INDONEWS.ID

  • Rabu, 31/05/2023 20:31 WIB
  • SMRC: Yang Menolak Coldplay Karena Band Itu Dukung Hak-hak LGBT Sangat Kecil

  • Oleh :
    • very
SMRC: Yang Menolak Coldplay Karena Band Itu Dukung Hak-hak LGBT Sangat Kecil
Mayoritas publik Indonesia menerima rencana kedatangan Coldplay. (Foto: antara)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Mayoritas publik Indonesia menerima rencana kedatangan Coldplay. Secara politik dan sosial, rencana kedatangan band asal Inggris tersebut di Indonesia diterima. Secara politik, mayoritas pendukung semua partai dan bakal calon presiden (bacapres) bersikap terbuka tarhadap kedatangan mereka. Secara sosial, hampir semua pemeluk agama dan berbagai kelompok sosial lain juga bersikap demikian.

Baca juga : Meski Dikampanyekan Partai Jokowi, PSI Hanya Mampu Menarik 3 Persen Pemilih Puas Jokowi

Demikian temuan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang bertajuk “Sikap Publik atas Rencana Konser Coldplay di Indonesia” yang yang dipresentasikan Direktur Riset SMRC, Deni Irvani, melalui kanal YouTube SMRC TV pada Selasa, 30 Mei 2023.

Video presentasi survei tersebut bisa disimak di sini: https://youtu.be/woTA-PtXjAE

Baca juga : Quick Count SMRC: 8 Partai Lolos, 1 Partai Tidak Konklusif, 9 Partai Tidak Lolos ke Senayan

Survei yang dilakukan melalui telepon pada 23-24 Mei 2023 itu menunjukkan sekitar 33 persen warga yang tahu bahwa Coldplay akan konser di Jakarta pada November 2023 nanti.

Dari yang tahu, 84 persen berpendapat bahwa band tersebut boleh datang untuk konser di Indonesia karena musiknya, bukan sikap mereka terhadap kelompok minoritas seksual LGBT. Yang menolak konser Coldplay karena band tersebut mendukung hak-hak LGBT hanya 9 persen, atau hanya sekitar 3 persen dari total populasi. Sementara yang tidak punya sikap 7 persen.

Baca juga : Program Ganjar-Mahfud Tentang 1 Keluarga Miskin 1 Sarjana Unggul, Program Prabowo-Gibran Soal Makan Siang Gratis Dinilai Tidak Penting

“Secara umum tidak ada penolakan yang signifikan terhadap konser band Coldplay. Yang menolak konser Coldplay karena band tersebut mendukung hak-hak LGBT jumlahnya sangat kecil,” jelas Deni.

Lebih jauh, survei ini juga menemukan bahwa secara politik (dukungan partai dan bacapres) dan sosial, kedatangan Coldplay diterima. Mayoritas pemilih partai politik di Indonesia dan pendukung tiga bacapres (Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto) menyatakan Coldplay boleh datang ke Indonesia karena musiknya, bukan sikap mereka tentang LGBT.

Secara sosial, lanjut Deni, penerimaan pada kehadiran band dengan vokalis Chris Martin itu di Indonesia juga kuat di hampir semua pemeluk agama dan pelbagai kelompok sosial.

“Pandangan sekelompok elite yang menolak konser Coldplay karena band tersebut dinilai mendukung hak-hak LGBT tidak mencerminkan sikap publik,” kata Deni.

Lebih jauh Deni menyatakan bahwa berita di berbagai media menunjukkan antusiasme yang tinggi dari para penggemar Coldplay untuk bisa nonton konser band tersebut. Ini tidak mengherankan, kata Deni, karena survei ini menemukan sangat banyak warga yang menyukai band ini. Dari 41 persen yang tahu atau pernah dengar nama band ini, 51 persen di antaranya yang menyatakan suka. Hanya 39 persen yang tidak suka dan 10 persen tidak menjawab. Dari total populasi sekitar 200 juta orang warga dewasa secara nasional, maka diperkirakan ada sekitar 40 juta warga dewasa yang menyukai band ini.

Tingkat kesukaan (likeability) pada Coldplay lebih tinggi pada warga di perkotaan, berusia lebih muda, pendidikan lebih tinggi, dan berpendapatan lebih besar. Coldplay juga merupakan band dunia yang paling digemari masyarakat Indonesia saat ini. Ada sekitar 5,1 persen warga yang secara spontan menyebut Coldplay sebagai band internasional yang paling disukai, di atas nama-nama band lainnya.

Survei ini dilakukan pada pemilih kritis. Deni menjelaskan bahwa “pemilih kritis” adalah pemilih yang punya akses ke sumber-sumber informasi sosial-politik secara lebih baik karena mereka memiliki telepon atau cellphone sehingga bisa mengakses internet untuk mengetahui dan bersikap terhadap berita-berita sosial-politik. Mereka umumnya adalah pemilih  kelas menengah bawah ke kelas atas, lebih berpendidikan, dan cenderung tinggal di perkotaan. Mereka juga cenderung lebih bisa memengaruhi opini kelompok pemilih di bawahnya. Total pemilih kritis ini secara nasional diperkirakan 80%.

Pemilihan sampel dalam survei ini dilakukan melalui metode random digit dialing (RDD). RDD adalah teknik memilih sampel melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak. Dengan teknik RDD sampel sebanyak 915 responden dipilih melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak. Margin of error survei diperkirakan ±3.3% pada tingkat kepercayaan 95%, asumsi simple random sampling. Wawancara dengan responden dilakukan lewat telepon oleh pewawancara yang dilatih. Survei terakhir dilakukan pada 23-24 Mei 2023. ***

 

Artikel Terkait
Meski Dikampanyekan Partai Jokowi, PSI Hanya Mampu Menarik 3 Persen Pemilih Puas Jokowi
Quick Count SMRC: 8 Partai Lolos, 1 Partai Tidak Konklusif, 9 Partai Tidak Lolos ke Senayan
Program Ganjar-Mahfud Tentang 1 Keluarga Miskin 1 Sarjana Unggul, Program Prabowo-Gibran Soal Makan Siang Gratis Dinilai Tidak Penting
Artikel Terkini
Lonjakan Suara PSI Tak Masuk Akal, Koalisi Masyarakat Sipil: Masifkan Tenanan Publik untuk Hentikan Despotisme dan Dinasti Politik
BNPP Tingkatkan Koordinasi dan Fasilitasi Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Kepulauan Riau
Realese Single Album Kelima, Ry Hyori ingin `Bintang` Jadi Inspirasi banyak Orang
Menteri ATR/Kepala BPN: Selamat Ulang Tahun ke-62 Kopaska
Direktur Pol PP dan Linmas Kemendagri Hadiri Upacara Gelar Pasukan Memperingati HUT ke-74
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
legolas