Bisnis

Jokowi Sorot Impor Gula dan Kedelai, Rizal Ramli: Bukankah Masih Doyan Impor, Berhenti Buat Drama

Oleh : very - Selasa, 12/01/2021 12:16 WIB

Rizal Ramli, ekonom senior. (Foto: ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa pembangunan pertanian nasional perlu dibenahi secara serius. Untuk itu, Presiden Jokowi menyoroti jutaan komoditas pangan strategis yang sampai saat ini kerap diimpor seperti gula dan kedelai.

Hal tersebut dikatakan Presiden Jokowi saat meresmikan pembukaan rapat kerja nasional pembangunan pertanian tahun 2021 di Istana Negara, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

"Kedelai hati-hati, gula hati-hati, ini yang masih jutaan-jutaan. Jutaan ton. Bawang putih, beras, meskipun ini sudah hampir 2 tahun kita nggak impor beras. Saya mau lihat betul di lapangannya apakah bisa bisa konsisten," kata Jokowi, Senin (11/1/2021).

Ekonom senior Rizal Ramli ikut berkomentar terkait sorotan Presiden Jokowi tersebut.

Mantan Menko Perekonomian itu mengatakan, mungkin saja sang Presiden tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti dengan kebijakan yang diambil selama ini. Pemerintah, katanya, masih doyan mengimpor dan bagi-bagi rente quota impor. Ujung-ujungnya, petani yang mendapat kerugian dari impor tersebut.

“Ini Presiden @jokowi ndak ngerti atau pura2 ndak ngerti. Kebijakan pemerintah yg doyan impor dan doyan bagi2 rente quota impor, itu yg membuat petani tidak punya insentif utk menaikkan produksi. Belum lagi, kebijakan pupuk & pricing policy,” ujar mantan Menko Kemaritiman itu dalam Twitter pribadinya @RamliRizal, pada Selasa (12/1).

Karena itu, Rizal Ramli mengatakan agar pemerintah tidak membuat drama macam-macam. “Please deh, jangan terlalu banyak drama. Klo bener2 ndak ngerti, nanti tak kasih kuliah gratis 🙂😀🙏,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menekankan kepada jajarannya untuk tidak lagi menerapkan kebijakan yang konvensional maupun bersifat rutinitas semata. Jokowi ingin jajarannya bisa membangun kawasan ekonomi secara luas.

"Karena percuma kalau bisa berproduksi tapi sedikit, nggak ngaruh apa-apa sama yang impor tadi. Karena problem dari dulu sampai sekarang kenapa kedelai di Indonesia bisa tumbuh baik, petani nggak mau tanam? Karena harganya kalah dengan kedelai impor. Kalau petani disuruh jual dengan impor harga pokok, produksi nggak menutup," kata Presiden.

Menurut Presiden Jokowi, inilah yang menjadi penyebab mengapa dulunya petani kita tidak mau menanam bawang. Itu terjadi karena harganya kalah dibandingkan dengan harga bawang putih.

"Kenapa dulu kita produksi bawang putih, tapi petani nggak mau tanam lagi bawang putih? Karena harganya kalah dengan harga bawang putih impor. Di Wonosobo, di NTB bawang putih banyak kenapa nggak diperluas dalam jumlah besar?" jelas Jokowi.

Presiden meminta jajarannya untuk mencari cara dalam mengatasi hal ini. Pasalnya, pembangunan pertanian yang selama ini dilakukan belum berhasil melepaskan Indonesia dari kebutuhan impor.

"Cari lahan yang cocok untuk kedelai tapi jangan 1-2 hektare, 10 hektare, 100 ribu, 300 ribu, 500 ribu. Satu juta hektare cari," pungkasnya. (Very)

 

Loading...

Artikel Terkait