INDONEWS.ID

  • Senin, 05/04/2021 13:33 WIB
  • Rizal Ramli: Habibie dan Gus Dur Sangat Demokratis Mulai dari Dalam Diri

  • Oleh :
    • very
Rizal Ramli: Habibie dan Gus Dur Sangat Demokratis Mulai dari Dalam Diri
Rizal Ramli bersama Gus Dur. (Foto: RMOL.ID)

 

Jakarta, INDONEWS.ID – Tokoh Pergerakan Rizal Ramli bicara blak-blakan dalam acara Bang Arif Channel yang ditayangkan oleh Forum News Network, beberapa waktu lalu.

Baca juga : TNI AL Tingkatkan Diplomasi Melalui ANCM

Mengawali ngobrol dengan sosiolog yang juga jurnalis tersebut, ekonom senior Rizal Ramli bicara tentang sosok Presiden BJ Habibie dan Gus Dur. Dia mengatakan, kedua presiden tersebut sangat demokratis. Pasalnya, kata Mantan Menko Perekonomian itu, keduanya lama hidup di luar negeri. Kerena itu, mereka menganggap kritik sebagai hal yang normal dalam kehidupan berdemokrasi.

Keduanya, kata Rizal Ramli, tenang saja ketika dikritik. Habibie lebih banyak di luar negeri, dia membaca koran bahasa Jerman dan malam nonton CNN. Gus Dur juga demikian. “Dia cuek saja dengan kritikan. Tidak mikirin, emang gue pikirin,” ujar Rizal Ramli.

Baca juga : Kasal Terima Pelaporan Korps Kenkat 14 Pati TNI AL

Jadi, keduanya, kata Rizal Ramli sangat demokratis mulai di dalam dirinya. “Keduanya sangat demokratis sampai di dalam dirinya,” ujarnya.

Kemudian, Rizal Ramli berbicara tentang partai politik di dalam negeri. Dia mengeritik pengelolaan parpol karena sangat ditentukan oleh ketua umumnya. Ketua umum partai berhak melakukan recall terhadap anggota DPR.

Baca juga : Bamsoet: Tindak Aksi Premanisme Debt Collector dan Beri Saksi Berat Perusahaan Leasing

“Saat ini, ketua umum partai politik sangat berkuasa karena dia bisa merecall anggota DPR. Padahal yang berhal merecall anggota DPR itu adalah pemilih di daerah pemilihan atau juga kalau terlibat kasus kriminal,” ujar Rizal Ramli.

Karena itu, katanya, jika dipercaya memimpin negeri ini, Rizal Ramli akan mengubah partai politik agar menjadi demokratis.

Dia mengatakan, saat ini, orang dengan mudah mengendalikan partai politik dengan cara memegang ketua umumnya. “Jadi, gampang saja menggenggam anggota DPR yaitu dengan cara pegang ketua umumnya. Mereka semua seperti PNS saja,” ujarnya.

Selain itu, jika dirinya dipercaya oleh rakyat Indonesia, hal yang akan dilakukan oleh Rizal Ramli yaitu menjadikan partai politik demokratis. Untuk itu, katanya, dia akan mengaggarkan Rp30 triliun untuk membiayai kehidupan partai politik.

“Karena itu nanti saya siapkan Rp 30 triliun untuk membiayai partai politik sehingga mereka tidak perlu ikut cari uang, tidak perlu cari bandar. Kita ikut seperti negara eropah yang mengelola partainya secara demokratis,” ujarnya.

Rizal Ramli mengatakan, demokrasi yang dipraktekkan saya ini adalah “demokrasi kriminal”. Karena para calon pejabat, mulai dari tingkat lokal sampai tingkat nasional selalu diminta untuk mengumpulkan duit bagi pencalonannya.

 

Ditawari Jadi Ketum Partai Demokrat

Rizal Ramli mengatakan bahwa 3,5 tahun lalu, dirinya pernah diundang makan oleh pendiri Partai Demokrat Ventje Rumangkang.

Ventje mengatakan dirinya kecewa karena Partai Demokrat saat ini telah menjadi partai keluarga. Karena itu, jika tidak diselamatkan, maka perolehan suara partai tersebut bisa terus turun ke tujuh (7) persen.

Akhir cerita, sang pendiri partai demokrat itu merayu Rizal Ramli agar bersedia memimpin partai berlambang segilima mercy itu. Ventje mengatakan, jika Rizal Ramli bersedia memimpin partai tersebut, setidaknya bisa mendongkrat suara partai itu menjadi 10 persen.

Namun, Rizal Ramli menolaknya. “SBY itu teman lama saya,” ujarnya.

Lalu, Rizal Ramli pun bercerita tentang pertemanannya dengan Susilo Bambang Yudhoyono, mulai dari saat SBY menjadi Menteri ESDM pada era Gus Dur, hingga menjadi Presiden RI.

Mantan Kepala Bulog ini mengatakan bahwa tiga program SBY yaitu Pro Growth, Pro Poor, dan Pro Job merupakan paper Indonesia Bangkit buatan Rizal Ramli.

Terakhir, Rizal Ramli bicara tentang dirinya. Dia mengatakan, bahwa dirinya tidak suka disebut aktivis, karena sebuatan itu terkesan jorok saat ini. “Mereka tidak pernah membaca, hanya bermodalkan demo satu kali maka sudah sebut diri mereka aktivis,” ujarnya.

Karena itu, kata Rizal Ramli, dia lebih suka disebut tokoh pergerakan. “Soekarno, Hatta, Natsir dan kawan-kawan lain adalah tokoh pergerakan pada masanya. Mereka merupakan kaum intelektual, dan generasi pembaca. Mereka itu sangat demokratis. Karena itu, walau berbeda pendapat, mereka tidak pernah bermusuhan secara pribadi,” pungkasnya. (Very)

Artikel Terkait
TNI AL Tingkatkan Diplomasi Melalui ANCM
Kasal Terima Pelaporan Korps Kenkat 14 Pati TNI AL
Bamsoet: Tindak Aksi Premanisme Debt Collector dan Beri Saksi Berat Perusahaan Leasing
Artikel Terkini
TNI AL Tingkatkan Diplomasi Melalui ANCM
Kasal Terima Pelaporan Korps Kenkat 14 Pati TNI AL
Bamsoet: Tindak Aksi Premanisme Debt Collector dan Beri Saksi Berat Perusahaan Leasing
DAAI TV Gelar Idul Fitri Bersama Wapres Ma`ruf Amin dan Penyanyi Sulis
Idul Fitri, Wasekjen MUI: Umat Wajib Iman, Aman dan Imun
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
legolas