INDONEWS.ID

  • Rabu, 10/07/2019 17:40 WIB
  • Gunakan Jempol Secara Bijak, Jangan Sampai Indonesia Terpecah-pecah

  • Oleh :
    • very
Gunakan Jempol Secara Bijak, Jangan Sampai Indonesia Terpecah-pecah
Analis Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio.(Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Eforia media sosial (medsos) terutama selama pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 telah membuat kondisi sosial kemasyarakat bangsa Indonesia menjadi bergeser. Masyarakat Indonesia yang dulu dikenal ramah dan santun menjadi mudah marah, yang dulu guyub dan suka musyawarah menjadi manusia yang egois dan menang sendiri. Bahkan medsos juga untuk menyuarakan narasi-narasi negatif seperti intoleransi, radikalisme, terorisme, dan ekstremisme.

“Kegaduhan di medsos ini ada kaitannya dengan kebebasan berpendapat pemilik akun medsos. Makanya jauh-jauh hari saya katakan pemilik akun media sosial seharusnya memiliki tanggung jawab terhadap dirinya, terhadap lingkungan sekitarnya, terhadap hari ini, terhadap masa depan,” ujar pengamat komunikasi politik Dr. Hendri Satrio, di Jakarta, Rabu (10/7/2019).

Baca juga : Pokja-24 Paroki St. Paulus Depok Gelar Sosialisasi Pemilu 2024, Pilih Calon Secara Cerdas dan Bijak

Hendri menilai, medsos telah membuat masyarakat keblinger sehingga gempuran narasi intoleransi, radikalisme, terorisme, ektremisme, banyak berseliweran di dunia maya. Hal ini tidak bisa dibiarkan, agar kondisi sosial kemasyarakatan baik di dunia maya dan dunia nyata bisa lebih sejuk, damai, guyub, sesuai ciri utama bangsa Indonesia.

Salah satu cara untuk mengembalikan itu semua, kata Hendri, bagaimana pemilik akun dan dunia maya yaitu media online menyuarakan narasi yang menyejukkan, dan tidak lagi mengunggah konten berbau radikalisme, terorisme, dan intoleransi.

Baca juga : Rizal Ramli: Jokowi Telah Menyalahgunakan Kantor Kepresidenan untuk Membangun Dinasti Keluarga

“Kita harus kembali ke kaidah atau atau warisan pendiri bangsa. Ada banyak teknologi yang ditinggalkan pendiri bangsa untuk Indonesia seperti musyawarah mufakat, toleransi, tepo seliro di dunia nyata dan dunia maya,” tutur Hendri.

Berbicara tentang medsos dan berbagai fenomena yang ditimbulkan, Hendri mengungkapkan, hal ini juga tidak lepas dari kepemimpinan bangsa. Menurutnya, para pemimpin bangsa harus walk the top dan mampu memberikan contoh kepada masyarakat dengan menghindari isu tentang radikalisme, terorisme, dan intoleransi. Para pemimpin harus bisa mengajak masyarakat agar tidak memberikan stigma radikal, intoleran, ekstremis kepada orang Indonesia lainnya.

Baca juga : Hendri Satrio: Puan Paling Rasional Diusung PDIP pada Pilpres 2024

“Yang boleh memberikan stigma radikal, ekstremis, intoleransi hanya hukum. Jadi tidak boleh individu yang memberikan stempel negatif kepada orang lain. Kalau itu terjadi, Insya Allah musyawarah mufakat, tepo seliro, toleransi, dan persatuan Indonesia bisa terwujud dengan baik,” ungkap founder lembaga survei KedaiKOPI ini.

Hendri setuju bila kebebasan yang bertanggung jawab itu tetap diberikan kepada para pengguna akun medsos. Tentunya pegiat medsos terutama para pengguna akun berbayar untuk sebuah pesan tertentu bisa dikurangi, terutama hal yang berbau politik.

“Ini memang harus ditertibkan, akan sulit bila akun berbayar yang masih diberikan pekerjaan untuk menyampaikan isu tentang politik yang bisa menyebabkan bangsa ini tetap panas. Silakan saja bila hal tentang marketing dan sisi kreativitas yang lain,” kata akademi Universitas Paramadina ini.

Hendri juga mengimbau agar pemerintah secara berkala harus memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang penggunaan medsos yang bertanggung jawab. Diakui, saat ini memang beda dengan 10-15 tahun lalu saat media konvensional berkuasa, dimana medsos leading mengalahkan media konvensional. Kalau dulu orang tidak bisa memilih apa yang dibaca, sekarang masyarakat bebas berselancar di dunia maya. Untuk itu, kembali Hendri mengajak semua pihak agar bijaksana, terutama saat beraktivitas di medsos.

“Gunakan  jempol sebaik-baiknya, jangan sampai gara-gara jempol kita, Indonesia terpecah belah,” pungkasnya. (Very)

 

Artikel Terkait
Pokja-24 Paroki St. Paulus Depok Gelar Sosialisasi Pemilu 2024, Pilih Calon Secara Cerdas dan Bijak
Rizal Ramli: Jokowi Telah Menyalahgunakan Kantor Kepresidenan untuk Membangun Dinasti Keluarga
Hendri Satrio: Puan Paling Rasional Diusung PDIP pada Pilpres 2024
Artikel Terkini
Bakti Sosial dan Buka Puasa Bersama Alumni AAU 93 di HUT TNI AU ke-78
Satgas BLBI Tagih dan Sita Aset Pribadi Tanpa Putusan Hukum
Gelar Rapat Koordinasi Nasional, Pemerintah Lanjutkan Rencana Aksi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan
Pj Bupati Maybrat Diterima Asisten Deputi Bidang Pengembangan Kapasitas SDM Usaha Mikro
Pj Bupati Maybrat Temui Tiga Jenderal Bintang 3 di Kemenhan, Bahas Ketahanan Pangan dan Keamanan Kabupaten Maybrat
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
legolas