indonews

indonews.id

Simak Alasannya! TNI Memilih Mundur Saat Diserang WNA China di Ketapang

Komando Daerah Militer (Kodam) XII/Tanjungpura mengonfirmasi adanya insiden penyerangan terhadap prajurit TNI oleh sejumlah warga negara asing (WNA) asal China di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Penyerangan tersebut melibatkan penggunaan senjata tajam hingga airsoft gun.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Komando Daerah Militer (Kodam) XII/Tanjungpura mengonfirmasi adanya insiden penyerangan terhadap prajurit TNI oleh sejumlah warga negara asing (WNA) asal China di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Penyerangan tersebut melibatkan penggunaan senjata tajam hingga airsoft gun.

Kepala Penerangan Kodam XII/Tanjungpura Kolonel Infanteri Yusub Dody Sandra mengatakan, para WNA menyerang prajurit TNI menggunakan parang, airsoft gun, serta satu alat kejut listrik.
“Mereka menyerang anggota menggunakan senjata tajam berupa parang, airsoft gun, dan satu alat kejut listrik,” ujar Yusub Dody di Pontianak, Selasa (16/12/2025).

Melihat situasi yang tidak berimbang dan berpotensi membahayakan keselamatan, prajurit TNI mengambil langkah taktis dengan menghindari eskalasi konflik terbuka. Aparat kemudian mundur ke area perusahaan untuk mengamankan situasi sekaligus melaporkan kejadian tersebut ke komando atas.

Akibat insiden itu, satu unit mobil perusahaan jenis Toyota Hilux mengalami rusak berat. Selain itu, satu unit sepeda motor Honda Vario milik karyawan PT SRM juga turut dirusak.

Insiden tersebut terjadi pada Ahad (14/12/2025) sekitar pukul 15.40 WIB, saat prajurit dari Batalyon Zipur 6/SD tengah melaksanakan Latihan Dalam Satuan di sekitar area perusahaan. Kejadian bermula ketika empat prajurit menerima laporan dari petugas keamanan PT SRM terkait adanya aktivitas drone tak dikenal yang terbang di area latihan militer.

Menindaklanjuti laporan itu, keempat prajurit mendatangi lokasi yang diduga menjadi titik pengoperasian drone. Di lokasi, mereka menemukan empat WNA asal China yang tengah mengendalikan drone tanpa izin. Namun, ketika prajurit berupaya meminta keterangan secara prosedural, sebelas WNA lainnya datang dan langsung melakukan penyerangan secara agresif.

Kodam XII/Tanjungpura menduga insiden tersebut berkaitan dengan persoalan internal di PT SRM. Perusahaan itu diketahui telah mengalami perubahan kepemilikan dan manajemen yang sah secara hukum. Manajemen baru disebut tidak pernah memberikan izin kepada tenaga kerja asing untuk melakukan aktivitas operasional di lingkungan perusahaan.

Pemerintah Pusat Turun Tangan

Kasus kerusuhan yang melibatkan warga negara asing ini mendapat perhatian pemerintah pusat. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Imigrasi, Yuldi Yusman, mengatakan sebanyak 26 WNA telah diamankan dan dibawa ke Kantor Imigrasi Ketapang.

“Perkembangan penanganan yang ada di Ketapang, saat ini kami dari pusat sudah turun, tentunya dengan dibantu oleh imigrasi yang ada di Ketapang,” ujar Yuldi dalam konferensi pers pada Selasa (16/12/2025).

Ia menjelaskan, tim dari kantor pusat Direktorat Jenderal Imigrasi telah diterjunkan ke lokasi untuk berkoordinasi dengan aparat setempat, termasuk Kodim, Polres, Polsek setempat, serta Mabes TNI. Saat ini, kerusuhan tersebut masih dalam penyelidikan kepolisian guna mendalami dugaan pelanggaran pidana.

“Untuk WNA-nya saat ini sudah diamankan di Kantor Imigrasi Ketapang,” kata Yuldi.

Yuldi menambahkan, jumlah WNA yang diamankan berpotensi bertambah. Dari total sekitar 34 orang yang berada di lokasi, sementara ini 26 orang telah diamankan. Namun, pihaknya masih memastikan kewarganegaraan seluruh WNA tersebut.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang diperoleh, 26 warga asing yang diamankan diketahui merupakan warga negara China.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas