indonews

indonews.id

Dagang di Lokasi Terlarang, Kaki Lima Rusak Keindahan Ancol

Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews

Jakarta, INDONEWS.ID - Keindahan akan terhapus bila ada sedikit noda, begitulah kita menilai sesuatu yang enak dipandang. Kondisi itu mirip lokasi wisata Taman Impian Jaya Ancol meski sudah ditata sedemikian rupa namun ada spot yang merusak keindahan tersebut Jejeran pedagang kaki lima di trotoar pantai timur Ancol, meski ada larangan tegas terpampang di dekat mereka.

Keberadaan Ancol tak lagi sama seperti 30 tahun lalu, dimana Ancol sempat menjadi ikon pariwisata Jakarta, bahkan siapapun yang datang ke Jakarta tapi belum menginjakan kaki di pantai pasir putih Ancol dianggap belum ke Jakarta. Saat ini Ancol bukan Ancol yang dahulu, keindahan pantai pasir putihnya tak lagi menarik bagi masyarakat, ditambah area pantai timurnya ada pemandangan yang mengganggu.

Hal yang merusak pemandangan itu, banyak lapak pedagang kaki lima dengan gerobak seadanya di area pantai timur, salah satu lokasi favorit wisatawan. Mereka menjajakan aneka minuman, makan ringan, hingga aksesoris dan sovenir khas lokasi wisata.

Pedagang kaki lima di pantai timur Ancol, sepertinya sudah cukup lama di area tersebut, dan mereka saling menyapa satu sama lain. Sementara tak jauh dari area mereka berdagang ada petugas keamanan, namun para pedagang itu tidak ditegur meski tertera larangan tak boleh berdagang di area tersebut.

Bila kondisi itu tetap dibiarkan dikawatirkan bakal menimbulkan keresahan, boleh jadi timbul konflik sesama pedagang di Ancol kerena kecemburuan terkait lokasi berdagang. Apa dikawatirkan ternyata terjadi, ketika berkunjung ke sana, ada konflik antar pelaku usaha di Ancol. Terjadi penganiayaan, seorang penjual foto dipukuli dua pedagang karena persoalan sepele.

Korban bernama Ali bercerita, saat berjalan di area pantai timur, tiba-tiba ia dihadang dua pedagang di sana. Tanpa ada percakapan, satu dari pedagang itu membekap tangan korban, lalu pedagang satu lagu langsung memukuli wajah korban berulang kali. Setelah puas memukuli korban dilepas dan diusir pergi.

Kenapa korban dipukuli hingga babak belur, menurutnya, dua pedagang yang memukuli dirinya merasa kesal karena tak mendapat bagian dari hasil penjualan tiket salah satu wahana di Ancol. Pengakuan korban, dirinya pun tak mendapat untung dari penjualan itu, ia hanya membantu me jualkan tiket.

Meski hal itu sudah dijelaskan namun kedua pelaku tak percaya dengan perkataan korban, beberapa hari setelah penjualan tiket, korban dipukuli hingga bagian matanya lebam dan bengkak, darah segar keluar dari hidungnya, serta telinganya sempat kehilangan pendengaran akibat menerima pukulan pelaku.

Ini baru kekerasan antar pelaku usaha, bisa saja peristiwa penganiayaan itu terjadi pada wisatawan yang bisa menimbulkan keresahan masyarakat yang akhirnya berimbas pada keberadaan Taman Impian Jaya Ancol, ditinggal masyarakat.

Tercorengnya kenyamanan dan keindahan Ancol, menurut kabar, akibat ada ketidakharmonisan antara pengelola lokasi wisata di teluk Jakarta. Sehingga kurangnya pengawasan di segala aspek, baik di internal maupun eksternal. Meski diberitahu terkait keindahan Ancol tercoreng, pihak pengelola mendiamkan saja seperti disengaja.

Sampai kapan kondisi seperti itu didiamkan, apakah sampai menunggu ada kekerasan terhadap wisatawan atau sampai ada yang terengut nyawanya akibat kecemburuan antara sesama pelaku usaha di lokasi wisata Taman Impian Jaya Ancol.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas