indonews

indonews.id

Setan Alas, Ketika Film Mengkritik Film

Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews

Jakarta, INDONEWS.ID - Menelanjangi pakem hal yang lumrah apalagi untuk pembelajaran masyarakat kita yang kadang phobia dengan hal-hal menyeramkan. Setan Alas, film yang Fuadi memberi pemahaman penonton terkait sesuatu yang 'wajib' ada di film horor, karya Yusron ini film bisa dianggap genre baru perfilman nasional, campuran antara thriller, komedi dan romantis. 

Film produksi UGM Sekolah Vokasi dan Lodhongkrupuk Vfx menggelar premmier di XXI Epicentrum, Jakarta. Hadir jajaran produser, sutadara dan pemain antara lain, Anastasia Herzigova, Adhin Abdul Karim, Haydar Salishz, Ibrahim Alhami, Winner Wijaya, dan Anggi Waluyo. 

Bila mengacu film horor yang ada unsur mistiknya, Setan Alas bukan tergolong film horor meski pengarahnya mengaku film meta horor. Di film ini tak ada sosok hantu atau bayangan gelap nan melayang-layang, yang ada sekumpulan zombie mengganggu 4 mahasiswa yang tengah menikmati masa libur kuliah di vila tua. 

Zombie sendiri sosok rekayasa Holywood yang populer di era 80-an, faktanya hingga saat ini kita tak pernah menemukan atau mendengar cerita tentang zombie, cerita kuntilanak banyak sekali. 

Setan Alas berbeda dari kebayakan film nasional, film mengisahkan 5 mahasiswa yang nasibnya tergantung penulis skenario. Film yang menceritakan film, satu pemainnya dimatikan lalu dihidupkan lagi karena kematian pertama dianggap kurang cocok untuk film horor. Lalu ia hidup lagi dan mati sesuai skenario yang benar dari penulis. 

Diawali perjalanan 5 mahasiswa menuju vila tua di kawasan puncak, di vila itulah satu mahasiswa mati dengan pisau menancap di dada kirinya. Paniklah ke-4 kawannya, ingin meminta polisi datang sinyal HP tak dapat, dan vila jauh dari perkampungan penduduk. Satu-satunya bantuan hanya ke penjaga vila tapi ia tak bisa membantu karena mati dengn posisi mayatnya tergantung di langit-langit kamar. 

Ditengah kepanikan mereka memutuskan untuk pergi dari vila tersebut, namun jalur yang mereka tempuh berujung di jurang, akhirnya mereka kembali. Dan Amir mahasiwa teknik menyadari bila mereka ada di sebuah film dengan melihat kejanggalan, penjaga vila hidup lagi, jalan menuju vila tak bertemu perkampungan, dan vila ada di tengah hutan. Persis di film horor yang sering mereka tonton. 

Setiap kata yang diucapkan Amir membuat penonton tertawa, mereka tertawa karena menyadari bahwa dirinya sudah ditipu alur film horor seperti yang diungkap Amir dalam monolognya. 

Amir pun membuka rahasia untuk mereka bebas dari kematian, dengan menghindar dari kebiasaan film horor lokal, agar si penulis skenario mencari ide baru di film horornya, tak cuma itu-itu saja. Salah satu kritikan Setan Alas pada film horor. 

Ide Amir sukses, si skenario pusing hingga ditegur produser untuk secepatnya menyelesaikan skenarionya, bila tidak ia akan diganti Joko Anwar (sutradara film horor, garapannya kerap diacungkan jempol). 

Skenarionya berubah bukan lagi hantu lokal yang biasa di film horor, tapi kumpulan zombie yang merangsek ke vila. Sebelum scene zombie datang ke vila, beberapa kali gimik ikon zombie diperagakan  3 orang. Gimiknya merobekan mulut dengan dua tangan, bahkan kamera menshoot dari dekat gimik tersebut. 

Ke-4 empatnya mempersiapkan senjata perlawanan, senapan serbu, pistol, ranjau dan senjata tradisional. Habislah zombie itu ditembaki mereka, zombie yang tersisa disapu Wita dengan senjata serbunya dari atap vila. 

Film diakhir dengan robohnya zombie terakhir, dan 4 mahasiswa itu masih terjebak di vila. Dan film ini punya sekuelnya (lanjutan) dengan judul Brantas Setan Alas, yang produksinya juga sudah selesai hanya menunggu jadwal tayang perdana.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas