Peneliti: Gempa Donggala Siklus 100 Tahun Sekali
Peneliti dari Tim Ekspedisi Sesar Palu-Koro, Jojo Rahardjo menjelaskan bahwa sumber gempa yang terjadi di Sulawesi Tengah berada di Sesar Palu-Koro.
Reporter: very
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Gempa sebesar 7,4 Skala Richter dan tsunami menghantam Palu dan Donggala pada Jumat, (29/9/2018). Sejak gempa mengguncang Kota Palu dan Kabupaten Donggala, pukul 17.02, sejumlah gempa susulan terus terjadi di kawasan tersebut hingga Jumat malam. Tercatat, setidaknya ada 13 gempa dengan kekuatan di atas magnitudo 5 sejak pukul 14.00 WIB hingga 21.26 WIB.
Data BNPB menyebutkan bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Kota Palu, Sulawesi Tengah, meningkat menjadi 384 orang. Selain ratusan korban meninggal, tercatat 29 orang hilang dan 540 luka berat.
Peneliti dari Tim Ekspedisi Sesar Palu-Koro, Jojo Rahardjo menjelaskan bahwa sumber gempa yang terjadi di Sulawesi Tengah berada di Sesar Palu-Koro.
“Sesar ini mulai dari Teluk Palu hingga Teluk Bone. Namun sesar Palu-Koro ini rumit, karena mempengaruhi sesar yang ada di dekatnya, separti sesar Matano, yang menyebabkan gempa di Poso pada 2017 lalu,” ujar Jojo.
Dia mengatakan, patahnya sesar itu bisa menyebabkan gempa lain yang berada di sekitar atau sesama sesar. “Secara teori, bisa memicu gempa lain yang berada dalam sesar yang sama atau sesar yang berhubungan,” katanya.
Jojo menjelaskan gempa bumi di Sesar Palu-Koro merupakan siklus 100 tahun sekali.
Pegiat LSM Perkumpulan Skala Trinirmalaningrum mengatakan, gempa besar yang bersumber dari sesar Palu-Koro sebenarnya sudah diprediksi sejak jauh hari. Sesar Palu-Koro diprediksi akan membawa gempa dalam waktu dekat berdasarkan siklus yang sudah diteliti para geologi dan ahli gempa.
"Jadi kalau siklusnya itu gempa terbesar tahun 1907, kemudian diikuti 1909, gempa besar lagi 1968. Walau tempatnya berbeda-beda, tapi sesar Palu-Koro bergeraknya kalau dilihat dari, istilah kami, ulang tahunnya kelihatannya memang ada yang 50 tahun, 100 tahun," kata Trinirmalaningrum seperti dikutip Tirto, Sabtu (29/9/2018).
Rini merupakan Ketua Ekspedisi Sesar Palu-Koro yang baru saja dilaksanakan pada Agustus 2018. Saat itu, ia dan rekan-rekannya menyusuri wilayah yang dilintasi sesar Palu-Koro.
Rini mengatakan bahwa gempa besar terakhir yang diakibatkan sesar Palu-Koro terjadi pada 1968. Gempa saat itu disebut hampir sama dengan peristiwa kali ini. Masyarakat lokal di Donggala mengenal peristiwa kala itu dengan sebutan "Gempa Mapaga."
Pusat gempa kala itu, menurut Rini berada di sekitar sumber getaran saat ini. Ia yakin gempa yang terjadi kali ini memang merupakan siklus yang dimiliki Palu-Koro.
"Ini sebenarnya belum apa-apa. Pada tahun 1907 berdasarkan catatan geolog Abendanon dia menyebutnya `terjadi guncangan yang bikin rebah rumah-rumah dan laut berdiri setinggi 10 meter`. Jadi di sana pernah terjadi gempa besar, sekarang 2018 terjadi lagi," pungkas Rini. (Very)