Bisnis

Luhut: NU Harus Jadi Tulang Punggung Ekonomi RI

Oleh : adri - Kamis, 06/04/2017 22:36 WIB

Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan dalam acara sarasehan Himpunan Pengusaha Nahdliyyin, di Pondok Pesantren Luhur Al Tsaqafah, Kamis (4/6/2017). (Foto: Ist)
  Jakarta, INDONEWS.ID - Menteri Koordinator Maritim Luhut Binsar Panjaitan mengajak para pengusaha nahdliyin yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN), untuk ikut serta menciptakan pemerataan pembangunan. Hal tersebut didasari oleh besarnya sumber daya NU yang anggota mencapai 90 juta orang di seluruh Indonesia. Mereka juga dinilai dekat dengan ekonomi kerakyatan, sehingga bisa cepat membantu mewujudkan misi pemerataan pembangunan yang dicanangkan pemerintahan Presiden Joko Widodo. "Pesantren itu bisa menjadi tempat ekonomi kerakyatan berjalan. Apalagi sekarang dana desa ada. Bagaimana kita kaitkan dana desa, dengan pembangunan itu. Bagaimana orang NU ini memainkan peran sentral. Jadi NU tidak jadi pelengkap penderita, justru jadi backbone-nya RI. Pemerintah tahu persis itu," kata Luhut saat menjadi pembicara dalam acara sarasehan Himpunan Pengusaha Nahdliyyin, di Pondok Pesantren Luhur Al Tsaqafah, Kamis (4/6/2017). Selain Luhut Binsar Pandjaitan, sarasehan tersebut juga dihadiri Menteri Perhubungan Budi Karya, Ketua Umum PBNU KH Sa'id Aqil Siroj, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nahdliyyin, Abdul Kholik, dan para undangan. Untuk mewujudkan hal tersebut, Luhut berjanji akan mencari mitra perusahaan besar untuk bisa bekerjasama dengan pengusaha kecil dan menengah. "Kita bisa dorong ekonomi kerakyatan dan pemerataan itu timbul. Nanti kita cari God Father-nya, perusahaan-perusahaan yang kaya kita masukkan. Atau yang sudah maju, kita dorong untuk masuk ke berbagai bisnis (pengusaha NU) yang ada. Jangan hanya orang-orang yang itu-itu saja yang dapat," kata Luhut. Namun demikian, Luhut meminta para anggota NU yang telah terjun ke dunia bisnis agar bisa disiplin dan profesional dalam menjalankan usaha, sehingga bisa bekerja sama dengan pelaku usaha lainnya. "Mereka yang masuk dalam bisnis harus profesional. Tidak bisa juga hanya mengharapkan pemerintah bantu-bantu saja, tapi juga harus profesional, disiplin. Perhitungan harus cermat. Karena sekarang kita sudah globalisasi, kita sudah bersaing terbuka. Kalau kita tidak profesional, nanti kita akan dijajah secara ekonomi oleh orang lain," katanya. Menurutnya, NU menjadi salah satu pilar untuk menjaga NKRI. Namun juga harus mau ikut membangun secara profesional. "Kita tiru teman-teman kita yang Tionghoa itu. Ini kadang teman-teman, begitu hidup gede sedikit, sudah hidup lifestyle-nya gimana atau apa. Saya lebih tua dari Bapak/Ibu sekalian, jadi bolehlah kasih saran," ujar Luhut. Ekonomi Tidak Pasti Luhut mengatakan, kondisi perekonomian dunia saat ini masih tidak pasti. Ketidakpastian tersebut sudah terjadi dalam 10 tahun terakhir. "Sebenarnya, ekonomi dunia selama 10 tahun terakhir ini tidak terlalu baik, banyak gonjang-ganjingnya. Dan ini baru kali ini, ada masalah ekonomi dunia seperti ini," katanya. Hal ini ditambah lagi oleh kondisi keamanan seperti di Timur Tengah yang sampai saat ini masih belum stabil. Karena itu, Luhut berharap, kejadian seperti di Timur Tengah tidak terjadi di Indonesia. NU juga diharapkan mampu ikut bekerja sama melakukan upaya pemerataan yang tengah menjadi perhatian besar pemerintah. "Oleh karena itu, peran dari NU karena warganya banyak yang di daerah, itu harus didorong. Ada peran pedagang juga, apa yang bisa dimainkan di sektor-sektor seperti pertanian, perikanan. Nanti kita coba gain itu jadi suatu peluang yang bagus," katanya. Sebelumnya, Abdul Kholik berjanji bahwa saudagar-saudagar NU akan senantiasa berperan meningkatkan perekonomian Indonesia. "Saudagar NU akan siap meningkatkan peran demi kemajuan perekonomian di Indonesia," kata Kholik. (Very)
TAGS :

Artikel Terkait