indonews

indonews.id

Donny Oskaria Tegaskan Salah Kutip, BUMN Bukan Rugi tapi Untung Rp332 Triliun

KEPALA Badan Pengelola BUMN sekaligus COO BPI Danantara, Donny Oskaria, menegaskan adanya salah kutip terkait pemberitaan kinerja BUMN. Menurut Donny, BUMN kerap ditulis merugi, padahal secara agregat justru mencatatkan keuntungan besar.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Kepala Badan Pengelola BUMN sekaligus COO BPI Danantara, Donny Oskaria, menegaskan adanya salah kutip terkait pemberitaan kinerja BUMN. Menurut Donny, BUMN kerap ditulis merugi, padahal secara agregat justru mencatatkan keuntungan besar.

“Sebetulnya BUMN itu untung,” kata Donny dalam acara Economic Outlook 2026, Kamis (12/2/2026). “Bahkan tidak ada perusahaan yang untungnya lebih besar daripada BUMN secara akumulasi,” ujarnya menambahkan.

Donny memaparkan, sepanjang 2025 BUMN membukukan laba mencapai Rp 332 triliun. Kontribusi terbesar datang dari 10 BUMN raksasa, yakni Bank Rakyat Indonesia, Pertamina, Bank Mandiri, Mind ID, Telkom Indonesia, Bank Negara Indonesia, PLN, Bank Syariah Indonesia, Pelindo, serta Jasa Marga.

Pada 2026, Donny menargetkan laba BUMN meningkat menjadi Rp360 triliun. “Dan tahun ini saya targetkan 360 triliun untungnya,” kata dia.

Kinerja tersebut, lanjut Donny, tercermin dalam daftar Fortune 500. Dalam daftar itu, PT Danantara Asset Management menyumbangkan 10 perusahaan dengan total pendapatan mencapai US$110 miliar.

Menurut Donny, Danantara—yang menaungi BUMN-BUMN berkapitalisasi jumbo—memiliki total ekuitas sekitar Rp3.000 triliun dan aset Rp14.000 triliun. “Itu perusahaan yang luar biasa besarnya. Tentu kita ingin return-nya lebih tinggi lagi. Kalau sekarang untungnya Rp 360 triliun, harapan Bapak Presiden mestinya bisa Rp600 triliun. Karena itu kita bekerja keras untuk mewujudkannya,” ujarnya.

Isu laba-rugi BUMN sebelum terbentuknya Danantara sebelumnya kerap disampaikan Menteri BUMN Erick Thohir pada periode 2019–2024. Terakhir pada November 2024, Erick menyebut masih ada tujuh dari 47 BUMN yang mencatatkan kinerja keuangan negatif.

“Dari 47 BUMN, sekarang 40 sehat. Ada tujuh yang memang kita harus kerja keras untuk beberapa tahun ke depan,” kata Erick saat itu di Jakarta.

Ketujuh BUMN tersebut adalah Krakatau Steel, Bio Farma, Wijaya Karya, Waskita Karya, Asuransi Jiwasraya, Perumnas, dan Perum Percetakan Negara Republik Indonesia.

Erick menjelaskan, Krakatau Steel sebenarnya telah direstrukturisasi sejak 2019, namun sempat terdampak kebakaran yang mempengaruhi operasional. Bio Farma menghadapi tantangan penugasan pengadaan vaksin COVID-19 serta kasus fraud di anak usahanya, Indo Farma.

Sementara itu, Wijaya Karya dan Waskita Karya tengah menjalani restrukturisasi lanjutan, termasuk rencana konsolidasi BUMN karya. Untuk Jiwasraya, Erick menyebut prosesnya semakin membaik dan menunggu likuidasi. Adapun Perumnas akan mengubah model bisnis dari rumah tapak ke hunian vertikal, sedangkan PNRI akan direstrukturisasi agar mampu bersaing di pasar terbuka.

Ke depan, Kementerian BUMN berencana melanjutkan penyederhanaan jumlah perusahaan pelat merah dari 47 menjadi 30 BUMN, yang dikelompokkan ke dalam 11 klaster usaha.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas