INDONEWS.ID

  • Minggu, 17/11/2019 17:14 WIB
  • Lala Gozali: Sudah Lama Saya Jatuh Cinta pada Lurik

  • Oleh :
    • very
Lala Gozali: Sudah Lama Saya Jatuh Cinta pada Lurik
Lala Gianti berpose di depan booth pameran “Fashion Show ISEF 2019” yang bertema “Sustainable and Ethical Fashion” yang dibuka pada 14-15 November 2019. (Foto: Indonews.id)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Salah satu booth pameran “Fashion Show ISEF 2019” yang bertema “Sustainable and Ethical Fashion” yang dibuka pada 14-15 November 2019 yaitu Gianti, Roemah Kain & Badjoe Tenoen, Loerik, dan Batik.

Terletak di pojok pameran, booth ini menjadi salah satu yang ramai dikunjungi. “Lumayan ramai juga dikunjungi,” ujar Lala Gozali, sang pemilik pameran tersebut kepada Indonews.id saat ditanya terkait pamerannya tersebut.

Baca juga : Perjalanan Epik Menuju Rumah: Pengalaman Seru dari Ranca Buaya hingga Cibubur

Dia mengatakan, kain yang dipamerkannya itu berasal dari Depok, jadi bukan buatannya sendiri. Dia hanya memasarkannya saja.

“Sudah lama saya jatuh cinta pada lurik walaupun hanya garis-garis vertikal dan horizontal. Saya melihat keindahan di balik kesederhanaanya,” ujarnya ketika ditanya alasannya tertarik pada jenis kain tersebut.

Baca juga : Lagu Rujak Maznah ke Tuju ! Popular di Radio Bandung dan Jakarta

Dari kesederhanaan itu, dia bebas berekspresi yang dimainkan oleh garis-garisnya.  

Dipadupadankan antar lurik satu dengan lurik yang lain, antar motif satu dengan motif lainya, juga dipadupadankan dengan kain lainnya. “Ada harmoni yang indah,” ujarnya menjelaskan motif kain yang tampak sederhana namun indah itu.

Baca juga : Prof Tjandra: Tahun Ini Mungkin Menjadi Tahun Terburuk Dengue di Benua Amerika

Lala mengatakan, bahwa nama Gianti itu diambil dari nama anak perempuannya.

Dalam pameran dan Fashion Show ISEF 2019 itu, dia mempersembahkan kreasi busana muslimah siap pakai dari bahan lurik katun pewarna alam yang dipadupadankan dengan produk Eco Print yang selaras warnanya.  

Dia mengatakan, ada delapan (8) looks untuk Fashion Show kali ini, yang terdiri dari outer, inner, top, tunic dan trousers pants.

Mempraktekkan konsep Zero Waste Fashion, beberapa looks memanfaatkan kain sisa/percanya untuk aplikasinya. Aksesoris sebagai pelengkap berupa selendang/scarf, obi dan tas juga dibuat dengan memanfaatkan kain sisa/percanya.

Selain itu, ada kalung berbahan dasar daun tenun Ulap Doyo, manik-manik dan batu-batuan khas Kalimantan Timur dengan lapisannya dari kain perca lurik, dikenakan untuk menambah lengkapnya penampilan. “Busana ini dikenakan oleh wanita yang senang berpenampilan sederhana, dan elegan,” ujar Ibu asal Bekasi, Jawa Barat itu.

Lala mengatakan, untuk satu kain dijual dengan harga yang cukup murah, antara Rp500-1.000 juta rupiah. Namun, ada juga yang harganya satu juta ke atas, tergantung pada kerumitan membuatnya. Sedangkan selendang dihargai Rp300 ribu rupiah. (Very)

 

Artikel Terkait
Perjalanan Epik Menuju Rumah: Pengalaman Seru dari Ranca Buaya hingga Cibubur
Lagu Rujak Maznah ke Tuju ! Popular di Radio Bandung dan Jakarta
Prof Tjandra: Tahun Ini Mungkin Menjadi Tahun Terburuk Dengue di Benua Amerika
Artikel Terkini
Kerja Sama Indonesia-Singapura Terus Berlanjut, Menko Airlangga Bahas Isu-Isu Strategis dengan Menteri Luar Negeri Singapura
Serius Maju Pilgub NTT 2024, Ardy Mbalembout Resmi Mendaftar di DPD Demokrat
Sekjen Kemendagri Dorong Pemprov DKI Jakarta Optimalkan Pengelolaan Urbanisasi
Peringati Hari Kartini, Ketua DWP Kemendagri Bicara Soal Pemimpin Wanita Masa Kini
Pj Bupati Maybrat Jajaki Kerjasama dengan Asdep Pengembangan Logistik Nasional
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
legolas