INDONEWS.ID

  • Jum'at, 26/10/2018 16:35 WIB
  • LIPI Kembangkan Super Konduktor dan Elektroda Baterai Lithium

  • Oleh :
    • hendro
LIPI Kembangkan Super Konduktor dan Elektroda Baterai Lithium
Peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI Agung Imaduddin menyampaikan paparannya mengenai super konduktor

Jakarta, INDONEWS.ID - Untuk menambah sumber daya mineral dalam negeri dalam bentuk pengembangan material berbahan baku lokal, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah mengembangkan penelitian terkait superkonduktor berbahan baku lokal dan elektroda baterai litium berbahan baku tempurung kelapa.  

Peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI Agung Imaduddin menyampaikan, konsumsi listrik Indonesia pada 2017 mencapai 1.012 Kilowatt per Hour (kWh)/kapita, naik 5,9 persen dari tahun sebelumya. Pada tahun ini pun pemerintah menargetkan konsumsi listrik masyarakat akan meningkat menjadi 1.129 kWh/kapita.

"Indonesia memiliki berbagai sumber daya mineral yang dapat dimanfaatkan dalam bidang kelistrikan, namun ketergantungan Indonesia masih banyak bergantung pada impor material maju," kata Agung di Media Center LIPI Jakarta, Jumat (26/10).

Menurut dia, sejak tahun 2010, permintaan superkonduktor di pasar global naik secara signifikan, khususnya superkonduktor tipe High Temperature Superconductors (HTS). Hal ini karena penerapan material superkonduktor dapat mengurangi energy loss dan ramah lingkungan.

Sementara itu, Achmad Subhan dari Pusat Penelitian Fisika LIPI saat ini tengah mengembangkan baterai lithium dengan elektroda dari tempurung kelapa. “Tempurung kelapa memiliki bahan karbon aktif yang digunakan sebagai aditif dalam proses pembuatan elektroda. Bahan aditif karbon ini digunakan untuk meningkatkan nilai konduktifitas listrik baik ionik maupun elektronik,” jelasnya.

Achmad menambahkan, penggunaan karbon aktif yang optimum seperti tempurung kelapa sebagai komponen elektroda baterai lithium, dapat meningkatkan nilai kapasitas dan kemampuan daya baterai yang lebih tinggi. “Dengan biaya yang lebih rendah dapat menghasilkan produk elektroda yang lebih tinggi performanya,” paparnya.

Senada dengan Agung, ia memaparkan, proses pembuatan karbon aktif yang sesuai untuk kebutuhan industri baterai sangat berpotensi untuk dikembangkan.  “Pengembangan dari proses biomas menjadi karbon aktif dalam skala industri perlu dilakukan agar sesuai dengan kebutuhan apliklasinya dalam proses fabrikasi baterai lithium,” pungkasnya.(hdr)

Artikel Terkait
Artikel Terkini
Perdana Menteri Papua Nugini Berkomitmen Tingkatkan Kerjasama dengan Indonesia
Lakukan Ilegal Fishing, KKP Tangkap KIA Malaysia di Selat Malaka
Indonesia Jalin Kembali Kerjasama di Bidang Kekayaan Intelektual dengan Tiongkok
Sayuran Rejang Lebong Dilabel Sertifikat Prima 3
Indonesia Tegaskan Komitmennya Lanjutkan Moratorium Hutan
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
legolas