Budaya

Islamic Science And Technology Park

Oleh : adri - Rabu, 31/05/2017 21:31 WIB

Oleh : DR. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng. INDONEWS.ID - Mewujudkan kemandirian industri Indonesia memerlukan upaya deviansi yang terkadang berlawanan dengan hipotesa, hal itu terbukti dengan masih adanya berbagai kegagalan pada sejumlah Industri berbasis teknologi dalam negeri ketika mereka memulai suatu proses akselerasi kualitas dan kuantitas dari sebuah hasil produksi agar dapat diterima pasar secara dinamis, namun adalah dilema ketika banyak juga di antara pelaku industri tersebut terseret masuk kedalam “valley of Death”. Berbagai invensi pemerintah dalam pembangunan berbagai kawasan sebagai pusat motivasi didorong untuk meningkatkan hasil riset agar “melaju” dan berdaya saing tinggi di pasar lokal, nasional dan bahkan mampu mendominasi pasar global, dan salah satu kawasan yang dinantikan menjadi “jargon Inovasi” sebagai upaya kumulatif dalam mempercepat rekayasa penciptaan produk-produk inovatif yang berdaya saing tinggi adalah Science Technology Park (STP). STP merupakan kawasan yang dirancang oleh pemerintah untuk membuat produk-produk inovatif yang berskala pasar secara produktif menggunakan teknologi hasil rekayasa perguruan tinggi, litbang dan bahkan grassroot melalui kerjasama Tripple Helix Strategy ABG (Academia, Business and Government). Namun apakah output yang diharapkan akan mampu bersaing di pasar hingga kini belum terlihat secara signifikan. Kenapa? Sebagian besar STP memiliki berbagai kendala akibat lemahnya beberapa faktor utama diantaranya organisasi, market, partnership, manajemen risiko dan Total Faktor Productivity (TFP). Karena itu tambahan observasi dalam membangun STP yang berdaya saing tinggi memerlukan solusi Komprehensif, Intergral dan holistik, dan salah satu solusi inovatif yang ditawarkan adalah membangun kawasan berdaya saing tinggi berkonsep Islamic Science and Technology Park (Is-STP). Is-STP merupakan penciptaan sebuah kawasan technopark di dalam pemukiman penduduk yang dengan sendirinya akan mengubah perilaku manusia di dalam kawasan tersebut menjadi salah satu faktor utama dalam pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Indonesia itu nyatanya hanya memiliki produksi hasil pertanian, hutan, hasil perikanan, pertambangan, Industri, dan jasa. Sebaliknya Indonesia meng-import barang-barang konsumsi bahan baku dan bahan penolong serta bahan modal. Barang-barang konsumsi digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, minuman, susu, mentega, beras, dan daging, sementara bahan baku dan bahan penolong merupakan barang yang diperlukan untuk kegiatan industri, baik itu sebagai bahan baku maupun bahan pendukung seperti kertas, bahan-bahan kimia, obat-obatan dan kendaraan bermotor. Jika Paradigma technopark hanya diadopsi untuk membuka suatu lahan terbuka yang kemudian disewakan untuk meningkatkan kekayaan komunitasnya dengan mempromosikan budaya inovasi dan daya saing bisnis, maka Is-STP berperan lebih besar dari itu. Karena sejatinya inovasi adalah menterjemahkan ide ke dalam bentuk penemuan yang berbentuk barang atau jasa yang memiliki nilai jual, menyebut “inovasi” berarti bagaimana sebuah gagasan harus dapat ditiru dengan biaya yang sangat ekonomis dan harus memenuhi kebutuhan spesifik. Jawaban besar dari gagalnya inovasi teknologi di Indonesia adalah bangsa ini telah lupa dengan apa yang sebenarnya telah dimiliki selama berabad abad, yaitu bagaimana tanah, hutan dan laut kita tidak lagi menjadi “mimpi buruk” yang mengakibatkan ketidakmampuan mencapai swasembada beras, sejatinya Indonesia adalah negara agraris yang sangat luas, pernahkah kita memperhatikan kesejahteraan petani? Nilai Tukar Petani yang rendah belum mencerminkan kesejahteraan petani, banyak dari mereka yang menjual lahan pertaniannya dan dialihfungsikan menjadi perumahan. Kita tidak pernah menikmati hasil bumi dan tambang kita yang melimpah. Keterbelakangan teknologi justru menguntungkan pihak lain dalam mengelola dan mengambil hasil tambang kita, sedangkan kita setinggi-tingginya hanya mendapatkan pemasukan dari pajak dan upah buruh. Is-STP dengan sendirinya merubah perilaku manusia di dalam kawasan tersebut menjadi “pedagang pedagang” yang mampu menguasai pasar eksport-import dengan dilandasi kejujuran, Sesungguhnya sebaik-baik penghasilan ialah penghasilan para pedagang yang mana apabila berbicara tidak bohong, apabila diberi amanah tidak khianat, apabila berjanji tidak mengingkarinya, apabila membeli tidak mencela, apabila menjual tidak berlebihan (dalam menaikkan harga), apabila berhutang tidak menunda-nunda pelunasan dan apabila menagih hutang tidak memperberat orang yang sedang kesulitan. Memperdagangkan hasil inovasi teknologi adalah tujuan akhir dari Is-STP. Penciptaan kawasan Is-STP dimulai dengan memastikan kepadatan penduduk yang secara otomatis menjadi faktor utama dalam penciptaan lapangan kerja murah dengan “nilai-tukarnya” adalah ilmu pengetahuan dan teknologi, berbagai metode komparatif, historis, studi kasus dan kepustakaan dari ilmu pengetahuan dan teknologi akan memunculkan nilai dominan yang didapatkan dari sebuah universitas riset islam yang secara khusus diperuntukkan untuk manusia di dalam kawasan tersebut tanpa adanya rentan batasan umur, siapa saja dapat belajar dan mengaplikasikan iptek di universitas ini. Secara spesifik universitas ini memberikan peluang kepada siapa saja untuk menginovasi “harta kekayaan Indonesia” yang tidak ternilai yaitu produksi hasil pertanian, hutan, hasil perikanan, pertambangan, Industri, dan peningkatan jasa yang kemudian dinovasikan sedemikian rupa hingga mencapai peningkatan harga jual produksi tersebut. Secara detail pembangunan kawasan Is-STP dimulai dengan: Pertama, pembangunan Islamic science university adalah bagaimana memerankan ulama dan mentransformasikan mereka menjadi cendikiawan, karena di dalam perspektif keislaman terdapat banyak sekali “dalil dalil” yang menjadi acuan peneliti dunia dalam mengembangkan penelitian di bidang Ilmu dan Pengetahuan, seperti kedokteran, pemerintahan, astronomi, matematika, geologi dan cabang ilmu pengetahuan lain. Disinilah peran Al Qur’an menjadi penting. Ketika nilai aqidah keislaman telah menjadi landasan IPTEK maka berbagai cabang ilmu seperti astronomi, geologi, agronomi maupun cabang cabang ilmu tersebut akan kempali sesuai tuntunan sang penciptanya, yaitu akan tersusun sebuah konsep iptek yang berstandar kepada Al Qur’an & Al Hadits, Kedua, pembangunan infrastruktur perbankan islam, sistem perbankan berbasis keislaman adalah perbankan yang tunduk pada ketentuan perundangan yang dibentuk berdasarkan keputusan ulama yaitu iaitufiqh muamalat yang berasal dari Al Quran dan Al-Sunnah dan sumber Islam sekunder lain seperti kesepakatan pendapat oleh ulama mujtahid tentang sesuatu hukum Syariah (ijma), menyamakan perkara baru yang “tiada nas” secara analogi (qiyas) dan hasil usaha daripada para mujtahid dalam merumuskan sesuatu hukum dan nilai melalui kaidah istinbat (ijtihad). Lebih ideal jika sistem perbankan ini dibentuk sesuai peratuturan perundangan untuk tunduk pada jabatan komite syariah sebagai pembimbing dalam penyiapan berbagai keputusan yang akan memastikan bahwa fungsi bank tersebut adalah mematuhi kehendak Syariah. Beberapa konsep asas muamalat syariah yang digunakan dalam perbankan ini nantinya akan menjadi fondasi utama Is-STP dengan produk perbankan yang ditawarkan seperti Wadi’ah (Simpanan), Mudarabah (bagi hasil keuntungan), Bai Bithaman Ajil-BBA (Penjualan Dengan Harga Tertangguh), Murabahah, Musyarakah (usaha bersama), Ijarah Thumma Bai’ (Sewa Beli), Wakalah (penciptaan wakil agensi penjualan), Qard (Kontrak Hutang), dan Hibah (Hadiah). Ketika sistem perbankan ini terbentuk maka dengan sendirinya permasalahan modal akan dapat diselesaikan dengan sangat elegan. Ketiga bagaimana menciptakan “kawasan praktek berinovasi”, dari sinilah kenapa dibutuhkan kawasan penduduk sebagai pendukung utama kawasan Is-STP, melalui kawasan penduduk ini maka teori Henry Chesbrough tentang konsep open-innovation dapat terimplementasi dengan baik, ketersediaan sumberdaya manusia melalui kawasan penduduk merupakan tempat paling ideal dalam implementasi sistem inovasi terbuka, dimana hasil riset dari universitas dapat dipraktekan langsung melalui rumah masing masing sebagai proses pembelajaran para innovator melalui pasar yang mereka ciptakan sendiri dengan murah, yaitu lingkungan perumahan sebagai pasar langsung sebelum meraih pasar yang lebih luas, atas dasar tersebut maka arus masuk dan arus keluar yang “disengajakan” untuk mempercepat inovasi internal, dan memperluas pasar untuk penggunaan inovasi eksternal secara keseluruhan. Inovasi terbuka adalah konsep sebagai celah antara bisnis dan akademisi. Secara konseptual, pendekatan inovasi yang terdistribusi, lebih partisipatif, dan lebih terdesentralisasi, didasarkan pada fakta bahwa pengetahuan yang berguna saat ini dapat didistribusikan secara luas tanpa memerluka perusahaan. Keempat, penciptaan rantai jual beli eksport dan import, konsep besar dari Is-STP adalah bagaimana menciptakan rantai jual beli hasil produksi dengan murah, maksudnya adalah ketika bahan baku telah berhasil di-inovasi maka selanjutnya adalah bagaimana proses packaging dilakukan diluar kawasan ini, sebagai contoh, jika target import adalah penduduk timur tengah, maka kawasan ini harus mampu menciptakan kawasan “pengepakan barang” di lokasi provinsi yang jarak tempuh ekspor terdekat dari pelabuhan terluar menuju Negara tujuan. Jhon Stuart Mill dalam teorinya menjelaskan perdagangan dimulai ketika adanya permintaan terhadap suatu barang dan jasa, tanpa melihat ongkos, tetapi secara implisit masih diperhitungkan. Walaupun ongkos murah kalau tidak ada permintaan tentunya tidak ada pula perdagangan. Is-STP harus mampu menciptakan konsep Kawasan Perdagangan Export-Import sebagai pintu keluar dan masuk perdagangan Indonesia menuju ASEAN-ASIA-TIMUR TENGAH dan EROPA. Kawasan ini fokus hanya melayani kebutuhan eksport dan import kebutuhan penduduk Indonesia saja. Tidak perlu sehebat pelabuhan Singapura, tetapi bagaimana bahan baku kita bisa masuk dan keluar dengan sangat cepat. Jika jalur masuk dan keluar di kawal dengan baik operasionalnya maka dengan sendirinya kawasan perdagangan laut akan jauh lebih murah. Lima manfaat perdagangan internasional adalah; (1) Efisiensi melalui perdagangan internasional, dimana setiap negara tidak perlu memproduksi semua kebutuhannya, tetapi cukup hanya memproduksi apa yang bisa diproduksinya dengan cara yang paling efisien dibandingkan dengan negara-negara lain. sehingga, akan tercipta efisiensi dalam pengalokasian sumber daya ekonomi dunia. (2) Perluasan konsumsi dan produksi. Perdagangan internasional juga memungkinkan konsumsi yang lebih luas bagi penduduk suatu negara. (3) Peningkatan produktifitas. Negara-negara yang berspesialisasi dalam memproduksi barang tertentu akan berusaha meningkatkan produktivitasnya. Dengan demikian mereka akan tetap unggul dari negara lain dalam memproduksi barang tersebut, serta sebagai (5) Sumber penerimaan Negara. Dalam perdagangan internasional juga bisa menjadi sumber pemasukan kas negara dari pajak-pajak export dan import. Semoga bermanfaat... Penulis adalah Staf Ahli Menteri bidang Relevansi dan Produktivitas, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, RI.
TAGS :

Artikel Terkait