Nasional

Pengamat: Munculnya Rizal Ramli Memantik Diskursus Pilpres Jadi Lebih Menarik dan Terbuka

Oleh : very - Senin, 17/01/2022 11:53 WIB

Ekonom senioor Dr Rizal Ramli. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID --- Pemilu 2024 semakin dekat. Saat ini kita memasuki tahun 2022 sebagai persiapan politik. Karena itu, para tokoh calon presiden pun bermunculan.

Dari calon tersebut muncul tokoh yang direpresentasikan sebagai calon dari kaum oligarki, namun ada juga tokoh yang direpresentasikan sebagai calon dari kubu oposisi.

Sebut saja yang menempati posisi tertinggi oleh lembaga survei seperti Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, Anies Baswedan, dan Airlangga Hartarto. Muncul juga nama lain yaitu ekonom senior, Rizal Ramli.

Peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC) Surokim Abdus Salam mengatakan, kehadiran mantan Menko Perekonomian itu sangat positif bagi bursa pencalonan presiden.

Dia mengatakan, kehadiran mantan Menko Kemaritiman tersebut memantik diskursus menjadi terbuka dan menarik.

"Kehadiran RR dalam bursa suksesi nasional memantik diskursus pilpres lebih menarik dan terbuka," ujar Surokim seperti dikutip liputan6.com/, pada Minggu (16/1/2022).

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo Madura ini mengungkapkan, peluang RR – sapannya - sama dengan kandidat oposisi yang lain. Karena itu, Menko Perekonomian di era Presoden Gus Dur itu harus bisa menciptakan momentum, menarik, dan juga narasi perubahan yang lebih progresif.

Surokim mengatakan, ikhtiar calon oposisi seperti jalan terjal karena bergantung pada momentum yang ada di pemerintahan Jokowi. Sebab, semakin tinggi tingkat kepuasan terhadap kinerja Jokowi, maka jalan semakin terjal bagi  para calon oposisi, termasuk Rizal Ramli.

"Momentum memegang peran penting. Bila tingkat kepuasan publik rendah pada pemerintah, maka jalan capres oposisi semakin terbuka. Sebaliknya, jalan menjadi terjal bila kepuasan publik pada pemerintah masih tinggi," ujarnya.

Surokim menambahkan, fenomena pencapresan di Indonesia selalu unik dan khas. Peluang berkoalisi selalu cair dan dinamis, kadang sulit untuk permanen. Bahkan biasanya selalu terbentuk di menit - menit akhir.

Kondisi tersebut, kata cendekiawan muda NU asal Lamongan ini, yang membuat konsolidasi kubu oposisi selalu rumit dan selalu menemui kendala serius. Sebab, selalu menunggu apakah koalisi pemerintah tetap solid atau pecah. Sementara koalisi pemerintah yang dimotori PDI Perjuangan selalu menentukan posisi di menit akhir.

"Saya pikir kubu oposisi tidak boleh terlalu bergantung pada kondisi koalisi pemerintah. Oposisi harus lebih responsif menjemput nasibnya sendiri, dengan membuka komunikasi lebih cair dengan berbagai parpol pengusung. Mereka tidak boleh menunggu dan terjebak kepada permainan menit akhir," pungkasnya. ***

 

Loading...

Artikel Terkait