INDONEWS.ID

  • Selasa, 23/06/2020 22:01 WIB
  • Rizal Ramli: Pemerintah Beri Dopping Saat Ekonomi Hampir KO

  • Oleh :
    • very
Rizal Ramli: Pemerintah Beri Dopping Saat Ekonomi Hampir KO
Ekonom Senior Rizal Ramli. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Perekonomian Indonesia di tengah pandemik Covid-19 ini ibarat seorang pemain tinju yang sempoyongan dan nyaris tak berdaya. Dalam kondisi seperti itu, kemudian diberi dopping. Namun kondisi itu tak bertahan lama, karena pada akhirnya sang petinju tersebut akan tetap tumbang.

Demikian diungkapkan ekonom senior Razal Ramli untuk mengumpamakan penggunaan dopping berupa utang dalam perekonomian Indonesia saat ini.

"Hari ini Indonesia sudah kebanyakan utang tapi utangnya bukan swasta tapi pemerintah karena BUMN. Jadi kayak petinju itu udah oleng nih, tapi di-dopping, dikasih pinjeman yang terus-menerus bunga lebih tinggi," kata Rizal Ramli dalam diskusi daring bertajuk “Perekonomian Indonesia: Fakta, Harapan dan Solusi” yang diselenggarakan Forum Alumni Perguruan Tinggi (FAPI), Senin (22/6).

Baca juga : Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan, Menperin Apresiasi Mayora Group

Selain Rizal Ramli, hadir dalam seminar itu antara lain mantan anggota DPR RI, Alumni UI Chandra Tirtawijaya, Ketua Dewan Pertimbangan FAPI, Alumni UNPAD Doddy Haryadi, Ketua FAPI, Alumni UB Utari Sulistiowati, Putri Bung Tomo, yang juga Alumni UGM drg.Lista Tomo, Alumni ITB Muhammad Iqbal, Sekjen FAPI, Alumni UNKRIS Nurul, Guru Besar UNHAS Juajir Sumardi dan Alumni UI Eman S. Nasim.

Sayangnya, kata mantan Menko Perekonomian pada era Presiden Gus Dur itu, utang yang diambil pemerintah itu berbunga dua persen di atas rata-rata, karena itu jika sudah jatuh tempo maka akan menambah beban.

Baca juga : Ini Inovasi Alat Penangkap Ikan Bagi Nelayan yang Dikenalkan IPB University

"Sri Mulyani kan luar biasa ndablek-nya, setiap minjem bond yieldnya 2 persen di atas rata-rata. Terakhir, BRI nerbitin bond 1 miliar dolar, yield cuma 2 persen. Harusnya kan sovereign bond itu lebih murah, swasta BUMN di atasnya. Tapi ini sovereign bond paling atas," kata mantan Menko Kemaritiman itu seperti dikutip RMOL.

Rizal Ramli mengatakan bila selisih tingkat pengembaliannya 2 persen maka terbilang kecil. Namun akan menjadi bengkak saat utang tersebut dilakukan bertahun-tahun.

Baca juga : Dirut PGN Blokir WA Wartawan, Yuri Usman: Itulah Mungkin Beda Direksi Titipan

"Kalau bond 10 tahun, 2 persen bunga berbunga itu sepertiganya nambah beban utang. Yang cara bayarnya naikin harga-harga, naikin potong subsidi dan sebagainya. Nah, jadi petinju yang mau rontok ini di-dopping kelihatan sehat lagi," ujar Bang RR, sapaan Rizal Ramli.

Dia mengungkapkan beberapa pekan lalu pemerintah telah menerbitkan bond lebih dari 10 miliar dolar yang diikuti dengan menguatnya rupiah. Namun, penguatan rupiah itu, menurutnya, tidak natural karena tidak disertai dengan fundamental ekonomi yang kuat.

"Rupiah menguat karena dolar Amerika memang lagi drop terus, karena Amerika nerbitin stimulus dengan nyetak uang 2 triliun dolar AS, ya otomatis nilai dolar terhadap mata uang lain rontok, nolong rupiah. Tapi juga karena kita nerbitin bond 10 miliar dolar, di-dopping, jadi rupiah lebih stabi sekitar 14 ribu," ujar Rizal Ramli. (Very)

Artikel Terkait
Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan, Menperin Apresiasi Mayora Group
Ini Inovasi Alat Penangkap Ikan Bagi Nelayan yang Dikenalkan IPB University
Dirut PGN Blokir WA Wartawan, Yuri Usman: Itulah Mungkin Beda Direksi Titipan
Artikel Terkini
Langkah Konkrit Gapensi Jatim Atasi Ketimpangan antara Kontraktor Besar Vs Kecil
Covid-19 Tak Terkendali, PBNU Minta Pemerintah Tunda Pilkada Serentak 2020
Sempat jalani Perawatan, Bupati Tanahdatar Berpulang
Kedapatan Bagikan Bingkisan Bermuatan Politis, Oknum ASN Luwu Utara Diciduk
Penyebaran Covid-19 Meluas, Perludem Usulkan Penundaan Pilkada 2020
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
faramir