Gaya Hidup

Kebaya, Kopi dan Buku: Refleksi Kebangsaan Merayakan Kebhinekaan

Oleh : adri - Jum'at, 11/08/2017 22:49 WIB

Jakarta, INDONEWS.ID- Banyaknya gesekan di ruang sosial media akibat perbedaan paham, garis politik, kesenjangan ekonomi dan berbagai sebab lain membuktikan bahwa bangsa Indonesia perlu adanya penyegaran kembali terhadap kemajemukan bangsa Indonesia. Dalam rangka memperingati ulang tahun republik Indonesia ke-72, Ruang Peduli dan Berbagi, Kebaya, Kopi dan Buku bekerjasama dengan Bakti Budaya, Djarum Foundation dan Joglo Group, Jumat (11/8/2017) mencoba merefleksikan kebangsaan merayakan kebhinekaan melalui sudut pandang budaya yang saat ini sudah mulai terkikis oleh pengaruh dunia luar. Menurut Budayawan senior Slamet Rahardjo, Indonesia laboratorium alami mengenai pluralisme. Karena sejak zaman dahulu semua suku dan agama bisa hidup rukun berdampingan tanpa harus terpecah belah hanya karena perbedaan paham. “Karena itu, saya mengaku sedih saat pilkada DKI lalu. Warga Jakarta yang merupakan miniatur Indonesia bisa terpecah-pecah. Namun saya harap setelah Pilkada selesai semua dapat merajut kembali menjadi bangsa yang pluralis. Karena kekuatan dan besarnya bangsa ini berasal dari perbedaan-perbedaan suku dan adat istiadat budaya yang ada di tanah air,” kata Slamet kepada INDONEWS di Balai Sarwono Kemang Jakarta Selatan. Hal yang sama juga dikatakan oleh Budayawan sekaligus penyanyi keroncong Endah Sri Muwarni atau yang dikenal dengan Endah Laras. Menurut Endah, saat ini toleransi yang dulu sangat dikenal sebagai ciri dari bangsa Indonesia sudah mulai terkikis oleh beberapa faktor. Seperti faktor budaya, kesenjangan, hingga pendidikan. “Saat ini keegoisme yang ada pada diri setiap orang Indonesia sudah mulai dikedepankan. Padahal jika masalah itu bisa ditahan, bangsa kita bisa lebih kuat dan maju. Sehingga, tidak ada lagi yang merasa satu sama lain merasa lebih hebat dari lainnya, “ ujar Endah. Sementara itu, Budayawan yang juga wartawan senior Maman Suherman menilai, maraknya perbedaan diantara anak bangsa saat ini disebabkan adanya faktor kepentingan. Seperti, seorang politisi yang dulunya aktif menyuarakan kemajuan dan persatuan Indonesia, karena sudah bergabung dengan partai politik maka yang bersangkutan akan menyuarakan sesuai keinginan garis partai. “ Padahal sebelum orang tersebut bergabung dengan partai, suara hati orang Indonesia itu adalah sama. Sebab Orang-orang Indonesia ini sejak ari dulu memiliki perasaan yang sama yaitu satu bangsa dan satu tanah air,” ungkap Maman. Karena itu, Maman menambahkan, dengan kita berfikir berdiri untuk kepentingan bangsa dan bukan kepentingan pribadi atau golongan, perbedaan yang ada saat ini bisa dirajut kembali untuk menjadi modal kekuatan bangsa besar. Karena untuk menjadi bangsa yang besar, harus mengesampingkan persoalan pribadi dan golongan. Namun lebih didahulukan kepentingan bangsa dan bernegara. (hdr)
TAGS :

Artikel Terkait