INDONEWS.ID

  • Kamis, 01/04/2021 14:08 WIB
  • Rizal Ramli: Utang Terlampau Banyak, Likuiditas di Masyarakat Tersedot

  • Oleh :
    • very
Rizal Ramli: Utang Terlampau Banyak, Likuiditas di Masyarakat Tersedot
Ekonom Senior Rizal Ramli (paling kanan) bersama Menhan Prabowo Subianto, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono. (Foto: Dok. Rizal Ramli)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Para ekonom memprediksi ekonomi Indonesia pada tahun 2021 bakal mengalami krisis. Ada beberapa faktor yang memengaruhinya, seperti besarnya akumulasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), rapuhnya ketahanan fiskal, hingga daya beli masyarakat yang ambruk/rendah.

Ironisnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan dirinya tetap optimistis ekonomi tumbuh 4% - 5%.

Baca juga : Inti Prima Rasa: Kelezatan dengan Kualitas Prima

Ia misalnya memproyeksikan pertumbuhan pada Bulan Maret-April akan mencapai 4,5 – 5,5 persen, begitu pula pada Mei-Juni.  Namun Sri mengakui bahwa hal ini masih sangat bergantung pada perkembangan Covid-19 dan proses vaksinasi. Dia mengatakan, jika virus Corona bisa ditekan dan vaksinasi berhasil menciptakan kekebalan berkelompok atau herd immunity maka akan berdampak positif pada ekonomi.

Tokoh nasional yang juga ekonom senior, Rizal Ramli memperingatkan pemerintah bahwa pada 2021 ekonomi Indonesia bisa mengalami krisis yang jauh lebih serius dibandingkan dengan tahun lalu. Hal itu dikatakannya dalam sarasehan secara daring bertema “National Economic Outlook 2021”, Kamis (14/1/21).

Baca juga : Jam Komandan Danmenart 1 Mar

“Pemerintah memang menjanjikan angin surga, tahun 2021 ini (ekonomi) akan balik lagi ke 5,5 persen. Mohon maaf, janji surga itu tidak ada basisnya, sebelum Covid-19 (pandemi) tumbuhnya saja cuma 5,1 persen. Ini Covid-19 masih banyak kok bisa tumbuh 5,5 persen,” katanya seperti dikutip Konfrontasi.com.

Menurut mantan Menko Perekonomian di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid ini, terpuruknya ekonomi Indonesia di tahun 2021 karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaan lantaran pandemi Covid-19 sehingga membuat daya beli hancur.

Baca juga : Korem 151/Binaiya Cerdaskan Anak Bangsa Melalui Sosialiasi Aplikasi Klassku

Selain itu, makin banyaknya utang pemerintah juga menjadi penyebab ekonomi Indonesia di 2021 bakal terpuruk. Seperti diketahui, utang dalam negeri sudah mencapai Rp6000 trilyun.

“Tapi yang paling penting adalah likuiditas yang ada di masyarakat disedot karena pemerintah berutang sudah terlalu banyak sehingga keseimbangan primer negatif selama enam tahun makin besar. Artinya apa? Hanya untuk membayar bunga utang saja harus meminjam. Karena harus meminjam, dia harus menerbitkan surat utang negara (SUN) terus, makin lama makin besar,” ujar Rizal Ramli.

Masih kata Rizal, hal tersebut membuat uang yang beredar di lembaga keuangan dan masyarakat tersedot hanya untuk membeli SUN.

“Itu yang menjelaskan banyak uang dan likuiditas tersedot untuk membeli SUN. Boro-boro menambahi uang yang beredar dalam ekonomi. Yang ada aja disedot kok bisa mengharapkan ekonomi dan daya beli akan bangkit. No way,” ujarnya.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan mengatakan ekonomi Indonesia di 2021 bakal suram. Hal tersebut terjadi lantaran besarnya akumulasi defisit APBN dan rapuhnya ketahanan fiskal.

“Pendapatan negara itu turun terus dan rasio beban bunga malah naik. Defisit meningkat tajam. Akhirnya rasio utang meningkat tajam,” katanya.

Dia mengatakan, permasalahan ekonomi bisa menjadi sangat serius lantaran keuangan Indonesia masih terjebak di suku bunga acuan dan kredit yang tinggi. “Dan likuiditas yang diperlukan Bank Indonesia malah diminta untuk membeli SUN di pasar primer,” ungkap Anthony.

 

Pemerintah Terlihat Gagap

Sementara, pengamat ekonomi politik dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng menilai pemerintah begitu gagap dalam menerjemahkan situasi perkembangan ekonomi global di saat pandemi Covid-19.

Politikus PDI Perjuangan, Effendi Simbolon, mengaku sangat prihatin dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Menurut dia, kinerja tim ekonomi Presiden Jokowi sangat buruk sehingga harus dirombak total pada periode berikutnya.

Salah satu yang dia sorot adalah Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Dia mengatakan, wacana mempertahankan Sri Mulyani tetap menjadi menteri sangat memprihatinkan.

“Tim ekonomi masih mau dipertahankan. Waduuh. Mempertahankan Sri Mulyani sama saja kita mempertahankan kita di bawah belenggunya rentenir global. Itu harus di bongkar. Kita bongkar dia kok di zaman SBY,” kata Effendi Simbolon di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (15/8).

Dia mengatakan, salah satu masalah besar Indonesia saat ini ketergantungan pada pinjaman. Nanti, ujung-ujungnya akan menjadi bom waktu bagi negara dan paling memprihatinkan akan menyengsarakan rakyat. (Very)

 

 

Artikel Terkait
Inti Prima Rasa: Kelezatan dengan Kualitas Prima
Jam Komandan Danmenart 1 Mar
Korem 151/Binaiya Cerdaskan Anak Bangsa Melalui Sosialiasi Aplikasi Klassku
Artikel Terkini
Pangdam XIII/Merdeka Bersama Forkopimda Tinjau Pos Pengamanan Lebaran
Ucapkan Selamat Idul Fitri 1442 H, Rizal Ramli Berharap Bangsa Ini Bisa Bangkit Melangkah ke Depan
Takbiran, Petugas Patroli Titik Keramaian di Kota Jambi
Tinjau Penyekatan Kendaraan, Kapolri Sebut Bisa Kurangi Arus Mudik Hingga 70 Persen
LPER Banyumas Dipercaya Salurkan Bantuan Kepada Para UMKM Industri Rumah Tangga
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
legolas