INDONEWS.ID

  • Rabu, 14/12/2022 08:59 WIB
  • Hadirkan Film

    FSKN Gelar Gala Sinema Budaya Keraton Nusantara di Gedung Ismar Ismail

  • Oleh :
    • Rikard Djegadut
FSKN Gelar Gala Sinema Budaya Keraton Nusantara di Gedung Ismar Ismail
Film Tri Tangtu Di Buana digarap Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN)

Jakarta, INDONEWS.ID - Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) bekerjasama dengan Eka TV menyelenggarakan acara Gala Sinema Budaya Keraton Nusantara "Tri Tangtu Di Buana" di Gedung Ismail Hall, Jakarta, Kamis (13/12). Kegiatan ini digelar dalam rangka memeriahkan hari nusantara yang jatuh setiap 13 Desember tiap tahunnya.

FSKN merupakan forum silaturahmi antar anggota keraton nusantara yang terdiri dari kerajaan, kesultanan, kedatuan ataupun yang dipersamakan dari seluruh nusantara.

Baca juga : Prof. Muchlis Hamdi: Membangun Pemahaman Bersama Antara Pemerintah Pusat dan Provinsi

Dalam rangka menjalankan visi misinya untuk pelestarian dan pengembangan budaya, khususnya yang berasal dari nilai-nilai keraton atau yang terkait dengannya dan merespon perkembangan media edukasi dan informasi, FSKN lantas menggagas produksi film dan konten multi media kreatif lainnya yang fokus mengangkat sejarah, falsafah, nilai-nilai luhur maupun situs peninggalan kerajaan nusantara.

Ketua Umum FSKN, Brigjen Pol (P) Dr. A.A Maparessa,M.M.,M M.Si. Karaeng Turikale VIII Sulawesi Selatan mengatakan beragam platfom digital telah membuka wawasan dan pergaulan kita secara luas. Terkait hal ini, katanya, FSKN ingin ambil bagian berkontribusi dalam rangka memperkaya khazanah konten di bidang kebudayaan dan kearifan budaya nusantara.

“Berbagai macam layanan dengan berbagai macam plafform digital, telah membuka wawasan dan pergaulan kita secara luas. Dalam kaitan dengan perkembangan ini, FSKN tentu tidak ingin ketinggalan untuk berkontribusi dalam rangka memperkaya khazanah konten di bidang kebudayaan," katanya di sela-sela sambutannya seperti dikutip Indonews.id, Selasa (13/12/22).

Brigjen Pol Maparessa menegaskan, sejarah dan falsafah seluruh kerajaan dan keraton di seluruh nusantara perlu dihidupkan kembali dalam rangka menemukan nilai-nilai filsafati dan kebudayaan untuk menopang kemajuan bangsa di tengah gempuran peradaban yang semakin kompetitif.

“Oleh karena itu salah satu visi FSKN adalah menghadirkan karya-karya yang mengangkat tentang sejarah, falsafah maupun budaya dari keraton, kerajaan dan kesultanan nusantara khususnya yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Keraton Nusantara ini” katanya.

Sementara itu, Staf Khusus Mendagri Bidang Pemerintahan Prof. Muchlis Hamdy, MPA, Ph.D mengatakan perkumpulan Forum Silahturahmi Keraton Nusantara (FSKN) adalah salah satu simbol bagi budaya yang ada di Indonesia. FSKN menjadi simbol jati diri bangsa Indonesia yang memiliki beragam budaya.

Menurut anggota Dewan Pakar Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) ini, sebuah bangsa tidak akan bertahan lama, jika kehilangan jati dirinya. Dengan kata silaturahmi yang dipakai sebagai nama forum ini, Prof Muchlis mengatakan, sejatinya itulah Indonesia.

"Dengan kata silaturahmi dari foroum ini mencerminkan musyawarah mufakat. Sesungguhnya itulah Indonesia. FSKN adalah pewaris budaya nusantara. Andaikan budaya itu kita artikan sebagai nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi warisan sosial atau social heritage. Semoga dengan rangkaian kegiatan seperti ini, akan menjadi penanda kemajuan kita untuk menjaga budaya nusantara," harapnya.

Tri Tangtu Di Buana adalah falsafah budaya Sunda Galuh dalam mengelola hubungan antara manusia dengan alam semesta dan sang pencipta, yang terbagi menjadi tiga kontekstual fungsi yaitu Rama (legislatif), Ratu (eksekutif) dan Resi (yudikatif).

Tatar Galuh adalah sebuah wilayah dimana terdapat eksistensi keberadaan Kerajaan Galuh yang terletak antara Sungai Citarum di sebelah barat dan Sungai Cisarayu dan Cipamali atau Kali Brebes di sebelah Timur.

Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari kerajaan Tarumanegara pada abad ke VI. Falsafah Tri Tangtu Di Buana diangkat dari teks naskah Sunda kuno Carita Parahyangan, Sanghyang Siksa Kandang Karesian, dan Swaka Darma. Trilogi ini merupakan kesatuan gagasan atau pokok pikiran yang dituangkan dalam tiga bagian yang saling terhubung.

FSKN sendiri mengawali komitmennya dengan menggelar Gala Sinema Budaya Keraton Nusantara. Ini merupakan wadah bagi kegiatan pelayanan bagi karya-karya sinema ataupun multi media lainya yang mengangkat konten-konten tentang falsafah, sejarah, budaya keraton dan kesultanan di Indonesia.

Untuk diketahui, Gala Sinema Budaya Keraton Nusantara diawali dengan Pameran UMKM dan Pameran lukisan (10.00-21.00), Rembuk Budaya Nusantara dengan tema, “Kepemimipinan Berbasis Nilai-Nilai Luhur Keraton Nusantara” (14.00-16.30), kemudian dilanjutkan dengan Premier Film FSKN (18.30-21.00).

Pantauan media, hadir dalam kegiatan ini antara lain Raja Sultan Nusantara, Pimpinan Instansi Pemerintahan Republik Indonesia, tokoh nasional, mahasiswa, pegiat seni, aktor dan lain-lain sebagainya.*

Artikel Terkait
Prof. Muchlis Hamdi: Membangun Pemahaman Bersama Antara Pemerintah Pusat dan Provinsi
Artikel Terkini
Hikmahanto Sebut Fatwa ICJ Tidak Berdampak pada Israel
Kemenperin Apresiasi Kolaborasi Perusahaan Bus untuk Tingkatan Nilai Tambah
Pos Fohuk Satgas Yonif 742/SWY Berikan Penyuluhan Tentang Bela Negara Kepada Warga Perbatasan
Menperin: Pembentukan Satgas Impor Ilegal Dukung Industri Manufaktur Indonesia
Minimalisir Dampak Kerugian Ekonomi, Menko Airlangga Tekankan Pentingnya Antisipasi Bencana Secara Efektif dan Berkesinambungan
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
vps.indonews.id