Trump Disebut Bakal Gunakan ‘Istana Terbang’ dari Qatar sebagai Air Force One, Picu Polemik di AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan akan segera memiliki pesawat kepresidenan baru yang mewah, berupa Boeing 747-8 senilai USD 400 juta (sekitar Rp 6,6 triliun), yang sebelumnya dimiliki oleh keluarga kerajaan Qatar. Pesawat yang dijuluki sebagai “istana terbang” itu disebut akan digunakan sebagai Air Force One.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan akan segera memiliki pesawat kepresidenan baru yang mewah, berupa Boeing 747-8 senilai USD 400 juta (sekitar Rp 6,6 triliun), yang sebelumnya dimiliki oleh keluarga kerajaan Qatar. Pesawat yang dijuluki sebagai “istana terbang” itu disebut akan digunakan sebagai Air Force One.
Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh New York Post dan ABC News, menyebutkan bahwa pengumuman resmi rencana tersebut akan dilakukan saat Trump mengunjungi Qatar dalam rangkaian lawatannya ke Timur Tengah minggu ini, termasuk kunjungan ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
Namun, pernyataan resmi dari Atase Media Kedutaan Qatar di AS, Ali Al-Ansari, membantah kabar bahwa pesawat tersebut akan menjadi hadiah kepada pemerintah AS. “Laporan bahwa Qatar akan menghadiahkan pesawat kepada pemerintah AS selama kunjungan Presiden Trump mendatang tidak akurat,” katanya kepada New York Post.
Meski demikian, ia mengonfirmasi bahwa pihak Kementerian Pertahanan Qatar dan AS memang sedang membahas kemungkinan transfer pesawat tersebut sebagai Air Force One, namun belum ada keputusan final. “Masalah tersebut masih dalam peninjauan oleh departemen hukum masing-masing,” ujarnya.
Pesawat Boeing 747-8 itu sebelumnya digunakan oleh keluarga kerajaan Qatar, dan Trump dikabarkan telah melihatnya secara langsung di Bandara Internasional West Palm Beach pada Februari lalu. Pemerintah AS bahkan telah menunjuk kontraktor pertahanan L3Harris untuk menyempurnakan pesawat tersebut agar memenuhi standar operasional Air Force One.
Rencana ini langsung menuai kritik tajam dari kalangan Demokrat. Anggota DPR AS dari Bronx, Ritchie Torres, menyuarakan keprihatinan mendalam. “Yang sama meresahkannya dengan hadiah itu sendiri adalah identitas si pemberi,” ujar Torres, mengingat Qatar dianggap bukan aktor netral di panggung geopolitik global.
Senator senior Chuck Schumer juga mengecam langkah pemerintahan Trump, mengingat sensitifnya hubungan diplomatik dan potensi konflik kepentingan. Sementara itu, pejabat militer AS menyatakan bahwa armada Air Force One saat ini, yang terdiri dari dua Boeing 747-200 yang telah digunakan sejak 1990-an, sudah membutuhkan pembaruan dan idealnya ditambah satu pesawat lagi sebagai cadangan.
Pengadaan pesawat ketiga ini selama ini tersendat akibat pembengkakan biaya dan penundaan produksi dari pihak Boeing. Bahkan CEO Tesla Elon Musk disebut ikut dilibatkan oleh Trump untuk mencari solusi atas keterlambatan tersebut.
Sumber dari Gedung Putih menyatakan bahwa Jaksa Agung Pam Bondi dan Penasihat Hukum Gedung Putih David Warrington telah meninjau aspek legal rencana ini, dan menyimpulkan bahwa secara hukum hal tersebut memungkinkan dilakukan.*