INDONEWS.ID

  • Minggu, 18/04/2021 18:59 WIB
  • Rizal Ramli: Indonesia Tak Butuh IMF, Krisis Akan Makin Buruk Jika Diundang

  • Oleh :
    • very
Rizal Ramli: Indonesia Tak Butuh IMF, Krisis Akan Makin Buruk Jika Diundang
Rizal Ramli, ekonom senior. (Foto: ist)

Jakarta, INDONEWS.ID --- Permintaan Menteri Keuangan Sri Mulyani terhadap Bank Dunia dan IMF untuk membantu negara-negara dalam hal pengelolaan utang semakin menunjukkan bahwa Sri Mulyani justru ingin membawa Indonesia masuk ke dalam jurang krisis yang lebih dalam lagi.    

Tokoh nasional, sekaligus ekonom senior, Rizal Ramli dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Sabtu (17/4) menyebut bahwa Sri Mulyani merupakan Sales Promotion Girl (SPG) International Monetary Fund (IMF).

Baca juga : Ketua Banggar DPR: Rencana Insentif Pajak Terhadap Ritel dan Pariwisata Belum Tepat

Karena itu, dengan mengundang IMF, maka hampir dapat dipastikan perekonomian Indonesia akan kembali hancur seperti pengalaman tahun 1998 lalu.

“Undang IMF lagi, ekonomi Indonesia akan semakin hancur seperti 1998,” ujar Rizal Ramli seperti dikutip Elshinta.com.

Baca juga : Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia Upaya Bangkitkan Pelaku Industi Kecil Menengah

Mantan Menko Perekonomian itu mengingatkan kembali sejarah kelam Indonesia saat berurusan dengan IMF. Bukannya keluar dari krisis moneter tahun 1998, Indonesia malah terjerumus ke dalam krisis ekonomi hingga mematik kerusuhan di bidang politik dan keamanan.

Saat-saat paling buruk, kata Rizal, ketika IMF mendikte pemerintah Indonesia di era 1998.

Baca juga : Agus Gumiwang Dorong Produksi Industri Sektor Manufaktur untuk Jaga Pasokan Logistik

Rizal masih mengingat bahwa kala itu dia menjadi salah satu ekonom yang diundang pemerintah untuk bertemu dengan petinggi IMF di Jakarta. Alih-alih pemerintah berharap dukungan dari Rizal Ramli, mantan anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu justru menentang keras kehadiran IMF.

"Saya dulu ekonom yang menentang masuknya IMF. Saya bilang keras-keras, Indonesia tidak butuh IMF. Krisis akan makin buruk kalau IMF diundang masuk ke Indonesia," tegas Rizal.

 

Momen Kekalahan Indonesia Oleh IMF

Namun, Presiden Soeharto justru meneken perjanjian dengan IMF. Bos IMF Michael Camdessus menyaksikan momen penandatanganan tanggal 15 Januari 1998 itu sambil menyilangkan kedua lengan di dada. Sementara Soeharto membungkuk untuk menandatangani Letter of Intent (LoI). Inilah momen kekalahan Indonesia oleh IMF.

Kekhawatiran Rizal soal IMF bukan tanpa alasan. Begawan ekonomi ini melihat beberapa negara malah terperosok makin dalam. Benar saja, IMF segera mengeluarkan aneka kebijakan yang membuat situasi makin buruk.

"Begitu IMF masuk, dia sarankan tingkat bunga bank dinaikkan dari 18 persen rata-rata jadi 80 persen. Banyak perusahaan langsung bangkrut," ungkap Rizal.

Saran IMF untuk menutup 16 bank juga menuai polemik. Hal ini menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat pada perbankan Indonesia. Para nasabah ramai-ramai menarik uang simpanan mereka di bank.

Dari sini pemerintah terpaksa menyuntikkan dana BLBI sebesar US$ 80 miliar. Inilah awal malapetaka kasus korupsi triliunan rupiah yang belum tuntas di Indonesia.

Parahnya lagi, sambung Rizal Ramli, IMF meminta Indonesia menaikkan harga BBM. Akhirnya pada 1 Mei 1998, Presiden Soeharto menaikkan harga BBM hingga 74 persen. Hal ini menurut Rizal yang memantik kerusuhan besar-besaran di Indonesia.

"Besoknya demonstrasi besar-besaran. Kerusuhan di mana-mana, ribuan orang meninggal. Rupiah anjlok," tutur Rizal.

Butuh bertahun-tahun hingga Indonesia bisa keluar dari krisis ekonomi itu. Rizal membandingkan sikap Malaysia yang menolak IMF dan mengeluarkan kebijakan ketat soal moneter. Hasilnya mereka dengan mudah keluar dari krisis.

Karena itu saat menjadi Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli menolak secara tegas saran IMF. Menurutnya, cuma di era Gus Dur ada presiden tak menambah jumlah utang negara.

"Waktu saya masuk, minus 3 persen ekonominya. Kami putuskan tidak mengikuti kebijakan IMF, kita jalan sendiri dengan segala kontroversinya," kata Rizal.

Rizal mengaku bisa menarik napas lega saat perekonomian Indonesia yang tadinya minus 3 persen dalam kurun waktu 2 tahun tumbuh menjadi 4,5 persen.

"Mimpi buruk soal IMF itu masih kita ingat. Indonesia tak perlu bantuan IMF," ujar Rizal Ramli.

Sebelumnya, Sri Mulyani menyatakan bahwa Bank Dunia dan IMF senantiasa mendukung negara-negara di dunia dalam hal pengelolaan beban utang.

Pernyataan tersebut disampaikan Sri Mulyani dalam Pertemuan Musim Semi Dana Moneter Internasional-Kelompok Bank Dunia Tahun 2021.

Pertemuan tersebut diselenggarakan secara daring pada 5-11 April 2021.

Agenda yang dibahas di dalam pertemuan tersebut berfokus pada topik pembangunan internasional, pembiayaan, pemulihan ekonomi, vaksin, dan perubahan iklim.

“Kami membutuhkan pengawasan dan bimbingan yang lebih besar dari Bank Dunia dan IMF untuk mengatasi masalah utang dan mengurangi tekanan yang meningkat,” kata Sri Mulyani, Selasa (13/4/2021). (Very)

 

Artikel Terkait
Ketua Banggar DPR: Rencana Insentif Pajak Terhadap Ritel dan Pariwisata Belum Tepat
Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia Upaya Bangkitkan Pelaku Industi Kecil Menengah
Agus Gumiwang Dorong Produksi Industri Sektor Manufaktur untuk Jaga Pasokan Logistik
Artikel Terkini
Pangdam XIII/Merdeka Bersama Forkopimda Tinjau Pos Pengamanan Lebaran
Ucapkan Selamat Idul Fitri 1442 H, Rizal Ramli Berharap Bangsa Ini Bisa Bangkit Melangkah ke Depan
Takbiran, Petugas Patroli Titik Keramaian di Kota Jambi
Tinjau Penyekatan Kendaraan, Kapolri Sebut Bisa Kurangi Arus Mudik Hingga 70 Persen
LPER Banyumas Dipercaya Salurkan Bantuan Kepada Para UMKM Industri Rumah Tangga
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
legolas