Nasional

Rizal Ramli: Tidak Mudah bagi Perempuan Ungkap Kekerasan yang Dirasakannya

Oleh : very - Selasa, 03/08/2021 18:45 WIB

Ekonom Senior, Dr. Rizal Ramli. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID – Masih ingatkan berita tentang Ratna Sarumpaet yang mengaku digebukin oleh orang tidak dikenal beberapa waktu lalu? Gara-gara berita itu, Ratna Sarumpaet ditangkap karena menyebarkan berita hoaks.

Namun, saat berita tersebut pertama kali muncul, Rizal Ramli merupakan orang yang pertama muncul dan membela Ratna. Dia meminta polisi untuk menyelidiki kasus tersebut.

Namun, karena berita itu kemudian ternyata hoaks, alias bohong, maka para buzzeRP menuduh ekonom senior itulah yang membuat hoaks untuk Ratna Sarumpaet.

“RR dituduh oleh BuzzeRP oon buat Hoak soal Ratna Sarumpaet,” ujarnya di Jakarta belum lama.

Mantan Menko Perekonomian itu mengataka bahwa sejak masa Orde Baru, Ratna Sarumpaet adalah seniman yang kritis.

“Ketika Ratna Sarumpaet (RS) mengaku digebukin, saya (Rizal Ramli) simpati  - tapi minta polisi selidiki kebenarannya (video pernyataan  ini dipotong buzzeRP !),” ujarnya waktu itu.

Mantan Menko Kemaritiman tersebut mengatakan dirinya tampil membela Ratna karena terdorong oleh rasa simpati bahwa seorang perempuan mendapat perlakuan kekerasan. Karena, katanya, bukan hal yang mudah bagi perempuan untuk mengungkapkan kekerasan yang dirasakannya.

“RR suportif karena jika perempuan bikin pengakuan mengalami kekerasan, kita harus simpati dulu. Bukan hal yang mudah bagi perempuan untuk mengungkapkan kekerasan yang dirasakannya (speak up),” ujarnya.

Seperti dikutip Tempo.co, Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap terhadap aktivis Ratna Sarumpaet pada Kamis malam, 4 Oktober 2018 di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Ratna ditangkap sebelum terbang ke Santiago, Cile.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan penangkapan terhadap Ratna dilakukan karena kepolisian telah menetapkan dia sebagai tersangka dalam kasus penyebaran hoax atau berita bohong. Kepolisian bakal menjerat Ratna dengan pasal 14 dan 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana serta pasal 28 juncto pasal 45 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Ancaman hukumanya maksimal 10 tahun penjara," Kata Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis 4, Oktober 2018.

Sebelum ditangkap pihak kepolisian, hoax mengenai penganiayaan Ratna telah menjadi perhatian publik. Sejumlah tokoh politik pun sempat melontarkan pernyataan mengenai hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet. Namun belakangan Ratna mengakui bahwa dirinya telah berbohong mengenenai kabar itu. (*)

Loading...

Artikel Terkait