk mengembangkan system komputerisasi kuantum yang lebih efisien dan bermanfaat bagi masyarakat bangsa dan negara.

Persoalan Sumerdaya Manusia dan Teknologi merupakan salah satu alasan mengapa negara dalam “Middle Income Trap” yang tak berkesudahan. Bahkan data empirik mengatakan income pekerja menurun untuk sebagian besar penduduk di negara-negara berpenghasilan tinggi yaitu ketika permintaan akan pekerja terampil meningkat sementara permintaan pekerja dengan pendidikan rendah menurun.

 

Bagaimana Rencana Tindak Lanjut?

Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-22 semestinya dijadikan penyemangat seluruh komponen bangsa untuk melakukan penyelarasan terhadap Revolusi Industri Gen-4  yang memiliki sejumlah  potensi strategis. Jika dilihat secara seksama, potensi yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia antara lain; (a) ikut berperan dalam menaikkan tingkat pendapatan global dan kualitas hidup bagi masyarakat dunia, (b) menghasilkan harga murah dan kompetitif, (c) meningkatkan efisiensi dan produktivitas, (d) menurunkan biaya transportasi dan komunikasi, (e) meningkatkan efektivitas logistik dan rantai pasokan global, (f) mengurangi biaya perdagangan, (g) membuka pasar baru dan (h) mendorong pertumbuhan ekonomi.

Melalui momentum Hakteknas kali ini, hendaknya Negara perlu menyikapi secara arif bahwa baik teknologi maupun kendalanya merupakan kekuatan “eksogen” dimana manusia tidak memiliki kendali atas hal tersebut, kita semua bertanggung jawab untuk membimbing evolusinya dalam keputusan yang kita buat setiap saat baik sebagai warga negara, konsumen, maupun investor. Negara juga harus mengembangkan pandangan komprehensif tentang bagaimana teknologi tidak hanya bermanfaat bagi khasanah ilmu pengetahuan saja, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan, membentuk lingkungan ekonomi, sosial dan budaya. Karena pada akhirnya upaya apapun yang dilakukan untuk mengembangkan, menerapkan dan memanfaatkan teknologi akan bermuara pada orang dan nilai kehidupan.

Melalui peringatan Hakteknas kali ini, tidak mustahil Indonesia akan melakukan transformasi menjadi negara maju selaras dengan gegap gempitanya Revolusi Industri Gen-4 ini, yaitu melalui pemanfaatan dan implementasi teknologi digital dan komputasi kedalam Industri. Namun sejumlah pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan adalah Peningkatan kualitas sumber daya manusia serta penguasaan Teknolgi terutama teknologi digital. Peningkatan kemampuan dan keterampilan sumberdaya manusia  menjadi faktor penting dalam mendorong profesional work force dan analis handal pendorong Industri berbasis digital untuk mencapai daya saing dan kesejahteraan.

Semoga bermanfaat… Salam Inovasi..

Penulis adalah Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi bidang Relevansi dan Produktivitas, Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.