INDONEWS.ID

  • Minggu, 24/06/2018 15:56 WIB
  • SBY Sebut Polri,TNI,BIN Tidak Netral, PDIP Gerah, Gerindra Santai

  • Oleh :
    • luska
SBY Sebut Polri,TNI,BIN Tidak Netral, PDIP Gerah, Gerindra Santai
Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Jakarta, INDONEWS.ID - Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melempar bola panas telah menuding aparat TNI-Polri dan BIN tidak netral di Pilkada.

Pernyataan SBY itupun direspon cepat oleh berbagai kalangan, siantaranya dari Partai PDIP maupun Gerindra. Kedua Partai tersebut saling bersebrangan tanggapi pernyataan SBY.

Baca juga : Sekjen PDIP Tegaskan Pilkada 2020 Harus Tetap Dilaksanakan. Begini Alasannya

Ketua DPP PDIP, Komarudin Watubun justru mengatakan bahwa justru SBY yang menggunakan alat-alat negara agar tidak netral di Pilpres 2004 dan 2009.

Dijelaskan Komarudin, saat pilpres 2009, SBY membujuk komisioner KPU dengan iming-iming tertentu sehingga banyak yang dijadikan pengurus teras partainya seperti Anas Urbaningrum dan Andi Nurpati.

Baca juga : Ahok Sindir Peruri, Eks Menteri era SBY sebut Kesannya Memeras

" Siapa yang di belakang tim alfa, bravo dan delta yang dibentuk SBY, warga sipilkah, Mengapa Antasari Ketua KPK dipenjara hanya karena mau mengusut IT Pemilu, Siapa yang menggunakan dana APBN melalui bansos untuk keperluan pemilu, Siapa yang memanipulasi DPT tahun 2009, Siapa yang gunakan intelijen untuk pilpres 2004 dan 2009, kami taat pada aturan main, dan kami percaya rakyatlah yang menjadi penentu dalam pilkada, bukan alat negara," kata Komarudin Watubun dalam keterangannya kepada wartawan, Minggu (24/6/2018).

Komarudin menyebut SBY tidak memikirkan bangsa dan negara melalui Pilkada, melainkan hanya mengutamakan kepentingan partai dan keluarganya.

Baca juga : PDIP Tolak Keras Keputusan Anies Berlakukan PSBB Total

"Dengan melihat makin tajamnya serangan Pak SBY ke Pak Jokowi, saya yakin bahwa apa yang dipikirkan Pak SBY dalam pilkada bukanlah kepentingan bangsa dan negara, namun lebih kepentingan Partai dan keluarganya. Lebih pada persoalan bagaimana AHY dan Ibas yang diklaimnya sebagai keturunan Majapahit, lalu begitu jago yang diusung di Pilkada elektabilitas rendah, tiba-tiba salahkan penggunaan alat-alat negara," ujarnya.

"Daripada sibuk menyalahkan Pak Jokowi dan aparat negara, lebih baik Pak SBY buka-bukaan terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada Pilpres 2004 dan 2009," tegas Politisi PDIP ini.

Sambung Komarudin, Era politik melodramatik SBY tersebut sudah berakhir dan ketinggalan jaman. Sebab, rakyat sudah tahu `politik agar dikasihani` model SBY tersebut. Publik sudah tahu, bahwa Pak SBY lebih dihantui oleh cara berpikirnya sendiri atas dasar apa yang dilakukan selama jadi Presiden.

Tanggapan salah satu petinggi partai banteng ini bertolak belakang dengan pendapat dari politisi Partai Gerindra Andre Rosiade, saat dihubungi wartawan secara terpisah.

Wakil sekretaris Jenderal Gerindra menilai Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) dalam mengutarakan ketidaknetralan Polri,TNI dan BIN partinya tidak sembarangan, tentunya SBY telah terlebih dahuliu mengumpulkan data dan sumber informasi terpercaya mengenai tudingan adanya anggota BIN, Polri, dan TNI yang tidak netral dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Menurut Andre, SBY masih mempunyai jaringan baik di tubuh Polri,TNI dan BIN, hal tersebut karena SBY adalah mantan Kasospol ABRI, ditambah lagi banyak petinggi BIN, TNI, dan Polri ‎yang diangkat menjadi pejabat melalui Keputusan Presiden SBY saat itu.

Namun demikian, Gerindra tetap menghimbau agar ketiga institusi negara tersebut selalu netral dan tetap pada komitmennya untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.

Berangkat dari pengalaman dari roda politik partainya terutama saat putranya Agus Harimurthi Yudhoyono (AHY) yang kalah saat bergelut mencapai kursi Jakarta 1, Ketum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menuding BIN-Polri-TNI tidak netral.

Sorotan saat membahas ketidaknetralan aparat di depan sejumlah wartawan di Hotel Santika, Bogor Sabtu (23/6/2018), SBY menyampaikan pandangan tersebut sebelum kampanye pasangan yang diusung PD di Pilgub Jawab, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, digelar.

SBY meminta aparat netral menjelang pelaksanaan Pilkada Serentak 2018 pada 27 Juni mendatang.

“Mengingatkan agar negara, pemerintah, aparat BIN, Polri, dan TNI bersikap netral. Saya diserang oleh partai politik tertentu, katanya SBY panik. SBY tidak panik! Biasanya orang yang panik itu cenderung curang, insyaallah kami tidak curang, tetapi kami waspada,” ujar SBY

SBY menyakinkan bahwa apa yang disampaikan dirinya bukanlah hasil karangan ataupun nyanyian dirinya tetapi ini adalah sebuah kenyataan bahwa memang ada oknum-oknum aparat yang memperlihatkan ketidaknetralannya.

“Yang saya sampaikan ini cerita tentang ketidaknetralan elemen atau oknum dari BIN, Polri, dan TNI. Itu ada nyatanya, ada kejadiannya, bukan hoax, sekali lagi ini oknum, namanya organisasi Badan Intelijen Negara atau BIN, Polri, dan TNI itu baik,” kata Presiden RI ke 6 ini.

Mungkin, lanjut SBY, rakyat tidak berani menyampaikan hal-hal yang menurut mereka kok begini, kasar sekali, kok terang-terangan, biarlah saya SBY, warga negara biasa, penduduk Cikeas, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang bicara.

" Kalau pernyataan saya ini membuat intelijen dan kepolisian kita tidak nyaman dan ingin menciduk saya, silakan," ucap SBY. (Lka)

Artikel Terkait
Sekjen PDIP Tegaskan Pilkada 2020 Harus Tetap Dilaksanakan. Begini Alasannya
Ahok Sindir Peruri, Eks Menteri era SBY sebut Kesannya Memeras
PDIP Tolak Keras Keputusan Anies Berlakukan PSBB Total
Artikel Terkini
Klarifikasi Nadiem Terkait Isu Penghapusan Mata Pelajaran Sejarah Disekolah
Sekjen PDIP Tegaskan Pilkada 2020 Harus Tetap Dilaksanakan. Begini Alasannya
Tower 5 Wisma Atlet Kemayoran Terisi 91 Persen, Tower 4 Siap Digunakan Pekan Depan
Usut Tuntas Oknum Pelaku Dugaan Manipulasi Hasil Rapid Test di Bandara Soetta
Langkah Konkrit Gapensi Jatim Atasi Ketimpangan antara Kontraktor Besar Vs Kecil
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
faramir