INDONEWS.ID

  • Senin, 30/09/2019 12:30 WIB
  • BNPB Sebut Karhutla di Sumatera dan Kalimantan Segera Berakhir

  • Oleh :
    • Marsi Edon
BNPB Sebut Karhutla di Sumatera dan Kalimantan Segera Berakhir
Perkembangan kondisi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia per 29 September kemarin .(Foto:Dokumentasi BNPB)

Jakarta, INDONEWS.ID - Pelaksana tugas Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB,Agus Wibowo menerangkan, sejak kedatangan Presiden Joko Widodo dalam rangka Rapat Terbatas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) bersama kementerian dan lembaga terkait di Riau pada tanggal 16 September 2019 lalu, operasi pemadaman karhutla menggunakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) lebih diintensifkan.

Agus menjelaskan, Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengerahkan 4 pesawat bersama para personelnya untuk membantu proses TMC yang masing-masing dibagi di dua tempat, yakni 2 di Sumatera dan 2 di Kalimantan. Upaya TMC yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membuahkan hasil.


"Hujan turun di beberapa tempat yang menjadi daerah operasi TMC seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan sebagainya.Hasil analisa BMKG menunjukkan bahwa jumlah titik api dengan confident level >50% per provinsi dalam kurun waktu 21-27 September 2019 sudah turun sampai 90 persen," kata Agus dalam keterangan tertulisnya kepada media, Jakarta,(29/09/2019) kemarin.

Pantauan Minggu (29/9) hingga pukul 15.30 WIB di wilayah Sumatera menunjukkan bahwa secara umum kondisi cuaca terpantau cerah berawan hingga hujan. Jarak pandang di beberapa bandara di Pulau Sumatera terpantau berada pada level baik, dengan visibility lebih dari 5 km. Data sementara yang berhasil dihimpun, jarak pandang di Pekanbaru mencapai 6 km (berawan), Rengat - Indragiri Hulu 5 km (hujan), Jambi > 10 km (berawan), dan Palembang > 10 km (berawan).


Berdasarkan pantauan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) hingga pukul 16.00 WIB menunjukkan bahwa titik api dengan kategori sedang dan tinggi terdeteksi masing-masing berada di Riau dengan 3 titik, Muaro Jambi 1 titik, dan Sumatera Selatan 124 titik. Hal tersebut menunjukkan bahwa titik api terpantau cenderung berkurang.

Sementara itu, pantauan cuaca yang dilakukan di Pulau Kalimantan menunjukkan bahwa kondisi cuaca cerah, berawan hingga hujan. Sedangkan untuk jarak pandang terpantau sudah lebih dari 5 km. Kendati demikian, asap tipis masih terpantau berada di wilayah Palangkaraya - Kalimantan Tengah dan Banjarmasin - Kalimantan Selatan.

Beberapa data hasil pantauan jarak pandang dan cuaca di wilayah Kalimantan meliputi; Pontianak > 10 km (berawan), Pangkalan Bun > 10 km (berawan), Sampit 7 km (berawan), Palangkaraya 3.5 km (berasap) dan Banjarmasin 9 km (berasap). Sedangkan pantauan titik api kategori sedang dan tinggi hingga pukul 16.00 WIB terdeteksi masing-masing di Kalimantan Barat dengan 4 titik, Kalimantan Selatan 4 titik, dan Kalimantan Selatan 4 titik.

Secara umum program pemadaman yang dilakuan oleh Satgas Gabungan dari Kementerian dan Lembaga Pemerintah pusat seperti BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Sosial (Kemsos), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), BPPT, BMKG, LAPAN, TNI, Polri dan juga Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota sudah membuahkan hasil.

Merujuk pada tren laporan yang dihimpun berdasarkan citra satelit terkini dan tinjauan langsung di lapangan, bisa disimpulkan bahwa episode karhutla 2019 tak lama lagi segera usai. Oleh karena itu, dari seluruh pencapaian atas hasil usaha pemadaman darat, udara dengan water bombing dan TMC, ditambah prediksi BMKG tentang musim hujan yang akan segera datang semakin membuat kami optimis bahwa bencana asap karhutla ini akan segera berlalu.*

Artikel Terkait
Artikel Terkini
Kemendagri Nilai PKPU Pencalonan Kepala Daerah Tidak Bertentangan dengan UU
Bangun Kemitraan dengan Media, Seameo Biotrop Gelar Promosi Exposure
Presiden Minta Relawan Projo Syukuri Pertumbuhan Ekonomi Indonesia yang Cendrung Stabil
Kinerja Keuangan Paling Buruk, Direksi Garuda Perlu Dirombak
BNPB dan Arsip Nasional Beri Pelatihan Selamatkan Dokumen Saat Bencana
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
eowyn