Lebih muda 50 tahun di sebuah hotel Kebayoran
Lebih muda 50 tahun di sebuah hotel Kebayoran
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Penulis : Bunga Kejora, jurnalis
Sekitar 100 orang yang hadir di acara ini memang berumur 64-66 tahun, tapi seakan memasuki terowongan waktu kembali ke masa Sekolah Menengah Pertama. Ketika 50 tahun lalu masih sama2 bersekolah di SMP 1 Cikini Raya dan jajan di warung bakso pak Sipan di sudut bangunan.
Nostalgia ttg kelas, guru2 dan teman sebangku menjadi trending topik di antara mereka sejak sebelum hari H.
Ari Bachtiar purnawirawan jenderal polisi bintang 2, yang ketua alumni 74, merancang banyak kegiatan sebelum hari H, Reuni Akbar 50 Tahun Alumni SMP 1 angkatan 74, Minggu 10 November siang.
Pemanasan acara dengan jalan pagi bersama sejak lima bulan sebelumnya, 2 minggu sekalim Ari juga mengajak alumni berziarah ke makam mereka yang tak lagi bisa berkumpul. Semula Ari hanya mendata 6 orang di 4 TPU, ternyata setelah acara berlalu, satu sama lain alumni bertukar info dan baru tersadar ada 42 alumni yang sudah meninggal.
Dulu, di tingkat 1 ada 6 kelas dengan 40 murid lebih per kelas. Ari ingin alumni tersambung lagi lewat acara ini karena bisa saja ada yang terus berteman sampai ke tingkat sekolah di atasnya.
Maklumlah kala itu, tahun 70an, jumlah sekolah masih terbatas dan penduduk lebih sedikit. "Tapi ada yg meski satu sekolah, tapi jarang berjumpa, dan ada yang sama sekali tak pernah bertemu lagi karena berbeda kota atau pindah ke luar negeri, " katanya dalam sambutan acara puncak di Hotel Grandhika dihadapan sekitar 100 hadirin.
Salah satu alumni, dokter tulang kenamaan, Luthfi, dari Gatam Institut Eka Hospital membawa timnya untuk menyediakan pengecekan gratis kesehatan memantau kondisi gula darah,kolesterol dll peserta reuni sebagai bonus. Titiek Soeharto, ketua komisi 4 DPR berhalangan hadir karena di luar kota mengirim salam lewat pesan whattsap.
Lomba di acara reuni berlangsung meriah, tanpa " jaim" ; pindah cangkir, lomba joged, sambung kata, lengkap dengan disko bareng dan saweran manortor. DJ sengaja memilih lagu2 disko yang populer di tahun 70. Semua, menang dan kalah, dapat hadiah. Door prizenya tiket pesawat dan bermalam di hotel.
Yang menarik dalam rangkaian acara hari H ini ada lomba jalan kaki ( run) dan naik sepeda ( ride) yang terbuka umum.
Ari Bachtiar yang semasa sekolah pendiam dan serius dibantu Ady Hersetiady, siswa terganteng di angkatannya, meluncurkan lomba Virtual Run and Ride. Kata Ari ide itu terinspirasi perlombaan saat Covid melanda, dan banyak pembatasan.
Peserta tidak berlomba di satu lokasi pada suatu saat, tapi bisa ikut lomba kapan saja, tengah hari, pagi atau malam dengan pencatatan langkah dan kilometer lewat aplikasi Strava di HP. App itu mencatat dan kemudian disambung ke app lain Beyond yang menerima upload data.
Semula panitia hanya memberi target 25 km untuk jalan kaki dan 250 km untuk bersepeda, dalam kurun waktu satu bulan. Lomba jalan diikuti 160 peserta. Uang pendaftaran dimanfaatkan sebagai bakti sosial bagi penyandang disabilitas.
Suasana antar peserta tampak seru saat melihat posisi masing2 di grup wa.Saling bersaing, dalam persaingan sehat. Ada yg sehari bisa 5 km atau 10 ribu langkah. Ada yg hanya setengahnya dan seterusnya. Akhirnya di puncak acara medali emas jalan kaki dikalungkan ke Rina Hamid Gruno, oma dari 6 cucu, yang sanggup berjalan 223 km dalam sebulan, disusul dokter THT Dini Widiarni.
Tak terasa ada teman-teman yang menjadi kawan hampir seumur hidup kita.