indonews

indonews.id

Start Up Tani Lewat Duta Petani Muda

Percuma saja sekolah tinggi – tinggi kalau akhirnya jadi petani".

Reporter: Tirto.p
Redaktur: indonews

Medan, indonews.id- “Percuma saja sekolah tinggi – tinggi kalau akhirnya jadi petani". Kira-kira seperti itulah pada umumnya respon yang diberikan ketika seseorang mengungkapkan keinginan untuk terjun ke dunia pertanian. Entah itu dari orang tua, teman ataupun tetangga. Mindset tentang profesi petani masih identik dengan kumuh dan orang kelas bawah di masyarakat kita, meski sudah banyak bukti yang memperlihatkan petani jauh lebih bisa berdaya.

Menurunnya jumlah petani, ditambah lesunya minat anak muda bergelut di sektor pertanian, membuat Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris yang subur terancam kehilangan mimpinya mewujudkan kedaulatan pangan. Berdasarkan data BPS, dalam kurun waktu 10 tahun (2003-2013), jumlah rumah tangga petani berkurang sebanyak 5 juta.

Presiden Joko Widodo pernah mengungkapkan kegelisahannya tentang masa depan dunia pertanian Indonesia, mengingat banyak sarjana pertanian yang justru bekerja sebagai pegawai bank. Kekhawatiran Presiden Jokowi ini cukup beralasan karena petani punya andil cukup besar dalam ketahanan pangan nasional. Data BPS 2013 bahkan mencatat sekitar 61 persen petani Indonesia berusia di atas 45 tahun. Masih banyak generasi milenial yang menganggap profesi sebagai petani tidak keren dan memiliki masa depan suram dibandingkan profesi lainnya.

Program Duta Petani Muda oleh Kementerian Pertanian yang pertama kali digelar pada 2014 silam, tengah menggalakkan isu seputar regenerasi petani ke masyarakat luas. Hal ini guna menampik berbagai anggapan miring seputar pekerjaan petani, seperti anggapan pekerjaan petani kotor, miskin, tidak jelas pendapatannya dan sebagainya.

Direktur Perlindungan Hortikultura Sri Wijayanti Yusuf dalam diskusi dengan Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI) di Kampus Universitas Sumatera Utara, beberapa bulan lalu menekankan pentingnya peran mahasiswa di sektor hortikultura. Hortikultura merupakan sektor menjanjikan untuk peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, mulai dari komoditas sayur, buah, tanaman hias dan tanaman obat.

"Bisnis di bidang hortikultura masih sangat terbuka. Kita masih membutuhkan banyak pengusaha muda untuk berani terjun di bidang hortikultura," jelas Yanti.  Bisnis hortikultura, lanjut Yanti, mulai dari produksi, pasca panen, pengolahan hingga pemasaran masih membutuhkan banyak pengusaha untuk terlibat. Yanti mengajak para mahasiswa memahami untukk terjun langsung ke lapangan, sehingga setelah lulus dari universitas sudah menentukan pilihan usaha yang akan digeluti.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman optomistis mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045. Amran mengatakan generasi muda berperan penting untuk mempercepat peningkatan produksi pertanian. Adapun kebijakan dan capaian Kementan dalam 4 tahun berjalan pemerintahan Jokowi-JK di antaranya keberhasilan swasembada beras, bawang, dan cabai sejak 2016 hingga 2017. Jagung pun dari 2017 hingga saat ini belum ada impor.

Skenario menuju lumbung pangan dunia melalui tahapan-tahapan yang membutuhkan “political will” dan "political action” yang serius termasuk dukungan infrastruktur, inovasi teknologi yang terus berkembang dan kekuatan kelembagaan pertanian dari seluruh lini baik pusat dan daerah. Juga keterkaitan dan peran serta elemen lain tidak hanya dalam aspek non teknis namun juga dalam bentuk teknis.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas