INDONEWS.ID

  • Senin, 03/06/2019 08:47 WIB
  • Luhut: Habisnya Separuh Jiwa Pak SBY

  • Oleh :
    • very
Luhut: Habisnya Separuh Jiwa Pak SBY
Luhut Binsar Pandjaitan saat berada di National University Hospital, 1 Juni 2019. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID -- Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan adalah salah satu dari anggota Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo yang turut berada di Singapura, untuk mengucapkan dukacita yang mendalam atas meninggalnya Kristiani Herawati alias Ani Yudhoyono pada tanggal 1 Juni 2019. Selain Luhut tokoh lain dari Kabinet Jokowi yaitu Sri Mulyani Indrawati.

Baca juga : Pemerintah Sebut Pelayan Rumah Sakit Kunci Peningkatan Angka Sembuh Pasien Covid-19

Bahkan, Luhut ikut menyaksikan saat SBY mencium kening istrinya usai jenazahnya dibersihkan.

Melalui laman Facebook-nya, Luhut Binsar Pandjaitan, orang yang banyak menghabiskan karier militer di Kopassus TNI AD itu mengungkapkan saat-saat yang mengharukan itu.

Baca juga : Empat Tawaran Strategi Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia

“Di ruang ICU itu kemarin (Sabtu, 1/6), beberapa saat setelah jasad Bu Ani dibersihkan, saya berada di samping Pak SBY yang mencium kening istrinya lalu membisikkan sesuatu seolah-olah belahan jiwanya itu masih bernyawa. Di titik itu saya melihat habisnya separuh jiwa Pak SBY. Saya kehabisan kata-kata. Saya hanya bisa memeluk Beliau, lalu memberikan penghormatan terakhir saya pada almarhumah Ibu Negara dari Presiden ke-6 RI tersebut,” tulis Luhut.

Lulusan terbaik Akademi Militer angkatan 1970 itu menuliskan bahwa momen kehilangan seperti ini pasti akan dialami setiap manusia. Sehebat apapun pencapaian kita, air mata tetap tak ayal dibendung ketika saat itu tiba. Seperti bagaimana dia menyaksikan seorang mantan Presiden yang menangis selayaknya seorang manusia biasa yang terdiri dari darah, daging, tulang dan emosi juga.

Baca juga : DPD Minta Bulog Bantu Petani untuk Menjaga Ketahanan Pangan Nasional

Mantan Kepala Staf Kepresidenan itu melanjutkan, masih di National Universty Hospital, 10 sampai 15 menit setelah momen itu, keranda jenazah didatangkan. “Melihat begitu sederhananya peti mati yang disiapkan, membuat saya merenung, bahwa inilah yang akan kita semua pakai nantinya. Tidak peduli apakah kita Presiden, Ibu Negara, Wakil Presiden, ataupun hanya manusia biasa, semua sama saja. Ketika sudah selesai waktu kita di dunia ini, kita akan diperlakukan sama. Tinggal masalah kapan, di mana, dan bagaimana kita berpulang. Ya itulah hidup,” tulisnya.

Pria kelahiran Toba, Samosir, Sumatera Utara 28 September 1947 ini mengatakan, untuk kita yang masih hidup, mari kita bawa peristiwa ini menjadi sebuah bahan refleksi diri bagaimana membuat hidup ini bermakna. “Bagi saya, pada akhirnya hidup adalah tentang bagaimana kita bisa berbagi dengan orang lain, berbuat baik kepada orang lain,” tulis Luhut.

Hidup itu, menurut Luhut, begitu singkat, untuk apa kita berbuat curang atau culas. Buat apa juga kita senang membuat permusuhan atau membuat orang lain menjadi susah. Termasuk dalam hidup bernegara, untuk apa juga kita membuat perkara atau keributan terus menerus.

Menurut Luhut, SBY adalah teladan sebagai seorang suami yang mau terus mendampingi istrinya sampai akhir. SBY mengesampingkan kesibukannya selama 4 bulan terakhir ini.

“Terakhir, saya mengajak kita semua untuk mendoakan Pak SBY dan keluarga, supaya diberi kekuatan. Manusia hanya bisa berencana, tapi kehendak Tuhan yang jadi,” pungkasnya. (Very)

Artikel Terkait
Pemerintah Sebut Pelayan Rumah Sakit Kunci Peningkatan Angka Sembuh Pasien Covid-19
Empat Tawaran Strategi Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia
DPD Minta Bulog Bantu Petani untuk Menjaga Ketahanan Pangan Nasional
Artikel Terkini
Pemerintah Sebut Pelayan Rumah Sakit Kunci Peningkatan Angka Sembuh Pasien Covid-19
Empat Tawaran Strategi Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia
DPD Minta Bulog Bantu Petani untuk Menjaga Ketahanan Pangan Nasional
Kemendagri Desak Pemda untuk Mutakhirkan Data Ketahanan Pangan Daerah
Bamsoet: Jihad Lawan Narkoba Tidak Boleh Kendur Walau di Saat Pandemi
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
gandalf