INDONEWS.ID

  • Selasa, 08/10/2019 20:30 WIB
  • Hendri Satrio: Buzzer Nakal dan Pemecah-Belah Bangsa Harus Ditertibkan

  • Oleh :
    • very
Hendri Satrio: Buzzer Nakal dan Pemecah-Belah Bangsa Harus Ditertibkan
Analis Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio.(Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID – Keberadaan buzzer (pendengung) di era media sosial (medsos) tidak bisa dinafikkan lagi. Sama juga seperti medsos, buzzer juga memiliki sisi positif dan negatif. Karena itu, sebagai orang yang hidup di Bumi Indonesia, buzzer juga harus memiliki etika dalam menyebarkan berita atau opini ke masyarakat. Pasalnya, konten yang disebar para buzzer ini akan sangat mudah diserap masyarakat.

“Keberadaan buzzer sih, menurut saya, gak hanya melulu jelak, tetapi tetap ada positif. Tapi bila buzzer memanipulasi opini publik, memanipulasi fakta, maka itu menjadi salah. Kalau itu terjadi tentu buzzer harus dihapuskan karena bukan hanya membahayakan negara, tetapi bisa memecah belah rakyat,” ujar Pengamat Komunikasi Politik Hendri Satrio di Jakarta, Selasa (8/10/2019).

Baca juga : Fenomena Buzzer Bin Influencer Pasca Kekuasaan Pers OBH

Yang paling menakutkan, lanjut Hendri, bila kemudian buzzer-buzzer ini dianggap sebagai salah satu pendorong  orang untuk membenci manusia Indonesia lainnya.

“Jadi kalau menurut saya, buzzer yang demikian harus dihilangkan. Itu khan mudah bagi pemerintah. Harusnya bisa, paling gak segera dilakukan screening terhadap buzzer dan mengajak semua pihak tidak menggunakan buzzer untuk kegiatan negatif,” imbuh founder Lembaga Survei KedaiKOPI ini.

Baca juga : Hendri Satrio: Kritik Harus Dibangun Tidak Berdasarkan Kebencian, Menghasut dan Memecah Belah

Hendri menilai, keberadaan buzzer ini harus dibedakan dibandingkan medsos. Medsos sisi positifnya sebenarnya lebih banyak dibandingkan mudharatnya. Paling kentara, dengan adanya medsos, setiap orang akhirnya bisa bebas berpendapat tanpa harus menunggu media konvesional seperti televisi, radio, dan surat kabar memuat pemikiran individu yang lain.

Selain itu, dengan medsos, orang bisa lebih eksis mengeluarkan pendapatnya. Tapi, menurut dosen Komunikasi Politik Universitas Paramadina ini, masalahnya adalah banyak orang yang justru bukan menyuarakan opini di medsos, tetapi hanya membaca opini orang lain. Dengan adanya opini orang lain di medsos, maka kemudian medsos dianggap sebagai wahana yang bisa mengatur opini orang lain.

Baca juga : BPIP Sebut Fenomena Buzzer akan Terus Terjadi Jika Pendidikan Literasi Lemah

Hendri melanjutkan, dengan opini orang lain dibaca, maka si individu itu bisa ikut-ikutan memiliki opini yang sama dan bisa menyuarakan opini yang sama dengan yang dibaca. Karena fenomena itu kemudian, dimanfaatkan orang-orang yang memanfaatkan medsos untuk kepentingannya dengan menggunakan buzzer.

“Supaya apa? Supaya lebih banyak lagi orang yang memiliki opini sama dengan dia. Jadi ini untuk mempengaruhi opini orang lain,” tutur Hendri.

Hendri menilai, sejauh pengamatannya,  keberadaan buzzer ini sangat efektif untuk melakukan propaganda. Pasalnya, rata-rata para buzzer memiliki follower yang banyak. Itulah yang membuat buzzer sangat laris, tidak hanya di even politik, tetapi juga untuk mempromosikan sesuatu.

Sebenarnya, kata Hendri, keberadaan para buzzer ini mudah dikenali. Caranya mereka pasti menggiring opini yang sama, isu yang sama, meskipun caranya berbeda. Untuk itu, ia mengimbau, di tengah kondisi negara yang ‘belum sembuh’ setelah menjalani proses demokrasi serta kondisi sosial politik akhir-akhir ini, para buzzer ini harus menggunakan hati nuraninya untuk ikut serta menjaga perdamaian dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apalagi ancaman intoleransi, radikalisme, dan terorisme masih menjadi ancaman nyata bagi Indonesia.

“Menurut saya, gunakanlah buzzer-buzzer  ini untuk kebaikan. Jangan digunakan untuk hal-hal yang bisa justru memutarbalikkan fakta yang akhirnya bisa menghancurkan negara ini,” pungkas Hendri Satrio. (Very)

 

 

Artikel Terkait
Fenomena Buzzer Bin Influencer Pasca Kekuasaan Pers OBH
Hendri Satrio: Kritik Harus Dibangun Tidak Berdasarkan Kebencian, Menghasut dan Memecah Belah
BPIP Sebut Fenomena Buzzer akan Terus Terjadi Jika Pendidikan Literasi Lemah
Artikel Terkini
Optimalkan SPBE dan Tingkatkan Layanan Publik, Badan Litbang Kemendagri Gelar Bimtek
Tingkatkan SDM Kesehatan, TNI AL Kerjasama UNHAN dan UNISSULA
Nahas! Rumah Eks Kapolda Metro Jaya Ludes Terbakar
Melalui PNM, PIP Kemenkeu Salurkan Pembiayaan Ultra Mikro Rp2,7 Triliun
Bangkutaman Rilis Single Ketiga Bertajuk "Tabib"
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
faramir